Kegiatan
KeMandailingan
Sebuah
Pesta di Pasar Maga
Oleh Arbain Rambey
Kompas 16 Desember 2002
KEBERSAMAAN masih mudah dijumpai di Pasar Maga,
Mandailing Natal, Sumatera Utara. Dalam sebuah hajatan apa pun,
selain sanak saudara, semua tetangga pasti akan terlibat untuk
membantu.
Keterlibatan antartetangga tidak semata sebatas
tenaga. Aneka bahan makanan pun tidak segan-segan mereka berikan
kepada yang punya hajat. Yang punya kelapa membawa kelapa, yang
punya beras berlebih dengan senang hati membawa beberapa kilogram.
Yang punya ayam dan kambing pun sering menawarkan piaraannya walau
tidak sepenuhnya cuma-cuma. Pendeknya, tetangga adalah keluarga
juga.
Sebuah pesta perkawinan bulan Oktober lalu di Pasar
Maga membuktikan bahwa keadaan dunia yang kian egoistis ini belum
berimbas ke sudut-sudut Indonesia. Untuk hidangan pesta kawin
itu, belasan perempuan memasak bersama. Belasan bapak memotong
dan menguliti kambing, sementara sekelompok pemuda menghias rumah
tempat pesta dan menyiapkan ini-itu.
Pesta kawin memang pesta besar. Selain kemudian
menyatukan dua keluarga, sebuah pesta kawin bukanlah kenduri biasa.
Ada aneka ritual di situ, dari adat sampai agama. Adat menyajikan
acara nasihat dan petatah-petitih dari tetua, mengupa-upa untuk
keselamatan mempelai serta musik gordang sembilan nan elok. Sementara,
agama Islam yang dianut hampir semua warga Mandailing memberikan
nuansa teduh dalam musik-musik Islami semalam suntuk serta doa-doa
yang tidak putus-putus.Pasar Maga hari itu memang istimewa. Ada
pesta kawin di sana. Ada tradisi yang tetap berjalan karena memang
dicintai. Dan ada pendatang yang terpesona melihatnya. Di dalam
Indonesia yang keindahannya beraneka ini, Pasar Maga memang satu
di antaranya.(ARBAIN RAMBEY)