|
Biografi
Tokoh-Tokoh
"In
Memoriam" Mochtar Lubis
Oleh Rosihan Anwar
MOCHTAR LUBIS (82) hari Jumat (2/7), tepatnya pukul 19.15, meninggal
dunia di Rumah Sakit Medistra, Jakarta. Rabu pekan lalu dia sesak
napas, kerongkongannya penuh lendir, lalu dibawa ke rumah sakit
dan masuk ruang unit perawatan intensif. Tiga hari kemudian ia pindah
kamar dan Rabu lalu keadaannya agak mendingan. Namun, Jumat malam
kemarin ia dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Sejak hampir dua tahun dia menderita penyakit alzheimer, dan belakangan
ini nyaris tak mengenal orang yang terdekat dengannya.
Sejak istrinya, Halimah, tutup usia pada 27 Agustus 2001, dia kehilangan
orang yang sangat dicintainya. Sunyi. Apabila melihat Halimah sedang
tak ada, Mochtar terus bertanya, "Di mana Ibu?"
Dalam pertemuan para wartawan senior, ketika sedang makan, tiba-tiba
dia berkata, "Kau dengar itu, suara Hally?"
Kesehatannya kian mundur. Beberapa bulan yang lalu saat dirawat
di Rumah Sakit Cikini, saya kunjungi Mochtar. Sama sekali dia tiada
mengenal lagi. Praktis sudah ibarat a vegetable.
Mochtar Lubis lahir di Padang, Sumatera Barat, 7 Maret 1922. Ayahnya
pegawai Binnenlands Bestuur (BB) Pemerintah Hindia Belanda yang
pada tahun 1935 pensiun sebagai Demang Kepala Daerah Kerinci. Demang
Pandapotan itu digantikan oleh ayah saya, Demang Anwar Maharadja
Soetan.
Setelah tamat HIS Sungai Penuh, Mochtar masuk sekolah ekonomi di
Kayutanam pimpinan SM Latif. Seperti halnya dengan sekolah INS pimpinan
M Syafei, juga di Kayutanam, murid-muridnya diajar mengembangkan
bakat melukis, mematung, bermusik, dan sebagainya.
Mochtar sebentar jadi guru sekolah dasar di Pulau Nias, kemudian
pindah ke Jakarta. Di zaman Jepang dia bekerja sebagai anggota tim
yang memonitor siaran radio sekutu di luar negeri untuk keperluan
Gunseikanbu, Kantor Pemerintah Bala Tentara Dai Nippon. Tahun 1944
dia menikah dengan Halimah, gadis Sunda yang bekerja di sekretariat
redaksi harian Asia Raja.
Pada tahun 1945 dia bergabung dengan kantor berita Antara. Menjelang
penyerahan kedaulatan pada tanggal 27 Desember 1949, dia menjadi
Pemimpin Redaksi Surat Kabar Indonesia Raya. Tatkala pertengahan
tahun 1950 pecah Perang Korea, Mochtar meliput kegiatan itu sebagai
koresponden perang.
Pada paruh pertama dasawarsa 1950-an pers di Jakarta dicirikan
oleh personal journalism dengan empat editor berteman dan berantem,
yaitu Mochtar Lubis (Indonesia Raya), BM Diah (Merdeka), S Tasrif
(Abadi), dan Rosihan Anwar (Pedoman).
Yang paling militan di antara empat sekawan tadi ialah Mochtar
Lubis. Tahun 1957 dia dikenai tahanan rumah, kemudian dipenjarakan.
Semuanya selama sembilan tahun sampai tahun 1966.
SEBAGAI wartawan, dia bikin berita gempar pada berbagai afair.
Pertama, afair pelecehan seksual yang dialami Ny Yanti Sulaiman,
ahli purbakala, pegawai Bagian Kebudayaan Kementerian P & K.
Bosnya tidak saja mencoba merayu Yanti, tetapi juga mengeluarkan
kata-kata seks serba "seram". Kedua, afair Hartini ketika
terungkap hubungan Presiden Soekarno dengan seorang wanita di Salatiga
yang mengakibatkan Ny Fatmawati marah dan meninggalkan istana. Ketiga,
afair Roeslan Abdulgani. Menurut pengakuan Lie Hok Thay, dia memberikan
uang satu setengah juta rupiah kepada Roeslan yang berasal dari
ongkos mencetak kartu suara pemilu. Akibatnya, Menteri Luar Negeri
(Menlu) Roeslan Abdulgani yang hendak pergi menghadiri konferensi
internasional mengenai Terusan Suez mau ditahan oleh CPM tanggal
13 Agustus 1956, tetapi akhirnya urung berkat intervensi Perdana
Menteri (PM) Ali Sastroamidjojo.
Setelah Indonesia Raya tidak lagi terbit, tahun 1961 Mochtar dipenjarakan
di Madiun bersama mantan PM Sutan Sjahrir, Mohammad Roem, Anak Agung
Gde Agung, Sultan Hamid, Soebadio Sastrosatomo, dan lain-lain. Semuanya
dinilai sebagai oposan Presiden Soekarno.
Tahun 1968 Indonesia Raya terbit kembali. Mochtar melancarkan investigasi
mengenai korupsi di Pertamina yang dipimpin Letjen Dr Ibnu Sutowo.
Utang yang dibikin Ibnu Sutowo di luar negeri mencapai 2,3 miliar
dollar AS. Ia diberhentikan oleh Presiden Soeharto.
Ketika terjadi peristiwa Malari, Januari 1974, para mahasiswa mendemo
PM Jepang Tanaka, Pasar Senen dibakar, disulut oleh anak buah Kepala
Opsus Ali Moertopo. Soeharto jadi gelagapan. Ia instruksikan membredel
sejumlah surat kabar, antara lain Indonesia Raya, Pedoman, dan Abadi.
Setelah bebas lagi bergerak pasca-G30S/PKI, Mochtar banyak aktif
di berbagai organisasi jurnalistik luar negeri, seperti Press Foundation
of Asia. Di dalam negeri dia mendirikan majalah sastra Horison.
Ia menjadi Direktur Yayasan Obor Indonesia yang menerbitkan buku-buku
bermutu. Selain sebagai wartawan, Mochtar juga dikenal sebagai sastrawan.
Pada mulanya dia menulis cerita pendek (cerpen) dengan menampilkan
tokoh karikatural Si Djamal. Kemudian dia menulis novel, seperti
Harimau Harimau, Senja di Jakarta, Jalan Tak Ada Ujung, dan Berkelana
dalam Rimba. Dia memperoleh Magsaysay Award untuk jurnalistik dan
kesusastraan.
Sebagai orang yang memiliki banyak bakat, tidak heran bila Mochtar
pandai melukis. Ketika ditahan di penjara Madiun, dia menjadi perupa.
Sebagai budayawan, dia aktif dalam berbagai kegiatan di Taman Ismail
Marzuki. Dia anggota Akademi Jakarta sedari semula hingga sekarang.
Tak perlu ditambahkan bahwa dalam kehidupannya dia membuktikan
berjiwa dan berperan sebagai pahlawan, seperti pahlawan kebebasan
pers, pahlawan berkreasi. Sesungguhnya dia dapat disebut 5-wan,
yakni wartawan, seniman, sastrawan, budayawan, dan pahlawan.
Karena Mochtar dihargai sebagai pahlawan yang berjuang untuk cita-cita
dan berani memikul konsekuensinya, seperti mendekam dalam penjara
bertahun-tahun lamanya, paling tidak orang-orang di kampung halamannya,
di Mandailing, memberikan sebutan kehormatan kepadanya. Menurut
putranya, Ade Armand Lubis, tatkala Mochtar beserta istri dan anak-anaknya
pulang kampung, di sana dia dinyatakan sebagai Raja Pandapotan Sibarani
Sojuangan. Adapun Raja Pandapotan itu gelar Mochtar. Sibarani dan
Sojuangan adalah orang yang berani dan berjuang.
Penamaan lain diberikan oleh Dr Mochtar Pabottingi, peneliti Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia. Ketika Mochtar merayakan hari ulang
tahun ke-80, seorang pembicara, yaitu Mochtar Pabottingi, menamakan
Mochtar Lubis person of character, insan yang berwatak. Di negeri
kita sekarang makin langka person of character itu. Bung Hatta di
zaman pendidikan nasional Indonesia awal tahun 1930-an suka menyerukan
agar tampil manusia-manusia yang punya karakter.
Ketika tahun 1973 diusulkan oleh panitia yang diketuai Jenderal
AH Nasution supaya kepada tiga wartawan pejuang dianugerahkan Bintang
Mahaputra, yaitu BM Diah, Rosihan Anwar, dan Mochtar Lubis, kabarnya
Presiden Soeharto bertanya kepada Jenderal Soemitro: "Mit,
coba beri saya alasan, mengapa Mochtar Lubis harus dapat Bintang
Mahaputra."
Soemitro tidak bisa menjawab ketika itu, akhirnya nama Mochtar
Lubis dicoret. Saya berpendapat, sekalipun sudah anumerta, Mochtar
Lubis pantas diberi Bintang Mahaputra. Semoga Presiden RI masa jabatan
2004-2009 akan memberikan Bintang Mahaputra kepada Mochtar Lubis.
Kini Mochtar Lubis sudah tiada. Ya Tuhan, sambutlah kedatangannya,
bukakanlah pintu selebar-lebarnya baginya, maafkan dosa dan kesalahannya.
Semoga Tuhan menerima arwah Mochtar di sisi-Nya. *
|