Lingkungan / Alam
Sekitar
Siaran Harapan
Jelajahi
Rimba Batanggadis
SH/bayu dwi mardana. Penentuan
titik menarik di rimba Batanggadis.
BATANGGADIS - Rimba alami Batanggadis selalu menarik
gairah petualangan siapa saja. Dengan bentang alam cukup lengkap-hutan
hujan dataran rendah perbukitan, hutan pegunungan rendah dan hutan
pegunungan tinggi-Batanggadis menyimpan keanekaragaman hayati cukup
tinggi. Jadi penjelajahan pun dimulai dari sini.
"Stop! Stop, Bang!" seru Diah Rahayuningsih (26) memecah
keheningan. Lengkingan suaranya jelas mengejutkan seisi mobil. Edi,
supir perjalanan kami, segera memarkir mobil di tepi jalan. Seperti
tak mau kehilangan waktu, Diah segera menyeruak keluar. "Pelan-pelan,
ya
. Coba itu lihat di pucuk dahan pohon buah," bisik
dara yang akrab disapa Sulis itu. Di sebelahnya, Ahmad Zulkani segera
membidikkan kamera digital. Sedikit disimak lewat layar LCD, wartawan
Kompas itu pun segera mengabadikan gambar. Tak lama ia tersenyum
puas.
Ahmad pantas berbangga sebab posisi sepasang Rangkong di pucuk
dahan tergolong langka. Apalagi sepasang burung rangkong (hornbill)
yang sedang bercumbu itu cuma bertengger beberapa menit saja. Agaknya
kedatangan membuat mereka merasa "risih". Maklum, karena
jarang melihat kejadian ini kami sedikit ribut saat keluar dari
dalam mobil.
"Di kawasan ini tercatat sembilan dari sepuluh jenis burung
rangkong yang ada di Sumatera," sebut Erwin Parbatakusuma dari
Conservation International (CI) Indonesia yang ikut menemani penjelajahan
ini. Ia cuma senyum-senyum saja melihat tingkah kami tadi. Rangkong
memang menarik sebab ia punya paruh besar yang mirip tanduk. Di
hutan alami kawasan Sumatera, burung-burung ini relatif mudah dijumpai
- termasuk di kawasan Batanggadis.
Bakal
Taman Nasional
Batanggadis adalah kawasan rimba alami yang berada di wilayah Kabupaten
Mandailing Natal (Madina). Kabupaten ini berpusat pemerintahan di
kota Panyabungan. Rencananya, awal tahun ini Batanggadis ditunjuk
sebagai taman nasional. "Targetnya, Februari. Kami cukup optimis
kok," tegas Ismayadi Samsoedin, Northern Sumatra Corridor Project
Manager CI Indonesia sebelum kami memulai penjelajahan.
Perjalanan menuju rimba Batanggadis amat mengasyikkan. Perbedaan
kontur ketinggian dengan jalan aspal berliku mengingatkan kita pada
kawasan wisata Puncak, Cianjur, Jawa Barat. Hanya saja bedanya,
perjalanan ke Batanggadis terasa kental dengan nuansa petualangan.
Apalagi bila menembusnya dengan kendaraan gardan ganda, macam Land
Rover. Wuih, gairahnya terasa sampai ubun-ubun.
Betapa tidak, di kiri-kanan jalan masih dominasi tutupan vegetasi
hijau. Walau ada yang terlihat bolong-bolong oleh konversi lahan
dan illegal logging, rimba Batanggadis termasuk kawasan alami yang
masih tetap terjaga.
Saat menjelajahi rimba Batanggadis, Sulis bercerita soal kepedulian
masyarakat untuk memproteksi kawasan yang masih tersisa itu. Jadi
tak perlu heran bila usulan kawasan Batanggadis sebagai taman nasional
justru datang dari masyarakat. Menariknya, pemerintah kabupaten
merespons dengan bagus.
"Itu cerita yang bagus sebetulnya. Di Indonesia, usulan sebuah
kawasan sebagai taman nasional kebanyakan datang dari (pemerintah)
pusat. Jadi nggak usah heran kalau sering terjadi konflik dengan
masyarakat sekitar kawasan," papar Sulis yang bekerja sebagai
Communication Specialist CI Indonesia.
Sorik Marapi
Petualangan lainnya adalah mendaki gunung Sorik Marapi (2.145 mdpl).
Gunung ini masih termasuk rangkaian Bukit Barisan. Menurut catatan,
gunung ini terakhir meletus pada 1982. Dalam perjalanan ke Batanggadis,
kami sempat singgah ke kawasan Sorik Marapi. Kalau ingin melakukan
pendakian, disarankan melapor pada petugas Badan Meteorologi dan
Geofisika yang berkantor di Sibanggor Tonga. Selain untuk keamanan
kita, para petugas akan memberikan petunjuk jalur dan lainnya. Jalur
paling enak lewat Sibanggor Julu. Kawah akan tergapai dalam tempo
tiga jam perjalanan.
Walau
tak begitu tinggi, pendakian ke puncak Sorik Marapi akan memberikan
pengalaman menarik bagi wisatawan. Terlebih pemandangan hutan di
kaki gunung masih terpelihara dengan baik dan kaya dengan beragam
jenis satwa liar. Kekayaan satwa liar rimba Sorik Marapi pernah
didata oleh Mistar (Fakultas Biologi Universitas Medan Area) dan
Sri Eva Meyli (Yayasan Kanopi, Medan) pada awal 2003. Lewat sebuah
survei di desa Sibanggor Julu, Kecamatan, Aek Nopan - terletak pada
0o42' 29. LU, 99o 34' 03. BT dan tinggi 920-1500 mdpl - mereka menemukan
sejumlah reptilia dan amfibi. Jumlahnya ada 8 famili, 13 marga,
15 spesies, dari dua bangsa (ordo) yaitu amfibia dan reptilia.
Pada bangsa amfibi diperoleh lima jenis dari tiga famili: Bufonidae
(Bufo asper, Pelophryne sp.), Ranidae; (Fejervaria limnocharis,
Rana erythraea, Rana nicobariensis), Rhacophoridae (Polypedates
leucomystax). Sedang reptilia lima famili: Agamidae (Bronchocella
chrystatella, Aphaniotis fusca), Gekkonidae (Cyrtodactylus lateralis),
kadal Scincidae (Mabuya multifasciata), Ular Colubridae (Ahaetulla
prasina, Pareas laevis, Ular sp1), Elapidae (Maticora bivirgata),
Viperidae (Trimeresurus popeorum).
Survei itu juga menemukan satwa liar lain, seperti simpai (Presbytis
melalophos), ungko (Hylobates agilis), siamang (Hylobates syndactylus),
bajing kebun (Callosciurus notatus), Babi alang-alang (Sus scrofa)
dan kijang (Muntiacus muntjac).
Kabarnya, penduduk masih menjumpai harimau sumatera (Panthera tigris
sumatrae) dan orangutan (Pongo abelii). Yang terakhir ini konon
sudah 30 tahun tak pernah dijumpai lagi. Survei terakhir (Wich,
Utami & Singleton, 2000) tak menjumpai tanda-tanda kehadiran
orangutan di sekitar Sungai Batanggadis.
Djojoasmoro (2003) melaporkan bahwa orangutan masih dijumpai di
Cagar Alam Dolok Sibualbuali dalam kondisi yang kritis karena mengalami
tekanan habitat dari penebangan dan perburuan liar.
Burung-burung juga banyak dijumpai di antaranya beberapa jenis
elang melintas terutama di sekitar puncak belerang (Ictinaetus malayensis,
Spizaetus kienerii), satu jenis rangkong juga sering terlihat melintas.
(Lihat Boks: Burung-burung di Gunung Sorik Marapi) Kini, kawasan
gunung Sorik Marapi sebelah timur bagian utara atau sebelah barat
desa Sibanggor Julu mengalami tekanan untuk penanaman jeruk. Di
daerah tersebut telah dibuka lebih dari 25 hektar. Ini dilakukan
atas inisiatif dan kesepakatan antarpemuka adat desa. Pasalnya,
kebun jeruk di sekitar permukiman desa Sibanggor Julu telah rusak
dan lahan telah mencapai kritis hara.
Menurut Nasution, warga Sibanggor Julu, jeruk memang tak lagi jadi
primadona. Beberapa tahun belakang, kualitas hasil panen dirasakan
terus menurun. Ia sendiri mengaku menelantarkan kebun jeruk di bekalang
rumahnya. "Ya, saya hidup dari uang pensiun saja," tukas
veteran perang kemerdekaan RI ini, tersenyum.
(SH/bayu dwi mardana/ darma lubis)
Copyright © Sinar Harapan 2003
|