Lingkungan / Alam
Sekitar
Siaran Harapan
Petualangan
di Taman Nasional Batang Gadis Menyapa Keramahan Bumi Mandailing
Panyabungan - Sumatera Utara masih menyisakan koridor
hutan yang menarik dijelajahi. Coba saja pergi ke Taman Nasional
Batang Gadis (TNBG). Kawasan yang berada di wilayah Kabupaten Mandailing
Natal ini menyuguhkan medan yang beragam, dari dataran rendah, bukit
hingga puncak gunung berapi. Asyiknya, di beberapa titik terdapat
rimba lebat, tempat hidup aneka satwa dan tumbuhan. Sayang, penebangan
liar menjadi musuh utama kawasan ini.
"Silakan masuk. Ayo kita tunggu teman-teman di
dalam saja," ajak Sayuti Nasution, ramah. Kepala Desa Sibanggor
Tonga ini tak sekadar basa-basi. Keramahan itu terus berlanjut dengan
undangan buka puasa bersama keluarganya. Dengan senang hati, kami
tak melewatkan undangan itu.
"Di sini, nebang-nebang kayu tidak ada. Dari dulu, masyarakat
sudah tahu akibatnya. Mereka takut longsor, seperti daerah lain,"
ujar Sayuti membuka obrolan. Bila ada yang nekat tebang pohon, sanksi
hukum adat telah menunggu sang pelaku. Karena itu Sayuti bangga,
hutan di sekitar wilayah Sibanggor Tonga masih terlihat hijau.
Sibanggor Tonga adalah salah satu daerah penyangga kawasan TNBG.
Kawasan ini ditetapkan menjadi taman nasional ke-43 berdasarkan
keputusan Menteri Kehutanan No. 126/ Menhut-11/ 2004 pada 29 April
2004. Tak seberapa jauh dari daerah Sayuti terdapat sumber air panas
dan belerang alami. Di belakang, Gunung Sorik Marapi berdiri gagah.
Ini gunung berapi setinggi 2.145 mdpl.
"Sepengetahuan saya gunung ini terakhir kali meletus tahun
1986," cerita Sayuti. Bapak 13 anak ini menjadi saksi atas
peristiwa meletusnya gunung tersebut. Ledakan yang terjadi tak besar,
hanya memuntahkan debu dan lahar panas mengalir ke daerah Kabupaten
Pasaman.
Menurut literatur, Gunung Sorik Marapi juga telah diidentifikasi
sebagai salah satu tempat yang memiliki panorama tercantik di dunia.
Karena dekatnya dengan sistem magma, danau vulkanik juga dapat digunakan
sebagai sarana untuk memperkirakan terjadinya letusan gunung dengan
cara yang unik. Sementara itu, menurut Departemen Energi dan Sumber
Daya Mineral (2004) kawasan Sorik Marapi juga memiliki potensi sumber
panas bumi total sebesar 400 megawat yang merupakan satu dari lima
daerah berpotensi terbesar di Sumatera.
"Kalau ke puncaknya cuma 4 jam saja," kata Sayuti, enteng.
Secepat itu? Kami lantas tak percaya. Maklum, gunung ini miskin
jalur "bonus", alias jalan datar. Seluruhnya jalur mendaki
yang curam, mirip-mirip jalur Gunung Putri kalau kita mau naik Gunung
Gede-Pangrango. Resep pendakian Sayuti terbongkar, "Saya sering
ke puncak untuk ngambil belerang untuk pabrik belerang di sini."
Lima tahun lalu, pabrik ini masih ada. Dari pekerjaan mengangkut
belerang, Sayuti mendapat upah Rp 40.000. "Sekali angkut bisa
dapat 40 kg."
Atap Ijuk
Usai menikmati keramahan Sibanggor Tonga, kami segera pergi ke
beberapa sumber air panas. Salah satunya, berada di pinggir jalan
raya wilayah Sibanggor. Di tempat ini, beberapa fasilitas sudah
terbangun, seperti kolam pemandian air panas, kamar mandi dan musala.
Sayang, fasilitas ini perlu perawatan lanjutan.
Kalau mau mendapat pengalaman yang lebih, ada beberapa sumber air
panas yang letaknya di dalam hutan. Jalan setapak yang naik turun
dan melintas sungai menjadi suguhan utama. Asyik kan?
Wilayah Sibanggor terdiri dari tiga desa: Sibanggor Jae, Sibanggor
Tonga dan Sibanggor Julu. Bila Anda berada di ketiga desa ini dijamin
akan betah berlama-lama. Dengan kontur yang menaik, pemandangan
desa dari tempat yang tinggi terlihat begitu cantik. Semuanya masih
tradisional dan alami. Apalagi di desa Sibanggor Tonga dan Sibanggor
Julu, rumah-rumah penduduk terlihat asli dengan gaya rumah panggung
beratapkan ijuk.
Penduduk memakai ijuk sebagai bahan utama atap rumah karena di
daerah ini udaranya banyak mengandung belerang. Bila memakai bahan
seng, atap jadi cepat berkarat. Gas belerang datang dari kawah puncak
Gunung Sorik Marapi.
Bicara rumah dengan atap ijuk, Bupati Madina Amru Daulay akan mengeluarkan
keputusan yang mewajibkan penduduk untuk memakai ijuk sebagai atap
rumah. "Tahun ini kami akan mengeluarkan peraturan daerah yang
melarang pembangunan atap rumah dari bahan seng," tandas Amru.
Bunga Jenis Baru
Tim survei Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam, Museum Zoologi-LIPI,
Peneliti Conservation International Indonesia, Dinas Kehutanan Madina
- yang dilakukan pada 6 Februari - 20 Maret 2004 - berhasil menemukan
jenis bunga padma (Rafflesia sp.) yang diduga sebagai jenis baru.
Bunga tersebut ditemukan di daerah yang relatif datar di Gunung
Sorik Mas Kecil (Anak Gunung Sorik Marapi), sekitar 3 km atau 2
jam jalan kaki dari Desa Sibangor Julu.
Lokasi tempat penemuan tergolong hutan primer yang tidak terganggu,
memiliki tutupan kanopi yang rapat, sekitar 75 persen. Tanah di
lokasi tersebut berwarna hitam dengan kondisi yang tampak lembab.
Ditemukan banyak liana yang menjalar ke atas kanopi dan di atas
tanah.
Bunga padma yang ditemukan tumbuh di liana pada elevasi sekitar
1.500 meter dpl. Berbeda dengan bunga padma pada umumnya yang berwarna
kemerahan, bunga yang ditemukan berwarna hitam, meski dalam kondisi
segar dan yang belum mekar.
Pada batang liana yang sama, terdapat bolep (bulb) lain berukuran
sebesar jambu (diameter sekitar 5 cm) sudah mekar, yang kemungkinan
berbeda jenis. Jenis yang lebih kecil ini memiliki warna kulit agak
kecoklatan, dan bagian atas merah. Diameter lubang tengah sekitar
2 - 3 cm.
Menurut beberapa anggota masyarakat, di lokasi tersebut terdapat
tiga macam bunga padma. Jenis yang ketiga memiliki warna merah muda,
berukuran lebih besar dari yang pernah ditemukan. Dalam satu akar
biasanya ditemukan enam hingga delapan bolep. Berdasar keterangan
warga, bunga yang mekar biasanya dapat bertahan hingga tiga bulan.
Tak jauh dari Sopotinjak - sering disebut sebagai kawasan Puncak
Mandailing Natal - masuk ke hutan kemudian naik sedikit sekitar
30 m terdapat danau yang sangat cantik. Masyarakat desa mengenalnya
dengan danau setan, karena menurut masyarakat danau ini terkenal
angker, tempat berkumpulnya para makhluk halus, sehingga jarang
didatangi masyarakat.
Danau tersebut cantik sekali dan masih terdapat banyak satwa yang
mampir untuk melepas dahaga di danau ini. "Terbukti dari camera
trap (kamera perangkap) yang dipasang tim fauna pada survei kehati
di TNBG beberapa waktu lalu, hampir seperempatnya ditemukan di sini,"
kata Sunarto, peneliti biologi dari Conservation Internastional
Indonesia.
Bagi penggemar petualangan alam bebas tempat ini cukup memberikan
tantangan. Bukan saja medan yang beragam, pacet (binatang kecil
penghisap darah)juga jadi "musuh" bersama. Baru menapak
saja, beragam jenis pacet sudah menghampiri, dari yang berwarna
coklat sampai hijau, siap untuk menikmati setetes darah Anda.
TNBG seluas 108.000 ha keseluruhannya berada di wilayah Kabupaten
Mandailing Natal (Madina, Sumatera Utara). Kawasan itu memberikan
jasa lingkungan yang besar, khususnya bagi masyarakat Madina dan
Sumatera Utara umumnya. Sebagai daerah tangkapan air dan hulu dari
beberapa sungai besar di Madina, kelestarian kawasan ini sangat
penting untuk menjamin pasokan air. Terpenuhinya kebutuhan air sangat
vital bagi kegiatan perekonomian masyarakat agraris di kawasan itu.
(SH/bayu dwi mardana/darma lubis)
Copyright © Sinar Harapan 2003
|