|
Biografi
Tokoh-Tokoh
Kompas,
Rabu, 3 Oktober 2001
Abdur Razzaq Lubis
Kerinduan Mandailing dari Tanah Seberang
TERNYATA banyak sekali orang Mandailing yang pernah dan masih menduduki
jabatan penting di negara tetangga kita Malaysia. Beberapa di antaranya
adalah Datuk Harun Harahap yang pernah menjabat sebagai Menteri
Besar, Tan Sri Muhammad Taib Nasution yang Gubernur Selangor, Tun
Mohammad Hanif Nasution yang pernah menjabat sebagai Ketua Polis
Diraja Malaysia (semacam Kepala Polri), dan Tun Daim Batubara yang
pernah menjabat Menteri Keuangan.
Kompas/arbain rambey
Abdur Razzaq Lubis
"Masih banyak lagi orang Mandailing yang memegang peran penting
di Malaysia, namun tidak terlacak karena tidak memasang nama marga
di belakang namanya," kata Abdur Razzaq Lubis, seorang Mandailing
yang kini menjalankan situs www.mandailing.org dari Penang, Malaysia.
Bagi Abdur Razzaq Lubis, persoalan Mandailing atau bukan Mandailing
adalah persoalan jati diri. Di Indonesia, Mandailing dimasukkan
dalam kelompok etnis Batak alias disebut Batak Mandailing. Sedangkan
di Malaysia, orang Mandailing dianggap sebagai sub etnis Melayu
alias dianggap Melayu Mandailing yang dalam lafal Malaysia disebut
Melayu Mendeleng.
"Kami orang Mandailing bukanlah Batak dan juga bukan Melayu.
Kami punya perbedaan banyak dalam hal budaya dan lain-lain. Tolong
dicatat ini," kata Lubis di kantornya yang sangat asri di George
Town, Penang, Malaysia, akhir September lalu. Kantor Lubis di Armenian
Street ini, dulu adalah Kantor Dr Sun Yat Sen, tokoh nasional Cina
saat menyusun berbagai rencana.
Dari telaah yang telah dilakukan Lubis di berbagai museum dan berbagai
perpustakaan, didapatlah fakta-fakta. Pendefinisian Mandailing ke
dalam etnis Batak dilakukan pemerintah kolonial Belanda semata untuk
membuat "batas" antara kelompok Muslim Minang dan Muslim
Aceh.
Pada daerah "batas" ini, Belanda memberikan nama Batakland
sehingga otomatis etnis-etnis di wilayah itu disebut orang Batak,
termasuk orang Karo, orang Pakpak dan orang Angkola.
Sampai sekarang, Lubis masih terus memperdalam telaahnya tentang
perbatakan dan permandailingan ini dari berbagai sumber. Sayangnya,
literatur lama tentang Mandailing memang sangat sulit diperoleh,
sementara biaya untuk melakukan itu tidaklah kecil.
Untunglah The Nippon Foundation mau menolong Lubis membiayai penelitiannya
yang berjudul The Politics of Identity Construction: The Case of
the Mandailing People.
PADA zaman globalisasi ini, berbicara mengenai etnis tampaknya
memang seperti mundur ke belakang beberapa langkah. Abdur Razzaq
Lubis sendiri sering mendapat tudingan itu atas penggalakan soal
Mandailing ini di Malaysia.
"Justru di zaman globaliasasi ini masalah penemuan jati diri
menjadi penting. Orang yang belum tahu siapa dirinya, akan larut
dalam globalisasi dan menjadi bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa,"
kata aktivis dakwah dan juga lingkungan ini.
Di Malaysia, banyak keturunan Mandailing yang sudah menanggalkan
nama marganya. Dalam penelitian Lubis, ada dua hal yang mendasari
hal itu. Hal pertama adalah keinginan untuk tampak menjadi murni
orang Melayu karena pengaruh lingkungan, dan hal kedua adalah untuk
pelarian.
Pada masa perang kemerdekaan Indonesia, banyak orang Mandailing
aktivis kemerdekaan yang lari dari kejaran Belanda ke Malaysia.
Mereka menanggalkan nama marganya agar tidak terlacak lagi. Salah
satu di antaranya adalah Kamaludin Nasution yang lari ke Malaysia
tahun 1932. Nasution ini lalu berganti nama menjadi Abdurrahman
Rahim yang menjadi wartawan cukup terkenal di Malaysia pada era
tahun 1960-an.
Dalam buletin Mandailing terbitan Malaysia tahun 1996, terdapat
sebuah tulisan menarik. Isi tulisan itu adalah tentang mantan Wapres
Indonesia Adam Malik yang ternyata juga punya hubungan erat dengan
Malaysia. Adam Malik yang bermarga Batubara ini disebutkan sebenarnya
kelahiran Chemor, Perak, Malaysia.
LUBIS memang sangat getol dengan permandailingan. Hampir segenap
pembicaraan dengannya pasti diisi dengan pemikiran Mandailing. Namun,
untuk menunjukkan bahwa dirinya bukanlah orang yang picik memandang
kesukuan, Abdur Razzaq memaparkan fakta bahwa istrinya bukanlah
orang Mandailing.
"Istri saya adalah orang Tionghoa dari marga Khoo walau sudah
dimandailingkan dengan nama baru Khoo Salma Nasution," kata
ayah Namora Hadi Lubis, Norma Hasya Lubis dan si bungsu Maga Hayyan
Lubis.
Usaha Razzaq dalam menggali kemandailingan sangatlah besar. Mengingat
ia hanyalah keturunan ketujuh dari marga Lubis yang datang ke Malaysia
zaman Perang Padri di abad ke-19, Abdur Razzaq menyempatkan diri
mengujungi Tanah Mandailing di Tapanuli Selatan beberapa waktu lalu,
juga menjalin kontak secara teratur dengan cendekiawan Mandailing
di Indonesia.
"Segala yang saya tahu tentang Mandailing saya usahakan untuk
juga diketahui orang lain. Demikian pula sebaliknya. Saya selalu
senang berbagi dan menggali ilmu, apa pun," kata pria kelahiran
George Town, Penang, 12 Agustus 1959 ini.
Salah satu makalahnya yang dibawakannya pada seminar antropologi
di Padang, Sumbar, bulan Juli lalu yang berjudul The Transformation
of Traditional Mandailing Leadership in Malaysia and Indonesia in
the Age of Globalization sangat banyak mendapat sambutan dari berbagai
disiplin ilmu.
Selain itu, benak Abdur Razzaq Lubis amatlah banyak isinya, bukan
melulu kemandailingan. Selain juga aktif dalam hal pelestarian budaya
dengan menjadi perwakilan Malaysia untuk Badan Warisan Sumatera
(BWS), Lubis juga aktif pada kegiatan keagamaan, hubungan antar-agama,
dan juga lingkungan.
Pada Maret-April 1995, Lubis adalah wakil dari agama Islam untuk
sebuah deklarasi internasional tentang kepercayaan dan lingkungan
yang ditandatangani semua perwakilan agama di Ohito, Jepang. Deklarasi
yang hampir senada juga ditandatangani Lubis sebulan kemudian di
Istana Windsor, Inggris.
DALAM kancah lain, Lubis aktif di People Against Interest Debt
(PAID), sebuah lembaga nonpemerintah yang berkedudukan di Penang.
Pemikiran Lubis tentang riba ini banyak yang menjadi pembicaraan,
termasuk di Indonesia. Salah satu pemikirannya yang cukup kontroversial
adalah soal penggunaan kembali uang emas dan perak pada negara-negara
Islam juga sudah diseminarkan beberapa kali di Jakarta, termasuk
sudah dibukukan.
"Saat ini ekonomi negara-negara berkembang sangat dikuasai
negara Barat, sementara krisis ekonomi melanda mana pun. Mengapa?
Ini karena uang kertas yang saat ini kita pakai. Uang kertas adalah
uang utang," kata Lubis berapi-api.
Lebih jauh, Lubis menjelaskan uang kertas adalah selembar "surat"
yang menyatakan utang, artinya ia adalah simbol dari sesuatu yang
senilai dengan angka tercantum pada uang kertas. Menurutnya, uang
kertas kini sangat manipulatif, bisa dicetak berjuta-juta lembar
tanpa merujuk kepada sesuatu yang nyata.
Kembali ke kancah pemakaian uang emas dan perak yang sudah dirintis
pada setiap Festival Karpet di Dubai, UEA, Lubis yakin kalau satu
milyar penduduk Muslim dunia mau memakai kembali uang dinar dan
dirham, sebuah keseimbangan ekonomi baru bisa tercipta. dollar AS
tidak akan terlalu mendikte pasar lagi.
"Pendeknya, sangat banyak kehancuran dunia ini yang disebabkan
oleh riba. Jangan salah. Riba itu ada 77 jenis, di antaranya korupsi
dan manipulasi. Ini harus kita perangi," kata Lubis.
Arbain Rambey, dari Penang, Malaysia
|