Lingkungan / Alam
Sekitar
Kompas Senin, 21 November 2005
Pengungsi
di Tabuyung Masih Sengsara
Tabuyung, Kompas - Korban bencana tsunami di Desa Tabuyung, Kecamatan
Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara,
masih merana karena sangat minim perhatian. Sebagian besar dari
1.200 warga hidup sengsara di tenda-tenda atau gubuk darurat. Bantuan
perbaikan rumah dan logistik amat minim. Hingga kini mereka masih
menganggur karena peralatan melaut yang menjadi sumber mata pencarian
mereka hancur. Lahan pertanian yang hancur kini sebagian ditanami
kelapa sawit oleh beberapa pengusaha.
Saat Tim Lintas Timur-Barat Kompas ke Tabuyung, Sabtu (19/11),
desa itu tampak sepi dari kegiatan. Menurut Penjabat Kepala Desa
Tabuyung Masmudi Nasution, 60 persen warganya adalah nelayan. Saat
ini hanya sekitar seperempatnya yang bisa kembali melaut dengan
peralatan minim. Menurut dia, bantuan hanya didapatkan dua bulan
pertama pascatsunami dan gempa. "Kami sekarang kesulitan makan,"
katanya.
Desa itu tertimpa bencana dua kali. Pada gempa dan tsunami 26 Desember
2004, 50 rumah warga hancur, dan pada gempa Nias 28 Maret, 680 rumah
hancur. Untuk mencapai Tabuyung memang sangat sulit karena lokasinya
terpencil dan jalan sebagian rusak. Lokasi Tabuyung sekitar 140
km dari Panyabungan, ibu kota Kabupaten Mandailing Natal. Jalan
lintas barat Sumatera berakhir 17 km dari desa itu.
Menurut Masmudi, hingga saat ini baru 82 rumah yang telah dibangun
oleh Badan Amal Zakat. Rencana pembangunan rumah oleh Pemerintah
Daerah Mandailing Natal hingga kini belum terealisasi satu pun.
Sejumlah warga yang ditemui berharap pemerintah juga memerhatikan
nasib mereka. "Jangan hanya Aceh dan Nias yang diberi perhatian.
Sebagai korban tsunami, kebutuhan kami juga sama dengan korban tsunami
di Aceh dan Nias," kata Muda Kelana, seorang korban.
"Mungkin karena desa ini terisolir atau karena korban meninggal
hanya dua orang sehingga kami kurang diperhatikan. Padahal, rumah
dan harta benda warga hancur semua," kata Muda Kelana, seorang
warga korban. Beberapa warga kini bekerja serabutan untuk mendapat
sekadar penghasilan.
(AIK/NAL/YNS)
|