|
Istilah baku Mandailing juga dieja seperti Mengdelling,
Mandahiling, Mendeheleng, Mandheling, Mandiling, Mandaling,
Mendeleng, dll.. Dari segi sejarah, orang Mandailing melihat
jati diri mereka sebagai kelompok etnis/bangsa yang terpisah
dan berbeda/berlainan dari kelompok etnis Batak di Indonesia
maupun Melayu di Malaysia.
Klasifikasi sensus yang mengkategorikan Mandailing sebagai
Batak di Hindia Timur Belanda dibuat atas 'dasar menyendal/mencopet'
untuk memisahkan Aceh dan Minangkabau yang Islam dari 'Tanah
Batak', wilayah pemisah ciptaan pemerintah kolonial. Sementara
di British Malaya, orang Mandailing dikategorikan sebagai
Melayu semata-mata untuk 'kesenangan pentadbiran/administratif'
yang pramatis.
'Sangkalon' adalah lambang keadilam dalam masyarakat Mandailing.
Patung ini juga dipanggil 'si pangan anak si pangan boru'
(si pemakan anak lelaki, si pemakan anak perempuan), yang
melambangkannya suatu
sikap atau nilai budaya bahwa demi tegaknya keadilan anak
kandung sendiri harus dibunuh kalau ternyata melakukan kesalahan
yang menuntut hukuman itu. Dengan perkataan lain, keadilan
tidak pilih kasih.
Isi
versi Bahasa Malaysia/Indonesia dan bahasa Inggeris tidak
sama. Sila kunjungi kedua versi untuk mendapatkan gambaran
yang selengkapnya.
The
now standard Mandailing has been variously spelt as Mengdelling,
Mandahiling, Mendeheleng, Mandheling, Mandiling, Mandaling,
Mendeleng, etc.. The Mandailing historically see themselves
as a distinct and separate ethnic group from the Batak in
Indonesia and the Malay in Malaysia.The census categorization
of the Mandailing as Batak in the Dutch East Indies was
in pursuant of a 'wedge policy' to separate the Islamic
bulwark of Aceh and Minangkabau from the so-called 'Batakland'.
In British Malaya the categorization of the Mandailing as
Malay was done in the name of pragmatic 'administrative
convenience'.
'Sangkalon'
is a symbol of justice in Mandailing society. It is a mythical
creature that 'devours its own son, devours its own daughter'
(si pangan anak si pangan boru), symbolizing the Mandailing
ideal that even the Raja's own child should be judged and
punished if he or she has committed a crime. A pair of Sangkalon
sculptures is placed at the
entrance to the Council Hall, reminding all who enter that
'justice is blind'.
The
contents of the Bahasa Malaysia/Indonesia and English versions
are not identical. Please visit both versions to get a fuller
picture.
Top
photo of Lubis by Steven Lee
|