""

www.mandailing.org

versi bahasa malaysia / indonesia | english version

Pengantar | Introduction

 

bahasa malaysia \ indonesia

english

 

Abdur-Razzaq Lubis
Malaysia & Singapore Representative,
Mandailing All Clans Assembly (HIKMA)
BLOG BLOGS
Pendiri Horas Mandailing kini jadi blogger

Bumi Bebas http://bumibebas.blogspot.com/
Horas Madina http://horasmadina.blogspot.com/
Amal Madina http://amalmadina.blogspot.com/
Malungun http://malungun.wordpress.com/


Istilah baku Mandailing juga dieja seperti Mengdelling, Mandahiling, Mendeheleng, Mandheling, Mandiling, Mandaling, Mendeleng, dll.. Dari segi sejarah, orang Mandailing melihat jati diri mereka sebagai kelompok etnis/bangsa yang terpisah dan berbeda/berlainan dari kelompok etnis Batak di Indonesia maupun Melayu di Malaysia.

Klasifikasi sensus yang mengkategorikan Mandailing sebagai Batak di Hindia Timur Belanda dibuat atas 'dasar menyendal/mencopet' untuk memisahkan Aceh dan Minangkabau yang Islam dari 'Tanah Batak', wilayah pemisah ciptaan pemerintah kolonial. Sementara di British Malaya, orang Mandailing dikategorikan sebagai Melayu semata-mata untuk 'kesenangan pentadbiran/administratif' yang pramatis.

'Sangkalon' adalah lambang keadilam dalam masyarakat Mandailing. Patung ini juga dipanggil 'si pangan anak si pangan boru' (si pemakan anak lelaki, si pemakan anak perempuan), yang melambangkannya suatu
sikap atau nilai budaya bahwa demi tegaknya keadilan anak kandung sendiri harus dibunuh kalau ternyata melakukan kesalahan yang menuntut hukuman itu. Dengan perkataan lain, keadilan tidak pilih kasih.

Isi versi Bahasa Malaysia/Indonesia dan bahasa Inggeris tidak sama. Sila kunjungi kedua versi untuk mendapatkan gambaran yang selengkapnya.


The now standard Mandailing has been variously spelt as Mengdelling, Mandahiling, Mendeheleng, Mandheling, Mandiling, Mandaling, Mendeleng, etc.. The Mandailing historically see themselves as a distinct and separate ethnic group from the Batak in Indonesia and the Malay in Malaysia.The census categorization of the Mandailing as Batak in the Dutch East Indies was in pursuant of a 'wedge policy' to separate the Islamic bulwark of Aceh and Minangkabau from the so-called 'Batakland'. In British Malaya the categorization of the Mandailing as Malay was done in the name of pragmatic 'administrative convenience'.

'Sangkalon' is a symbol of justice in Mandailing society. It is a mythical creature that 'devours its own son, devours its own daughter' (si pangan anak si pangan boru), symbolizing the Mandailing ideal that even the Raja's own child should be judged and punished if he or she has committed a crime. A pair of Sangkalon sculptures is placed at the
entrance to the Council Hall, reminding all who enter that 'justice is blind'.

The contents of the Bahasa Malaysia/Indonesia and English versions are not identical. Please visit both versions to get a fuller picture.

Top photo of Lubis by Steven Lee

BUKU BOOKS


www.arecabooks.com

Isi situs ini tanggung jawap penulis masing masing
The contents of this site is the reponsability of the respective contributors

 

versi Januari 2008