|
Biografi
Tokoh-Tokoh
Jaffar
Lubis, Melestarikan Tanpa Memainkan
Oleh Arbain Rambey
Kompas 23 Februari 2003
MENURUT
etnomusikolog dari Universitas Sumatera Utara, Irwansyah Harahap,
alat musik perkusi terbesar di dunia adalah gordang sembilan milik
masyarakat Mandailing di Sumatera Utara (Sumut) bagian selatan.
Dengan jumlahnya yang sembilan buah dan dengan gordang terbesar
sepanjang sekitar dua meter, sungguh alat musik ini memang besar.
Empat orang dibutuhkan untuk memainkannya.
Namun, saat ini, di tengah merajalelanya musik pop, gordang sembilan,
seperti juga alat musik tradisional lain, makin tergeser perannya.
Selain itu, makin sedikit pula orang yang bisa membuatnya. Di antara
yang sedikit itu, tersebutlah sebuah nama: Jaffar Lubis.
Dijumpai Kompas di Desa Manambin, Kecamatan Kotanopan, Kabupaten
Mandailing Natal (Madina), Sumut, Jaffar Lubis terlihat sedang mengerjakan
satu perangkat gordang sembilan di halaman rumahnya. Pria yang kurus
tinggi ini namanya memang sering disebut di Mandailing kalau lagi
membicarakan masalah gordang sembilan. Beberapa buatannya sudah
sampai di luar negeri, seperti Malaysia dan Singapura. Bupati Madina
pun memesan kepadanya untuk kepentingan koleksi kabupaten.
"Saya bisa membuat gordang sembilan secara otodidak. Tetapi,
saya pun tidak bisa memainkannya sama sekali," kata Jaffar
Lubis.
TERNYATA masalah memainkan dan membuat tidaklah harus seiring sejalan.
Gordang sembilan dalam sejarahnya memang tidak bisa dimainkan sembarang
orang. Ada upacara tertentu untuk membuka selubungnya, untuk lalu
dimainkan dalam perayaan-perayaan besar.
"Saya tinggal di Manambin bagian bawah. Gordang desa ada di
Manambin atas. Jadi, sejak kecil saya memang tidak punya kesempatan
untuk memainkan gordang yang ada di depan balai desa," kata
Jaffar Lubis, menjelaskan ketidakbisaannya memainkan gordang sembilan.
Namun, Jaffar Lubis, yang mulanya magang pada temannya dalam membuat
gordang, akhirnya justru menjadi maestro pembuat yang selalu dicari.
Sudah dua puluh tahun pria kelahiran 26 Januari 1960 ini berkecimpung
dalam pembuatan gordang, dan dalam rentang itu sudah belasan alat
musik ini dihasilkannya.
Bagi Jaffar Lubis, membuat gordang adalah menciptakan sebuah karya
yang akan dinikmati banyak orang. Adalah kebanggaan besar bagi dirinya
kalau dalam sebuah upacara besar karyanya dipakai dan para hadirin
hanyut dalam indahnya suara gordang buatannya itu.
"Kebahagiaan saya kalau orang senang dengan suara gordang
buatan saya. Uang menjadi tidak berarti lagi," kata suami Barinjen
Daulay ini.
Untuk satu perangkat gordang sembilan dengan ukuran normal, JaffarLubis
meminta upah lima juta rupiah. Barang harus diambil sendiri ke Manambin,
karena dia memang tidak menerima jasa antar. Kata "ukuran normal"
ini perlu ditekankan, sebab kini mulai terjadi aksi jor-joran dalam
ukuran gordang sembilan.
"Ada beberapa orang yang ingin memesan gordang sembilan dengan
ukuran yang lebih besar dari milik bupati dengan alasan gengsi.
Padahal, ukuran yang terlalu besar membuat suara gordang buruk,"
katanya.
SEBUAH set gordang sembilan dengan ukuran normal, menurut Jaffar
Lubis, bisa didapatkan dari sebuah pohon utuh yang panjangnya sekitar
12 meter.
"Dengan diambil dari satu pohon utuh, sebuah gordang punya
sifat sama pada kesembilan bagiannya. Bagi saya, sembilan gordang
dari satu pohon adalah sebuah kesatuan yang kokoh dan dalam segalanya
tidak terpisahkan," tuturnya.
Dari pengalaman Lubis, untuk set terbaik gordang sembilan, gordang
terbesarnya berukuran panjang 165 sentimeter, diameter atas 43 sentimeter
dan diameter bawah 40 sentimeter. Ukuran selanjutnya dari gordang
dua sampai sembilan adalah, 160-40-38, 155-30-35, 150-35-32, 140-32-30,
135-30-28, 130-28-25, 125-25-23, dan 110-22-20.
Dibandingkan dengan harga alat musik modern yang lebih tinggi dari
sekadar lima juta rupiah, kerja keras Jaffar Lubis memang jadi tampak
tidak dihargai sebagaimana mestinya.
Untuk membuat sebuah perangkat gordang sembilan, hal pertama yang
dilakukan Jaffar Lubis adalah "berburu pohon". Ia memerlukan
waktu sekitar sebulan keluar masuk hutan untuk mendapatkan pohon
yang sesuai. Kayu yang terbaik yang bisa didapatkan di Tanah Mandailing
adalah kayu ingol atau surian.
"Tapi, kini makin sulit untuk mendapatkan pohon besar lagi.
Terlalu banyak pembabatan hutan," kata ayah lima anak ini.
Tidak seperti di abad lalu, Lubis mengatakan bahwa ia tidak merasa
perlu berpuasa atau melakukan upacara tertentu dulu untuk membuat
sebuah perangkat gordang sembilan. "Saya natural saja,"
katanya.
Persiapan terpenting yang dilakukannya adalah memahami benar keinginan
pemesan, lalu menyiapkan bekal secukupnya untuk keluar masuk hutan
selama sekitar sebulan. Hutan favoritnya dalam mencari kayu untuk
gordang adalah Gading Baing yang tidak jauh dari Manambin, desanya.
SETELAH mendapatkan sebuah pohon yang cocok pun bukan berarti separuh
tugasnya selesai. Ia harus segera kembali ke kampungnya untuk membawa
aneka peralatan yang dibutuhkan guna memotong pohon dan melubangi
bagian tengahnya."Kayu harus saya potong-potong dengan panjang
yang tepat, lalu saya lubangi tengahnya agar ringan. Semua itu saya
kerjakan di tengah hutan yang sering di permukaan tanahnya sangat
miring," papar pria yang selalu tersenyum ini.
Pengerjaan di hutan adalah bagian tersulit dalam pembuatan seperangkat
gordang sembilan. Selain tempatnya yang sangat tidak sesuai untuk
sebuah bengkel kerja, kesalahan di sini sama sekali tidak bisa diperbaiki
lagi. Kesalahan memotong panjang sebuah gordang membuat potongan
itu lalu menjadi tidak berguna. Akibatnya yang lebih panjang lagi,
perangkat gordang itu akhirnya bukan terbuat dari satu pohon yang
sama.
"Ada perasaan tidak lengkap di situ," kata Lubis. Itulah
sebabnya, bagi dia, pengerjaan awal di hutan adalah bagian terberat
dan terpenting pada pembuatan sebuah perangkat gordang sembilan.
Ia lalu menceriterakan pengalaman pembuat gordang di masa lalu,
yang masih berjumpa harimau sumatera di tengah hutan.
Kerja yang dilakukan di rumah adalah memberi sentuhan terakhir
pada gordang, termasuk memasang kulit sapi putih sebagai bagian
yang dipukul nantinya."Kulit sapi yang dipakai haruslah kulit
pilihan. Saya sudah punya orang yang selalu bisa memberikan kulit
terbaik," katanya. Dan, menurut dia, "Kulit yang baik
adalah yang tidak terlalu tebal dan juga tidak terlalu tipis. Ada
kekeringan tertentu yang harus dicapai saat dipasangkan di badan
gordangnya."
AKHIRNYA, hasil akhir sebuah gordang yang baik terletak pada pemainnya
juga. Pemain pertama yang memainkan gordang 1, 2, dan 3, yang disebut
jangat, sangat berperan pada permainan total. Yang memainkan gordang
4 dan 5 disebut jogo-jogo, pemain gordang 6 dan 7 disebut udong-udong,
sedangkan pemain gordang 8 dan 9 disebut tepe-tepe.
"Saya bahagia bisa ikut melestarikan kesenian ini, walau tidak
bisa memainkannya," kata Lubis dengan tatapan mata yang berbinar-binar.
(ARBAIN RAMBEY)
|