Lingkungan / Alam
Sekitar
Siaran Pers
Hasil Penelitian Bersama Conservation International
Indonesia, LIPI, PusLitBang Hutan dan Konservasi Alam - Departemen
Kehutanan dan Pemda Mandailing Natal
Menyingkap
Tabir "Kekayaan" Bumi Mandailing Natal
Jakarta, 18 Mei 2004, Kawasan yang baru saja ditunjuk
sebagai Taman Nasional Batang Gadis (TNBG), Mandailing Nata1 (Madina),
Sumatera Utara, seluas 108.000 Ha ternyata merniliki kekayaan hayati
yang tinggi. Fakta ini terungkap lewat survei awal yang dilakukan
Conservation International (CI) Indonesia bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI), Pusat Penelitian dan Pengembangan (PusLitBang)
Hutan dan Konservasi Alam- Departemen Kehutanan dan pemerintah daerah
Kabupaten Mandailing Natal. Survei ini dilakukan selama kurang lebih
6 minggu, dari 2 Februari hingga 20 Maret 2004.
Survei terpadu ini berhasil memberikan gambaran
yang dapat dijadikan sebagai masukan awal dalam menentukan model
pengelolaan, cakupan wilayah, zonasi dan hal-hal terkait lainnya.
"Kawasan Taman Nasional Batang Gadis ini merupakan harta yang
paling berharga bagi masyarakat di sekitarnya. Selain dapat memenuhi
kebutuhan sehari-hari seperti terjaminnya suplai air bersih, masyarakat
juga terhindar dari bencana alam seperti yang belum lama ini terjadi
di Bahorok, tetapi dengan catatan jika masyarakat Madina menjaga
hutannya dengan baik," tutur Dr. Endang Sukara, Deputi Ketua
LIPI Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati.
Berdasarkan hasil penelitian flora, dalam plot
seluas 200 meter persegi terdapat 222 jenis tumbuhan berpembuluh
(vascular plant) atau sekitar 0,9% dari flora yang ada di Indonesia
(terdapat sekitar 25.000 jenis tumbuhan berpembuluh di Indonesia).
Sementara dalam plot seluas 1 Ha, terdapat 184 jenis pohon yang
berdiameter lebih dari 10 cm dengan jumlah pohon sebanyak 583. Survei
ini juga berhasil menemukan bunga Padma (Raffesia sp.) jenis baru.
Hingga kini, bunga tersebut belum diberi nama ilmiah dan masih diteliti
oleh pakar di Herbarium Bogoriense, Pusat Penelitian Biologi-LIPI.
"Kawasan Taman Nasional Batang Gadis ini ternyata
mempunyai kekayaan hayati flora yang tinggi, sehingga harus tetap
dijaga kelestariannya. Sebab, masih banyak jenis-jenis tumbuhan
yang secara ilmiah belum dikenal serta belum diketahui manfaatnya
bagi kehidupan manusia dan ini perlu dikaji lebih lanjut,"
imbuh Dr. Kuswata Kartawinata, pakar hutan tropis yang juga adviser
CI Indonesia.
Di sisi lain, tim survei fauna mengidentifikasi
berbagai jenis mamalia di daerah TNBG dan sekitarnya pada ketinggian
50-1350 meter di atas permukaan laut (mdpl). Melalui perangkap kamera,
tim ini berhasil merekam gambar harimau Sumatera (Panthera tigris
sumatrae), kambing hutan (Naemorhedus sumatraensis), tapir (Tapirus
indicus), kucing hutan (Catopuma temminckii), kancil (Tragulusjavanicus),
binturong (Arctitis binturong), beruang madu (Helarctos malayanus),
rusa (Cervus unicolor) dan kijang (Muntiacus muntjac) dan landak
(Hystix brachyura).
"Hal ini sangat luar biasa, hanya dalam enam minggu saja kami
sudah berhasil mengidentifikasi beberapa satwa langka, padahal di
lokasi lain butuh waktu tahunan. Selain itu, kami juga mengidentifikasi
adanya empat jenis primata dan keragaman jenis tikus hutan yang
tinggi," jelas Dr. H. M. Bismark, Ahli Peneliti Utama (APU)
Biologi Satwa Liar dan Konservasi dari PusLitBang Hutan dan Konservasi
Alam-DepHut. Hal ini, lanjutnya, menandakan fungsi satwa sangat
mendukung untuk proses regenerasi dan suksesi hutan dalam mempertahankan
keseimbangan ekosistem.
Di sisi lain, tim yang dipimpin Drs. Boeadi, pakar reptil dan amfibi
LIPI berhasil menemukan amfibi tak berkaki (Ichtyopis glutinosa)
- merupakan jenis satwa purba - dan katak bertanduk tiga (Megophyris
nasuta) yang sudah langka hanya dapat dijumpai (endemik) di Sumatera.
Catatan jenis burung di kawasan ini juga bertambah
dari 140 menjadi 242 jenis. Dari 242 jenis tersebut, 45 merupakan
jenis burung yang dilindungi di Indonesia, 8 jenis secara global
terancam punah, 11 jenis mendekati terancam punah. Ditemukan juga
dua jenis burung yang selama ini dikategorikan sebagai 'kekurangan
data' (data deficient) oleh IUCN karena sedikitnya catatan. Dari
total jenis burung tersebut 13 jenis masuk ke dalam kategori Burung
Sebaran Terbatas yang berkontribusi pada terbentuknya Daerah Burung
Endemik dan Daerah Penting bagi Burung (DPB). " Ada satu jenis
burung yang keberadaannya di Sumatera masih diragukan dan tim kami
menemukannya, bahkan dengan bukti foto, yaitu pedendang kaki sirip
(Heliopais personata)," ujar Sunarto, ahli keanekaragaman hayati
CI Indonesia. Tambahnya, kawasan ini merupakan salah satu lokasi
transit burung-burung migran yang datang dari belahan bumi utara.
Selain tumbuhan dan hewan tingkat tinggi, CI Indonesia
dan Bioteknologi-LIPI juga mencoba melakukan hal baru yaitu mengidentifikasi
mikroba hidup dalam jaringan tumbuhan (endopyte) yang ada di hutan
tropis Mandailing Natal, guna menyelamatkan jenis mikroba tersebut
dari kepunahan. Konservasi mikroba dari hutan tropis Indonesia belum
pernah dilakukan oleh lembaga mana pun. Hingga kini, tim survei
telah berhasil mengumpulkan 1500 jenis mikroba yang terdiri dari
bakteri, kapang dan jamur .Mikroba ini banyak memberikan manfaat
antara lain sebagai sumber obat-obatan, pupuk organik, bio-insektisida
ataupun bio-fungisida yang menunjang sektor pertanian maupun penghasil
enzim dan hormon yang dibutuhkan oleh sektor industri. Sekali potensinya
terkuak, Indonesia dapat membangun bioindustri bernilai tinggi tanpa
harus mengorbankan kekayaan bumi Madina.
"Kami berharap basil penemuan awal ini menjadi
sumber acuan bagi pengelolaan kawasan taman nasional yang dikelola
secara kolaboratif berdasarkan keselarasan antara kepentingan pelestarian
keanekaragaman hayati dan kepentingan masyarakat lokal, nasional
dan global" tukas Dr. Jatna Supriatna, Regional Vice President
CI Indonesia.
Keterangan lebih lanjut hubungi:
Diah R. Sulistiowati (Sulis)
CI Indonesia-Kantor Medan
Jl. Rajawali No.38, Sei Sikambing B, Medan, Sumatera Utara, 20122
Telp. 061-8454534,08128078472
Email: sulis@conservation.or .id
Amalia Firman
CI Indonesia-Kantor Jakarta
Jl. Pejaten Barat No. 16A Jakarta 12550
Telp. 021-78838624, ext 114, Fax. 021-7896723
Email: amalia@conservation.or.id
Conservation International
(CI) adalah organisasi non-profit internasional yang menerapkan
inovasi dalam bidang ilmu pengetahuan murni, ekonomi, kebijakan
dan partisipasi masyarakat untuk melindungi wilayah-wilayah dengan
keanekaragaman hayati tinggi di dunia. CI bekerja di lebih dari
30 negara. Untuk informasi lebih lanjut kunjungi www.conservation.org
atau www
.conservation.or.id.
|