Kekrabatan
Namora
Pande Bosi
Oleh Mohammad Said
Mohammad Said, pengarang terkenal termasuk Atjeh
Sepanjang Sejarah, memberi tanggapan tentang kemungkinan masa munculnya
tokoh Namora Pande Bosi yang dipandang sebagai nenek moyang marga
Lubis. "Dalam tahun 1887 diketahui oleh penguasa Belanda bahwa
Raja Gunung Tua (Padang Lawas) menyimpan sebuah patung pusaka dari
tembaga, dikenal sebagai patung batara Lokanatha. Patung itu diambil
Belanda dan kini disimpan di Museum Pusat. Sarnaja Brandes yang
segera meneliti patung itu, berhasil memperkenal teksnya huruf Kawi
sebagai berikut:
Sarjana tersebut menterjemahkan kalimat permulaaan
prasasti di atas ke bahasa Belanda sebagai berikut:
"Heil" Caka-jaren verloopen 946, in de
maand Caitra op den derden dag van lichte helft dan de maand of
vrijdag, toen heeft Surya, de meester smid did beeld van den). Heere
Lokanatha vervaardigd..."
Terjemahan bebas ke bahasa Indonesia demikian:
"Dirgahayu Tahun Caka 946 bulan Caitra, hari
ke-3 bertepatan Juma'at dewasa itulah Surya, panda besi, selesai
mengukir (patung) batara Lokanatha ini..."
Diperlihatkan pada teks aslinya tentang tokoh Surya,
disebut jurupandai. Pada salinan bahasa Belanda dipertegaskan dengan
istilah meester smid, yang artinya tidak lain pandai besi. Ini serta
merta mengingatkan kita akan nama Pande Bosi, jelasnya Namora Pande
Bosi. Dari ukiran itu dapat dipahami bahwa Suraya telah berhasil
membuat patung seorang dewa atau batara yang tentunya untuk dipersonifikasikan
menjadi pujaan rakyat dewasa itu. Seorang ahli dan tanpa kuatir
akan tertimpa ketulahan menukangi tembaga untuk jadi pujaan, bukannya
seorang sembarangan atau tukang biasa saja. Ia tentunya selain ahli
adalah juga seorang yang terkemuka, berderajad dan amat disegani.
Sedikit banyaknya dengan nama itu biasa juga membuat kita mengarahkan
pertanyaan, apakah tokoh itu bukan tokoh zaman dulu yang dikenal
rakyat bernama Namora Pande Bosi. Tentunya bukan sekedar kebetulan
saja ada seorang jurupandai de meester smid pembuat Lokanatha, sedangkan
ada juga Pandai Bosi yang dikenal oleh rakyat dari abad ke abad.
Dari sumber lain dapat ditambahkan, bahwa sebelum
Namora Pande Bosi yang bermukim di Hutalobu Hatongga Sigalangan
masih ada lagi yang bernama Namora Pande Bosi, yaitu kakek (datuk)
dari kakek Namora Pande Bosi yang di Hutalobu tersebut di atas.
Namora Pande Bosi I tersebut bermukim di Padang Bolak Ruar Tonga
(Sahit ni Huta).
Menoleh latar belakang ini 3 kemungkinan dapat
diperkirakan mengenai kapan Namora Pande Bosi itu. Yakni:
1) Zaman Surya tahun 946 atau sekitar tahun 1024
M, karena Surya adalah seorang juru pandai besi
2) Zaman eskpansi Majapahit tahun Caka 1287 (1365 M) karena Gajah
Mada mengetahui suatu kerajaan Mandailing yang tentunya dipimpin
oleh seorang terkemuka, diperkirakan Namora Pande Bosi
3) Zaman yang lebih muda yaitu hanya sekitar abad ke 16 M. Menurut
tambo (stamboom) yang diperbuat atau disimpan oleh Soetan Koemala
Boelan.
Mengenai zaman Surya, kemungkinanya dapat diperhatikan
dari patung Lokanatha tersebut di mana disebut ada seorang pandai
besi bernama Snya. Bahwa nama itu tidak pernah dikenal (baca: tidak
pernah disebut-sebut) oleh penduduk, tidaklah merupakan persoalan,
sebab adalah biasa bahwa penduduk tidak pernah menyebut nama pribadi
tokoh yang dihormati, sehingga apa yang diketahui adalah gelar yang
diambil dari keistimewaannya, yaitu Namora Pande Besi. Bahwa jarak
zaman itu cukup jauh dengan apa yang sebegitu jauh diketahui oleh
penduduk nama keturunan terdekat sesudah Namora Pande Bosi, si Langkitang
dan si Baiting (pura kembar Namora Pande Bosi) bukan sesuatu yang
mustahil. Karena bukan jarang, sesuatu cerita dari mulut ke mulut
bisa saja melangkahi beberapa generasi sebelum sampai kepada si
Langkitang dan si Baitang. Atau sesudah si Langkitang dan si Baitang
ada lagi beberapa generasi di antaranya sebelum sampai kepada si
Alogo Raja Partomuan (yang disebut sebagai anak si Baitang).
Mengenai masa ke-2 (zaman Majapahit), kemungkinannya
dapat dilihat dari masa ekspansi kerajaan tersebut ke Mandailing,
yaitu sekitar tahun 1365. Bukan mustahil bahwa di bawah Namora Pande
Bosilah kerajaan Majapahit terdengar kepada Mangkubumi Gajah Mada,
yang membuat ia merencanakan nama Mandailing turun dalam sumpah
Palapanya.
Mengenai masa ke-3, bila diambil dari nama tokoh-tokoh
yang diketahui menjadi keturunan dinasti Pande Bosi dari sekedar
mendapat 12 generasi, sebagai yang dapat diteliti dari silsilah
atau keturunan Namora Pande Bosi itu ke sebelah cabang yang menurun
kepada Soetan Koemala Boelan, * kalau ini hendak dijadikan pegangan
jaraknya dari zaman Namora Pande Bosi sampai Soetan Koemala Boelan
hanya sekitar 300 tahun saja.
Mana yang lebih tempat dari 3 masa tersebut, tentu
meminta waktu untuk memperoleh penegasannya. Saya sekedar memperlihatkan
arah studi. Andai kata Namora Pande Bosi memerintah Tapanuli Selatan
termasuk Padang Lawas, mungkin ia pernah beribu kota di Gunung Tua
tempat patung Lokanatha disimpan sebagai barang pusaka oleh raja
Gunung Tua yang disebut oleh kontroler Belanda ditemunya pada tahun
1885 itu".
Kutipan panjang di atas jelas menunjukkan betapa
sukarnya mencari kepastian mengenai sejarah dan perkembangan masyarakat
Mandailing di masa lalu.
* Soetan Koemala Boelan lahir 8 Maret/Mac 1888,
meninggal 21 Juni/Jun 1932. Beliau menjadi Raja Panusunan Bulung
di Tamiang, Mandailing Julu dari tahun 1915 sampai tahun 1932. Beliau
adalah seorang raja marga Lubis keturunan Namora Pande Bosi
|