|
Selama berabad-abad lamanya dan sampai sekarang
masyarakat Mandailing mempercayai bahawa Namora Pande Bosi adalah
nenek moyang orang-orang Mandailing yang bermarga Lubis.
Menurut legendanya, Namora Pande Bosi berasal dari
Bugis di Sulawesi Selatan. Dalam pengembaraannya dia sampai ke satu
tempat yang bernama Sigalangan di Tapanuli Selatan. Kemudian dia
berkahwin dengan puteri raja di tempat tersebut dan terkenal sebagai
pandai besi yang mulia. Namora Pande Bosi dan isterinya yang bergelar
Nan Tuan Layan Bolan mendapat dua orang anak lelaki yang diberi
nama Sutan Borayun dan Sutan Bugis. (Dalam tarombo marga Lubis yang
disusun oleh Raja Junjungan pada tahun 1897, ada juga tercatat bahawa
nama isteri Namora Pande Bosi ialah Boru Dalimunte Naparila, artinya
puteri Dalimnte yang pemalu).
Pada suatu ketika Namora Pande Bosi pergi meyumpit
burung ke tengah hutan dan di sana dia bertemu dengan seorang puteri
orang bunian dan mengahwininya. Menurut satu cerita, wanita itu
adalah orang Lubu (orang asli). Dari perkahwinannya itu, Namora
Pande Bosi mendapat dua orang anak lelaki kembar yang masing-masing
diberi nama Si Langkitang dan Si Baitang. Ketika kedua anak tersebut
masih dalam kandungan, Namora Pande Bosi meninggalkan isterinya
dan kembali ke Hatongga.
Menjelang dewasa Si Langkitang dan Si Baitang pergi
mencari bapa mereka dan menemukannya di Hatongga. Lalu mereka tinggal
bersama keluarga bapa mereka di tempat tersebut.
Tidak beberapa lama kemudian, terjadilah perselisihan
antara anak-anak Namora Pande Bosi itu dengan anak-anaknya bersama
puteri raja Sigalangan.
Maka Namora Pande Bosi menyuruh anaknya Si Langkitang
dan Si Baitang meninggalkan Hatongga. Mereka disuruhnya pergi ke
daerah Mandailing dan jika mereka menemukan tempat di mana terdapat
dua sungai yang mengalir dari dua arah yang tepat bertentangan (dalam
bahasa Mandailing dinamakan muara patontang) di situlah mereka membuka
tempat pemukiman baru.
Setelah lama mengembara akhirnya Si Langkitang
dan Si Baitang menemukan muara patontang, lantas mereka membuka
pemukiman baru di tempat itu.
Tidak lama setelah ditinggalkan anaknya Si Langkitang
dan Si Baitang, Namora Pande Bosi meninggal dunia dan dimakamkan
di Hatongga. Makam tersebutlah yang akan dipugar. Isterinya Nan
Tuan Layan Bolon yang meninggal kemudian dimakamkan di satu tempat
yang bernama Hombang Bide, kurang lebih 2km dari Hatongga. Makamnya
masih ada di situ sampai sekarang.
Semua keturunan Si Langkitang dan Si Baitang yang
menyebar di seluruh tanah Mandailing dan di tempat-tempat lain dikenali
sebagai orang-orang Mandailing yang bermarga Lubis.
Pada tahun 1963, makam Namora Pande Bosi ditemukan
di Hatongga, dengan petunjuk dari keturunan Raja Sigalangan. Makam
tokoh legendaris yang sangat terkenal itu terletak di tengah persawahan
penduduk setempat.
Makam tersebut berada kurang lebih 2km jauhnya
dari Jalan Raya Lintas Sumatra yang melalui desa Sigalangan, kurang
lebih 14km jauhnya dari kota Padang Sidimpuan (ibu kota Kabupaten
Tapanuli Selatan).
Atas usaha sejumlah orang Mandailing bermarga Lubis,
kurang lebih 1.6km panjangnya jalan dari desa Sigalangan ke arah
makam Namora Pande Bosi sudah dibangunkan sehingga dapat ditempuh
dengan kenderaan bermotor (kereta). Tetapi jalan menuju ke makam
tersebut, yang panjangnya kurang lebih 232 meter masih harus dibangun
supaya dapat dilalui dengan berjalan kaki atau dengan menggunakan
kenderaan.
Jika jalan yang panjangnya kurang lebih 232 meter
tersebut sudah dibangun, maka para penziarah yang selalu banyak
berdatangan mengunjungi Namora Pande Bosi, di antaranya dari Malaysia,
akan mudah mendatangi makam yang dimuliakan itu. Menurut rencana
jalan yang panjangnya 232 meter itu akan dibangun dengan lebar 3
meter.
Sila
lihat makalah Namora Pande Bosi oleh Muhammad Said dan Proposal
Pemugaran Dan Pembuatan Jalan Makmm Namora Pande Bosi
|