""

www.mandailing.org

malaysian / indonesian | english

I s i : : Biografi Tokoh-Tokoh

 

isi

makalah

links

kontak

foto

foto lama

 

Biografi Tokoh-Tokoh

Prof Dr Haji Bukhari Lubis
Anak Bertuah di Sastra Islam

Haji bukan sekadar gelar. Bagi Bukhari Lubis, 'haji' justru menjadi nama awalnya yang tertera pada akte kelahiran. ''Saya lahir di Mekkah, ketika ibunda menunaikan ibadah haji. Orang sekampung menganggap saya anak bertuah,'' kisah Haji Muhammad Bukhari Lubis. Alkisah, Hajjah Tariah Nasution tekun mendalami agama, sehingga merajut cita-cita kelak mampu menunaikan ibadah haji. Hingga berpindah-pindah tempat mulai di Panyabungan di Sumatera Utara, lalu ke Rao di Sumatera Barat hingga bermukim di Perak Malaysia pada ujung 1920-an ia tetap menggenggam impian setiap umat Islam tersebut.

Kegigihan bekerja menyebabkan Tariah dan suaminya H Ahmad Lubis beserta beberapa anaknya mampu menunaikan ibadah haji. Mereka mendaftar pada 1952 dan berangkat ke Tanah Suci setahun kemudian. ''Semasa mendaftar, ibu belum hamil, tetapi begitu lamanya masa antara pendaftaran hingga keberangkatan, sehingga ibu mengandung saya,'' kisahnya. Setelah tiga bulan bermukim di Mekkah karena melahirkan Bukhari, keluarga itu kembali ke Perak. Orang sekampung mengelu-elukan kedatangannya. Kaum ibu bergantian menggendong Bukhari karena dianggap bertuah. Bungsu dari 11 bersaudara ini mendapat pendidikan agama secara mendalam. Bukhari mengaku, kecintaan pada agama hingga kini dikenal sebagai pakar sastra Islam pertama di Malaysia, berkat didikan ibunda.

Selain berbentuk pendidikan membaca Alquran dan ibadah lainnya, ibundanya mendidiknya sejak kecil agar mengenakan kopiah dan kain sarung. Ia pun dibiasakan membaca Yasin setiap malam Jumat. ''Ibu sering bercerita tentang suluk di Mandailing,'' kenangnya. Semua itu memicunya untuk menimba ilmu di sekolah menengah agama Izzuddin Shah Ipoh hingga Kolej Islam Klang. Melanjutkan pendidikan universitas di Universiti Kebangsaaan Malaysia (UKM) pada 1973, Bukhari mengaku, peran cendekiawan Indonesia turut menempanya dalam memuaskan dahaga ilmu. Para cendekiawan itu di antaranya Buya Hamka dan Zakiah Darajat.

Bukhari setelah mendapatkan master, kembali kuliah jenjang S-1 di Universitas Nasional (Jakarta) cabang Kuala Lumpur. ''Mereka menyebabkan saya cinta buku. Saya pun dianggap memiliki kelebihan karena selain UKM, lulusan Unas,'' ujarnya. Ia pun diterima sebagai dosen di UKM pada 1980. Bercita-cita menekuni bidang psikologi agama, takdir menggiringnya menekuni bidang sastra Islam. Salah satu penyebabnya semasa remaja, ia mengalami kecelakaan sehingga dirawat di rumah sakit. Selama proses penyembuhan itu, ia menghabiskan waktu dengan menyimak puisi Nyanyi Sunyi Amir Hamzah. Kenelangsaan menyebabkan puisi itu membekas di hatinya. Akhirnya, ia memilih bidang sastra Islam, ketika kuliah di jenjang S-2 di Universitas Chicago, Amerika Serikat (lulus 1980).

Semasa berkuliah di sana, Bukhari mengaku, sempat berteman akrab dengan Amien Rais dan Ahmad Syafie Ma'arif. Kedua intelektual Indonesia itu sedang mengikuti pendidikan S-3 di universitas yang sama. ''Saya dengan kedua-duanya rapat karena kegiatan keislaman,'' ujarnya. Giat mengikuti pengajian malam Jumat dari Tarekat Naqshahbandiyah sejak sebelum menikah, keinginannya untuk suluk sebagaimana kisah ibunda semasa kecil, hingga kini belum terjalani. ''Sebelum menikah, saya sudah mau suluk tetapi dilarang orang yang lebih tua. Disuruh menikah dulu, mengikuti kehidupan seperti biasa.'' Bukhari semasa di Amerika Serikat sempat mengikuti tarekat yang dianut kaum Black Moslem.

Tapi, ia tidak bertahan lama di Tarekat Halvait Farrahi ini, karena, ritual zikirnya: menari-berputar sembari berzikir hingga trance. ''Saya sampai muntah-muntah akhirnya berhenti.'' Sepulang dari pendidikan PhD di University of California Berkeley, AS (1989), ada suatu masa Bukhari sangat senang membaca suatu surah yang memaparkan tentang hamba Allah akan diuji dengan ketakutan, kelaparan, dan kematian, setiap shalat Subuh. Siapa yang menyangka kesenangan itu merupakan pertanda akan tiba ujian yang berat ke pundaknya? Istri yang setia mendampinginya kemana-mana, tak lama kemudian meninggal saat melahirkan. ''Ini pengalaman spiritual yang berat, saya sempat gelap mata, tetapi kemudian saya menyadari makna dari surah yang gemar saya baca itu.

Dari situ saya mengambil kesimpulan setiap hamba akan diuji dengan bermacam ujian. Ketika ujian tiba, kita mesti menyerahkan semuanya kembali kepada Allah, sambil melihat ke sekeliling, masih banyak yang diuji lebih susah. Dengan demikian agar penderitaan terasa lebih ringan,'' urainya. Pelbagai ujian menyebabkannya tumbuh sebagai pribadi yang tegar. Berbeda dengan kebanyakan orang yang hidup pada tatanan kerajaan yang berpengaruh kuat, Bukhari berani bersikap melawan arus. ''Meski saya tumbuh besar dan menjadi warga negara Malaysia, tetapi saya tetap lelaki Mandailing. Lelaki Mandailing sejati tidak akan menjadi bunglon,'' tegasnya. Ia menceritakan saat suatu ketika ia tidak sepaham dengan pucuk pimpinan di fakultasnya.

Dosen di Pengajian Islam UKM ini memilih keluar dari UKM. ''Rezeki Allah tersebar di mana-mana, kita tidak perlu gentar, saya pun memilih pensiun dini,'' ujar pria yang kini menjadi dosen kontrak di Universiti Pendidikan Sultan Idris Tanjung Malim Perak ini. Di antara sekian banyak keturunan Sumatera di Malaysia, Bukhari merupakan tokoh publik yang tetap memasang marganya, selain bintang film Cico Harahap. Berkait dengan bidang yang ditekuninya, pria yang melakukan perbandingan puisi sufi dengan doktrin Wahdat al-Wujud di Persia, Turki dengan Melayu pada disertasinya ini, menilai seringkali umat Islam menghayati agamanya sebatas ibadah. ''Belum menghayati Islam sebagai sesuatu yang besar dan menjadi nilai hidup,'' nilainya.

Ia mencontohkan, kurang berkembangnya tradisi sastra, di kalangan pemeluk Islam. ''Sastra tidak boleh dinafikan, sastra merupakan bahagian dari keindahan,'' ujarnya. Dalam skala luas, Bukhari menemukan tidak tumbuhnya tradisi menulis puisi pengagungan pada Rabb (sufiisme), di kalangan tarekat khususnya di Malaysia. Hal ini berbeda dengan masa keemasan Islam yang melahirkan Jalal al-Din Rumi, Hazif, maupun Shaykh Sa'di. Karya-karya mereka memberikan sumbangsih bagi pencerahan spritualisme. ''Tarekat di sini tidak memberikan sumbangan seperti itu,'' tegasnya.

Mengapa terjadi hal demikian? Ia tidak menafikan, tumbuhnya anggapan sastra diharamkan, berkait dengan adanya salah satu ayat di Alquran yang menyebutkan penyair itu teman setan. ''Anggapan itu salah karena jangan dibaca sepotong, ada lanjutannya dengan kata 'kecuali' di belakangnya,'' ujarnya. Penyempitan pemikiran dalam Islam ini menyebabkan zaman keemasan budaya Islam sulit dikembalikan. Kendati demikian, pria yang telah menulis karya sendiri maupun karya terjemahan sekitar 40 buku ini, mengimbau selaiknya negara-negara Islam di Asia, intensif menjalin hubungan melalui rajutan silaturahim Islam.

Profil
Nama : Haji Muhammad Bukhari Lubis
Tempat/Tgl Lahir : Mekkah 16 Agustus 1953
Pendidikan :
• Universitas Kebangsaan Malaysia (1977)
• Master Universitas Chicago, AS (1980)
• Universitas Nasional Jakarta (1984)
• PhD Universitas California, AS (1989)
Pekerjaan : Dosen kontrak di UPSI
Organisasi :
• Ketua satu Sastrawan Perak
• Wakil Ketua Persatuan Seni Khat Kebangsaan
• Persatuan Kesusastraan Bandingan Malaysia
• Nadwah Persuratan Islam se-Malaysia
• Pengarah Perbadanan Perpustakaan umum Perak
• Anggota Kehormatan Rabitat al-Adab al-Hadith bi'l-Qariah dan Peivand Society.
Anugerah :
• Khidmat Cemerlang UKM (1992)
• Pingat Darjah Ahli Mahkota Perak (1996)
• Khidmat Masyarakat UKM (1999)
• Hadiah Sastra Perdana Malaysia DBP (1998/1999)
( rudy harahap )
Republika, 27 Agustus 2004

>>> kembali ke 'biografi tokoh-tokoh'

The contents of this site is the reponsability of the respective contributors

 

update September 2006