|
Setiap
Huta mempunyai sebidang tanah perkuburan. Kebiasaannya letaknya
di luar Huta, tampi masih mudah didatangi. Selain daripada
tanah perkuburan, di sekitar Huta biasanya terdapat pula tanah
perkuburan makam-makam leluhur yang mula-mula membuka Huta
tertentu. Pada masa lampau, walaupun tidak dengan cara-cara
yang khusus dan istimewa, tempat makam leluhur dihormati oleh
penduduk Huta. Meskipun tidak merupakan suatu tradisi yang
mengikut, tetapi kalau Raja atau anggota keluarga Raja meninggal
dunia, mereka dikebumikan di pemakaman leluhur.
Di tanah-tanah perkuburan kuno yang dipanggil
lobu atau huta lobu banyak terdapat patung batu. Dalam bahasa
Mandailing, patung ini disebut batu tagor, yang menurut kepercayaan,
dapat memberi tanda (isyarat) dengan suara gemuruh apabila
akan terjadi sesuatu hal kepada keluarga raja. Selain batu
tagor terdapat patung yang dinamakan batu pangulu balang yang
biasanya terdapat di sudut desa, yang menurut kepercayaan,
menjaga desa dan akan memberi pertanda apabila ada sesuatu
yang akan menganggu penduduk. Patung-patung batu tagor dan
batu panghulu balang, yang diakui oleh orang-orang Mandailing
sebagai warisan nenek moyang mereka kelihatannya sama sekali
berbeda dari patung-patung peninggalan zaman Hindu dan Buddha.
Tempat yang bernama Padang Mardia, terletak
lebih kurang 2 km dari pasar Panyabungan sekarang, dahulunya
terdapat banyak patung-patung batu dan kuburan kuno. Patung
batu yang dahulunya banyak terdapat di tempat tersebut lama-kelamaan
menjadi punah kerana dirusakkan oleh penduduk sekitarnya yang
anti "berhala". Kini yang masih tersisa hanya beberapa
kuburan kuno dan pecahan-pecahan patung batu.
|

Kubur
di kompleks Raja Junjungan Huta Godang, Mandaling Julu
(Foto Peter Zabielskis)

Kubur
Marga Nasution di Panyabungan Tonga-Tonga, Mandailing Godang
(Foto Abdur-Razzaq Lubis)

Makamnya
Raja Junjungan Lubis di Sayurmainchat, Mandailing Julu
(Foto Abdul-Razzaq Lubis) |