Caption: Sopo Godang
Credit: M.Dolok Lubis |
Bagas Godang (Rumah
Raja) senantiasa dibangun berpasangan dengan sebuah
balai sidang adat yang terletak di hadapan atau di
samping Rumah Raja. Balai sidang adat tersebut dinamakan
Sopo Sio Rancang Magodang atau Sopo Godang. Bangunannya
mempergunakan tiang-tiang besar yang berjumlah ganjil
sebagaimana jumlah anak tangganya. Untuk melambangkan
bahwa pemerintahan dalam Huta adalah pemerintahan
yang demokratis, maka Sopo Godang dibangun tanpa didinding.
Dengan cara ini, semua sidang adat dan pemerintahan
dapat dengan langsung dan bebas disaksikan dan didengar
oleh masyarakat Huta. Sopo Godang tersebut dipergunakan
oleh Raja dan tokoh-tokoh Na Mora Na Toras sebagai
wakil rakyat untuk "tempat mengambil keputusan-keputusan
penting dan tempat menerima tamu-tamu terhormat".
Sesuai dengan itu, maka bangunan adat tersebut diagungkan
dengan nama Sopo Sio Rancang Magodang inganan ni partahian
paradatan parosu-rosuan ni hula dohot dongan (Balai
Sidang Agung tempat bermusyawarah/mufakat, melakukan
sidang adat dan tempat menjalin keakraban para tokoh
terhormat dan para kerabat). Biasanya di dalam bangunan
ini ditempatkan Gordang Sambilan iaitu alat muzik
tradisional Mandailing yang dahulu dianggap sakral
(sacred). |
Setiap Bagas Godang yang senantiasa didampingi oleh sebuah
Sopo Godang harus mempunyai sebidang halaman yang cukup
luas. Oleh kerana itulah maka kedua bangunan tersebut ditempatkan
pada satu lokasi yang cukup luas dan datar dalam Huta. Halaman
Bagas Godang dinamakan Alaman Bolak Silangse Utang (Halaman
Luas Pelunas Hutang). Sesiapa yang mencari perlindungan
dari ancaman yang membahayakan dirinya boleh mendapat keselamatan
dalam halaman ini (sanctuary). Menurut adat Mandailing,
pada saat orang yang sedang dalam bahaya memasuki halaman
nin, ia dilindungi Raja, dan tidak boleh diganggu-gugat.
Caption: Kompleks Bagas Godang
dan Sopo Godang
Credit: Abdur-Razzaq Lubis |
Sesuai dengan fungsi Bagas Godang dan Sopo Godang,
kedua bangunan adat tersebut melambangkan keagungan
masyarakat Huta sebagai suatu masyarakat yang diakui
sah kemandirannya dalam menjalankan pemerintahan
dan adat dalam masyarkat Mandailing. Kerana itu,
kedua bangunan tersebut dimuliakan dalam kehidupan
masyarkat.
Adat-resam (tradisi) Mandailing menjadikan kedua
bangunan adat tersebut sebagai milik masyarkat Huta
tanpa mengurangi kemulian Raja dan keluarganya yang
berhak penuh menempati Bagas Godang. Oleh kerana
itu, pada masa lampau Bagas Godang dan Sopo Godang
maupun Alaman Bolak Silangse Utang dengan sengaja
tidak berpagar atau bertembok memisahkannya dari
rumah-rumah penduduk Huta.
|
Sila lihat www.sumatra-heritage.org
|

Caption: Bagas Godang
Credit: M.Dolok Lubis |