|
Pusat
Mandailing Julu ialah Kotanopan, yang menurut kepercayaan
masyarakat Mandailing di sekitar tempat itulah dahulu kala,
iaitu tak jauh dari Sungai Batang Gadis dan Sungai Aek Singengu
serta sungai Aek Singangir, puterhadap-hadapan bermuara
ke sungai Batang Gadis.
Menurut pesan Namora Pande Bosi kepada
anaknya Si Langkitang dan Si Baitang, apabila mereka menemukan
satu tempat di mana terdapat dua buah sungai yang muaranya
bertentangan dari arah yang berlawanan, di tempat itulah
mereka harus membuka pemukiman, yang mereka namakan Huta
Panopaan, yang kemudian hari menjadi Kotanopan.
Kemudian, Si Langkitang pindah sedikit
ke arah utara iaitu ke satu tempat yang bernama Singengu.
Dari sini, keturunan Si Langkitang tersebar ke berbagai
tempat menjadi raja-raja bermarga Lubis. Sementara saudara
kembarnya, Si Baitang pindah pula ke bagian selatan dan
keturunannya juga tersebar kera kembar Namora Pande Bosi
iaitu Si Langkitang dan Si Baitang pertama kali membuka
tempat pemukiman. Kedua Aek Singengu dan Aek Singangir be
berbagai tempat menjadi raja-raja bermarga Lubis.
Ketika Belanda memasuki Mandailing Julu
menjelang pertengahan abad ke 19, mereka mendirikan benteng
di Singengu dan Kotanopan. Sampai masa kedatangan tentera
Jepun/Jepang di Kotanopan, seorang Kontelir/Kontroler Belanda
berpusat di Kotanopan. Justeru itu, terdapat banyak bangunan-bangunan
berciri kolonial di situ seperti Kantor Pos dan Resthouse.
Kotanopan merupakan pekan utama di Mandailing Julu.
Sila lihat makalah Marga Lubis dan Namora Pande Bosi
oleh Muhammad Said
Tempat duduknya Si Langkitang Si Baitang
|

Hotel Merdeka, Bung Karno dan Muhammad
Hatta berpidato di tangga hotel ini.

Pasar mingguan di Kota Nopan

Bagas Godang di Singengu
Rumahnya Yahya Nasution, panggilan Arun,
pejuang kemerdekaan Indonesia. Isterinya Raja Norain Sutan
Abidin Lubis, yang berasal dari Papan, Perak, Malaysia. Nama
timang-timangannya Sangkot atau Bu. |