Willem Iskander
(Sasyral Hamidy Harahap, Willem Iskander: Si Bulus-Bulus, Si
Rumbuk-Rumbuk (dwibahasa), Penerbit Puisi Indonesia, Jakarta,
1987)
Masyarakat Mandailing membagi wilayahnya menjadi dua bagian. Kawasan di bagian utara dan sedikit di barat dinamakan Mandailing Godang, sedangkan dibagian selatan disebut Mandailing Julu.
Willem Iskander (1840-1876), penyair besar Mandailing, dalam satu sajaknya yang berjudul "Mandailing" melukiskan keadaan alam tanah kelahirannya Mandailing Godang sebagai satu kawasan yang dikelilingi gunung-ganang. Di antaranya gunung berapi yang masih hidup, iaitu Gunung Sorik Marapi yang terletak tidak jauh dari perbatasan antara Mandailing Godang dan Mandailing Julu.
Di tengah-tengah gunung-ganang yang terletak di sebelah timur, barat dan selatan, terhampar dataran rendah Mandailing Godang yang cukup luas dan berhawa panas. Dahulu terdapat banyak rawa-rawa yang mengeluarkan hawa yang tidak sehat dan menjadi sarang nyamuk malaria. Di kemudian hari, dataran itu diolah penduduk menjadi persawahan. Sehingga sekarang Mandailing Godang terkenal sebagai penghasil beras utama di Mandailing.
Kaki-kaki gunung dan tanah-tanah yang tidak digunakan untuk persawahan ditanami penduduk dengan getah (karet). Tanah pendesaan dan lingkungan sekitarnya umumnya ditanami dengan kelapa sehingga Mandailing Godang masyur sebagai sumber kelapa di Mandailing.

Lembah Mandailing dengan latar belakang
Tor Sihite dilihat dari Adian Bania di kaki Sorik Marapi.
Di sini Willem Iskander menulis sajak Mandailing.
(Foto Basyral Hamidy Harahap, 'Willem Iskander: Si Bulus-Bulus
Si Rumbuk-Rumbuk' (dwibahasa),
Penerbit Puisi Indonesia, Jakarta, 1987)