|
Biografi
Tokoh-Tokoh
In
Memoriam Mochtar Lubis: Mengapa Takut kalau untuk Kepentingan Bangsa?
JAKARTA
- Saya sendiri heran mendengar orang berkata bahwa Mochtar Lubis
itu pemberani
Ada pergulatan terus dalam diri saya kalau mau
melawan terhadap orang-orang besar, terhadap orang-orang berkuasa,
orang-orang yang bisa menangkap kita setiap saat.
Bukan tidak ada rasa takut. Saya bergulat terus dengan rasa takut
saya itu. Tapi pertahanan saya adalah: kenapa kita harus takut kalau
kita yakin bahwa yang akan kita kemukakan itu adalah benar, untuk
kepentingan masyarakat, untuk kepentingan bangsa.
Demikian sepenggal ungkapan Mochtar Lubis yang direkam dalam buku
Mochtar Lubis Wartawan Jihad. Mochtar Lubis (82) memang memegang
teguh prinsip tentang kebenaran, sehingga ia sangat memperhatikan
masalah kebebasan pers, serta kebebasan menyatakan pikiran dan pendapat.
Sosok yang jangkung untuk ukuran orang Indonesia, yakni 1,82 meter,
Mochtar Lubis adalah Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi harian Indonesia
Raya yang telah tujuh kali dibredel. Enam kali pada masa Orde Lama
dan satu kali pada masa Orde Baru, tetapi fatal.
Selama masa Orde Lama, lima wartawannya ditahan dari beberapa hari
sampai sebulan. Mochtar sendiri menjadi tahanan rumah dan lembaga
pemasyarakatan (LP) hampir terus menerus selama sembilan tahun.
Pada masa Orde Baru ia ditahan lagi selama 2,5 bulan.
Kini Mochtar Lubis tinggal kenangan. Ia telah meninggal di Rumah
Sakit (RS) Medistra, Jakarta, Jumat (2/7), pukul 19.00, setelah
dirawat selama seminggu.
Sakit flu menyebabkan pria kelahiran Padang, 7 Maret 1922 ini tidak
bisa mengeluarkan dahak; ia sudah lama menderita asma.
Sabtu (3/7) hari ini pukul 10.00 jenazahnya disemayamkan di Taman
Ismail Marzuki (TIM), dan dimakamkan di samping makam istrinya,
Halimah, di Taman Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut.
Sebelumnya, sejak 1994, budayawan, novelis dan wartawan senior
ini menderita penyakit alzheimer. Selama dua tahun terakhir ini
ia hampir tidak mengenal lagi orang-orang terdekatnya. Menurut kedua
putranya, Iwan dan Arman Lubis, kesehatan Mochtar terus menurun
sejak istrinya meninggal tahun 2001.
Gunawan Harmoko, wartawan Indonesia Raya yang ketika itu ikut membongkar
kasus korupsi, mempunyai kesan tentang Mochtar Lubis. "Ia orang
yang luar biasa, orang besar dalam dunia pers. Sampai sekarang di
antara orang-orang pers yang sudah meninggal dan masih hidup, tidak
ada yang lebih hebat daripada Mochtar Lubis," katanya.
Kebenaran, kebebasan, hak asasi manusia dan antiamplop. Itulah
selalu pesan Mochtar kepada semua anak buahnya. Mochtar juga tidak
rasialis, buktinya Indonesia Raya adalah koran satu-satunya yang
tidak menyebut Cina tapi Tionghoa. "Tidak menyebut Republik
Rakyat Cina (RRC) tapi Republik Rakyat Tiongkok (RRT) karena memang
namanya Tiongkok," kata Gunawan kepada SH.
Gunawan
juga masih ingat ketika Mochtar meninjau Pulau Buru, tempat pembuangan
orang-orang yang dituduh komunis. Mochtar mempertanyakan mengapa
para tahanan itu tidak diberi peralatan yang sesuai dengan minat
mereka tetapi malah diberi cangkul. Padahal Mochtar termasuk antikomunis.
Kesan juga masih melekat di benak Victor Sihite, wartawan senior
Sinar Harapan yang tahun 1968 bekerja di Indonesia Raya karena kagum
terhadap surat kabar yang mendapat julukan sebagai koran jihad terhadap
korupsi, skandal dan kebobrokan di kalangan pejabat pemerintah itu.
Mochtar adalah seorang periang, blak-blakan dan terbuka. Jika tulisan
wartawan jelek ia katakan jelek dan jika bagus tidak segan-segan
memujinya. Bagi wartawan yang menerima amplop akan dipecat. Mochtar
sendiri konon pernah didekati seorang utusan penguasa Orde Baru
dalam rangka "menjinakkan".
Utusan itu mengatakan bahwa di Kalimantan masih ada ratusan ribu
hektare hutan yang belum bertuan dan silakan digarap, akan disiapkan
HPH-nya. Tapi Mochtar dengan halus menampiknya. "Anda sajalah
yang menggarap karena Anda lebih ahli soal hutan. Keahlian saya
cuma tulis-menulis," kata Mochtar.
Mochtar juga menampung seorang wartawan Yogyakarta yang saat itu
mendapat teror dari penguasa karena getol mengorek skandal pemerkosaan
terhadap seorang wanita pedagang telur oleh anak-anak pejabat di
Yogyakarta. Peristiwa itu terkenal dengan kasus Sum Kuning.
Membongkar Korupsi
Prinsip tentang kebenaran telah mendorong Mochtar untuk melontarkan
kritik-kritik tajam, termasuk mengritik korupsi di perusahaan minyak
Indonesia. Sekitar tahun 1951, ketika karisma Bung Karno masih sangat
kental, ia sudah melancarkan kritik terhadap politik Presiden pertama
RI itu.
Selama setengah tahun terakhir pada 1956, tiga peristiwa penting
terjadi pada Indonesia Raya, sebelum akhirnya dibredel. Indonesia
Raya gencar memberitakan tentang rencana penahanan Menteri Luar
Negeri Roeslan Abdulgani sesaat sebelum berangkat ke London. Pada
waktu itu Roeslan diduga terlibat korupsi bersama Lie Hok Thay.
Penahanan Roeslan akhirnya gagal berkat intervensi Perdana Menteri
Ali Sastroamidjojo.
Setelah Indonesia Raya tidak lagi terbit, tahun 1961 Mochtar dipenjarakan
di Madiun bersama mantan PM Sutan Sjahrir, Mohammad Roem, Anak Agung
Gde Agung, Sultan Hamid, Soebadio Sastrosatomo dan lain-lain. Semuanya
dinilai sebagai oposan Presiden Soekarno.
Tahun
1968 Indonesia Raya terbit kembali, kemudian Mochtar melancarkan
investigasi mengenai korupsi di Pertamina yang dipimpin Letjen Dr.
Ibnu Sutowo. Utang yang dibuat Ibnu Sutowo di luar negeri mencapai
US$ 2,3 miliar. Ia diberhentikan oleh Presiden Soeharto.
Keluarga besar Indonesia Raya secara resmi "bubar jalan"
tahun 1974 setelah koran itu diberangus menyusul peristiwa yang
terkenal dengan sebutan Malari (Malapetaka Januari 1974). Ketika
itu para mahasiswa mendemo PM Jepang Tanaka. Ketika itu Pasar Senen
dibakar, disulut oleh anak buah Kepala Opsus Ali Moertopo. Maka
Presiden Soeharto menginstruksikan membreidel sejumlah surat kabar
antara lain Indonesia Raya, Pedoman dan Abadi.
Selanjutnya meski bukan sebagai wartawan lagi, Mochtar tetap gemar
melakukan kritikan. Sembilan hari setelah Presiden Soeharto menyampaikan
amanat di DPR pada 16 Agustus 1983, dia menulis keras dalam harian
Kompas. Dia menyatakan bahwa apa yang tidak diucapkan oleh Soeharto
jauh lebih penting dibanding dengan yang diucapkan, yakni persoalan
korupsi yang sudah mengakar.
Mochtar juga banyak aktif di berbagai organisasi jurnalistik luar
negeri, seperti Press Foundation of Asia. Di dalam negeri mendirikan
majalah sastra Horison dan menjadi Direktur Yayasan Obor Indonesia
yang menerbitkan buku-buku bermutu. Selain sebagai wartawan, Mochtar
juga dikenal sebagai sastrawan. Pada mulanya menulis cerita pendek
(cerpen) dengan menampilkan tokoh karikatural Si Djamal. Kemudian
menulis novel seperti Harimau Harimau, Senja di Jakarta, Jalan Tak
Ada Ujung, Berkelana dalam Rimba. Dia memperoleh Magsaysay Award
untuk jurnalistik dan kesusastraan.
Selamat jalan, wartawan jihad!
SH/tutut herlina/victor sihite/wahyu dramastuti
Sumber: Sinar Harapan, 3 Juli 2004
|