|
Mandailing Julu terhimpit oleh gunung-ganang
yang sebagiannya mencapai ketinggian lebih dari 700 m dari
permukaan laut, dan alam pergunungan ini membuat sebagian
besar Mandailing Julu berhawa sejuk. Bagian selatan dan
barat Mandailing Julu, alamnya makin tinggi dari permukaan
laut sehingga udaranya lebih dingin kalau dibandingkan di
bagian utara.
Keadaan alam yang demikian menyebabkan tempat-tempat tersebut
sangat ideal untuk tanaman kopi di lereng-lereng gunung.
Tanaman kopi diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda
pada abad ke 19 melalui sistem tanam paksa. Pengeluaran
kopinya terkenal sebagai "Mandahiling Coffee"
yang di ekspot ke Amerika and Eropah sebelum Perang Dunia
Kedua. Lereng-lereng gunung juga dimanfaatkan untuk tanaman
getah/karet dan kulit kayu manis.
Penduduk Mandailing Julu umumnya mengolah
persawahan yang sempit di kaki-kaki gunung dan di sepanjang
tepi sungai Batang Gadis dan Batang Pungkut yang mengalir
dari arah selatan ke utara. Petak-petak sawahnya, kecil
dan bertangga-tangga. Kedua sungai tersebut bertemu di satu
tempat yang bernama Muara Pungkut kurang lebih 4 km jauhnya
dari Kotanopan.
Mandailing Julu sejak dulu terkenal kerana
masnya, dari sebelum Belanda masuk banyak orang Agam (Minangkabau)
yang datang mencari mas ke sana. Hingga sekarang bekas tambang/lombong
mas mereka dapat ditemui di sekitar Pakantan, Huta Godang
dan Huta Pungkut yang disebut garabak atau garabak ni Agom
(tambang/lombong mas Agom).
Sungai Batak Gadis yang hulunya terletak
di Gunung Kulabu dekat desa Pakantan melintasi seluruh wilayah
Mandailing dari selatan ke utara dan bermuara di Singkuang
(bahasa Cina, artinya, Harapan Baru) yang terletak di pantai
barat Sumatra. Sungai tersebut dan sungai Batang Pungkut
terkenal banyak mengandung mas. Sungai terbesar di Mandailing
ialah Aek Batang Gadis yang hulunya berada di Mandailing
Julu melintasi Mandailing Godang dari bagian selatan dan
menyusuri bagian utara menuju ke barat.
|