""

www.mandailing.org

malaysian / indonesian | english

Isi : : Lingkungan / Alam Sekitar

 

isi

rencana

links

kontak

gambar

gambar lama

 

Lingkungan / Alam Sekitar

Tabuyung

LAPORAN KUNJUNGAN KERJA DAERAH
ANGGOTA-ANGGOTA DPD PROPINSI SUMATERA UTARA
TANGGAL 24 MARET 2005 - 2 MEI 2005

Bersamaan dengan adanya gempa di Nias telah menimbulkan rentetan bencana alam di sekitar pantai barat di Desa Tabuyung, Kabupaten Mandailing Natal. Bencana alam yang dialami oleh masyarakat Desa Tabuyung adalah tsunami yang hampir sama dengan bencana tsunami di NAD. Bencana ini juga telah banyak menghancurkan rumah-rumah masyarakat, sekolah, pendidikan terhenti, dan menyebabkan trauma. Oleh
karena itu kami meminta Pemerintah secara serius memperhatikan bencana alam di daerah terpencil yang kurang terekspos oleh media massa dan elektronik.

Takut Gempa, Ribuan Warga Madina Bertahan di Pengungsian

Kapanlagi.com - Akibat bencana alam dan gempa bumi pada 28 Maret 2005 sebanyak 2.232 warga Desa Tabuyung, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) terpaksa mengungsi dan mendirikan tenda di lokasi Camp PT.Keang Nam, perusahaan pengelola hutan di daerah tersebut. Para pengungsi tersebut dewasa ini masih tinggal di tenda-tenda darurat, kata Sekretaris Tim Reses DPRD Sumut, Ahmad Hosein Hutagalung. Selain ke Madina, Tim Reses tersebut juga melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Madina, Tapanuli Selatan dan Kota Padang Sidempuan.

Madina dengan wilayah seluas 6.620 Km2 memiliki 17 kecamatan, 336 desa, 33 kelurahan dan juga memiliki garis pantai sepanjang 170 Km dengan total penduduk 380.546 jiwa atau 82.563 kepala keluarga (KK). Menurut Hosein, bencana alam tersebut juga mengakibatkan kerusakan beberapa fasilitas umum, rumah penduduk, masjid dan lainnya sehingga memerlukan penanganan secara cepat dan tepat. Bencana alam gempa dalam kurun waktu tiga bulan sudah terjadi dua kali dan diperkirakan bakal terjadi lagi gempa susulan, sementara lokasi gempa di Desa Tabuyung yang dekat dengan bibir pantai berimplikasi terhadap korban jiwa dan material yang cukup besar.

Menurut dia, Pemkab Madina telah menyusun program penanggulangan dampak bencana tersebut antara lain dengan merelokasi permanen diatas areal seluas 12 hektar di Desa Tabuyung, Kecamatan Muara Batang Gadis yang membutuhkan biaya sebesar Rp12,6 miliar. Untuk itu diharapkan kepada Pemerintah Provinsi Sumut dapat membantu biaya pembangunan rumah masyarakat dan fasilitas umum lainnya yang telah hancur. (*/tut)

http://www.kapanlagi.com/h/0000064647_print.html



2.232 Jiwa Warga Madina Masih Mengungsi

MEDAN--MIOL: Akibat bencana alam dan gempa bumi pada 28 Maret 2005, 2.232 warga Desa Tabuyung, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) terpaksa mengungsi dan mendirikan tenda di lokasi Camp PT Keang Nam, perusahaan pengelola hutan di daerah tersebut.
Para pengungsi tersebut dewasa ini masih tinggal di tenda-tenda darurat, kata Sekretaris Tim Reses DPRD Sumut, Ahmad Hosein Hutagalung dalam laporannya pada sidang pleno DPRD Sumatera Utara di Medan, belum lama ini.

Selain ke Madina, Tim Reses tersebut juga melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Madina, Tapanuli Selatan dan Kota Padang Sidempuan.
Madina dengan wilayah seluas 6.620 Km2 memiliki 17 kecamatan, 336 desa, 33 kelurahan dan juga memiliki garis pantai sepanjang 170 Km dengan total penduduk 380.546 jiwa atau 82.563 kepala keluarga (KK).

Menurut Hosein, bencana alam tersebut juga mengakibatkan kerusakan beberapa fasilitas umum, rumah penduduk, masjid dan lainnya sehingga memerlukan penanganan secara cepat dan tepat.

Bencana alam gempa dalam kurun waktu tiga bulan sudah terjadi dua kali dan diperkirakan bakal terjadi lagi gempa susulan, sementara lokasi gempa di Desa Tabuyung yang dekat dengan bibir pantai berimplikasi terhadap korban jiwa dan material yang cukup besar. Menurut dia, Pemkab Madina telah menyusun program penanggulangan dampak bencana tersebut antara lain dengan merelokasi permanen diatas areal seluas 12 hektar di Desa Tabuyung, Kecamatan Muara Batang Gadis yang membutuhkan biaya sebesar Rp12,6 miliar.

Untuk itu diharapkan kepada Pemerintah Provinsi Sumut dapat membantu biaya pembangunan rumah masyarakat dan fasilitas umum lainnya yang telah hancur, tambahnya. (Ant/OL-1)

http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=65885


Pikiran Rakyat, Minggu, 13 Februari 2005

Laut Surut Mendadak, Warga Istigasah
Kisah Bencana Tsunami di Madina Sumatra Utara

KABUPATEN Mandailing Natal (Madina) bukanlah tujuan perjalanan saya yang sebenarnya. Yang saya tuju adalah Pulau Nias. Namun, karena penerbangan ke pulau ini dua kali ditunda pada Sabtu (22/1) dan Minggu (23/1)--akibat kabut asap-- maka saya memutuskan berangkat ke Madina sekira 600 km utara Kota Medan, Sumatra Utara.

Perjalanan darat ke daerah asal bintang film Roby Sugara dan Cok Simbara harus ditempuh sekira 18 jam. Kabupaten Madina boleh disebut sebagai daerah beberapa orang terkenal. Selain kedua bintang film tersebut, ada juga almarhum Jenderal Abdul Haris Nasution (dari Hutapungkut) dan juga sastrawan terkenal alm. Sutan Takdir Ali Sjahbana yang berasal dari Tabuyung.

Waktu tempuh 18 jam tersebut bila kita melakukan perjalanan secara terus-menerus. Tetapi, kalau ditambah dengan waktu istirahat, masa tempuhnya bisa mencapai 20 jam. Perjalanan ini saya anggap tidak seberapa jika dibandingkan dengan jarak tempuh yang saya lalui dari Bandung ke Banda Aceh selama lima hari lima malam, bersama truk pengangkut bantuan kemanusiaan pembaca Pikiran Rakyat dan masyarakat Jawa Barat.

Apalagi perjalanan 18 jam itu tidak saya lakukan secara terus-menerus. Setelah istrirahat semalam di Kota Padangsidimpuan (sekira 351 km dari Medan lewat Danau Toba), Saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Madina. Tujuan utama tentu Panyabungan, ibu kota Madina yang bisa ditempuh sekitar satu setengah jam dari Padangsidimpuan.

Tak banyak yang tahu bahwa di Madina, tepatnya di dua Kecamatan, yaitu Kecamatan Natal dan Kecamatan Muara Batang Gadis juga ada korban bencana alam tsunami. Di kedua kecamatan ini, korban manusia hanya satu orang. Tetapi rumah yang hancur dan perahu nelayan yang rusak cukup lumayan. Yang banyak diberitakan, selain Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) adalah korban tsunami di Pulau Nias.

Di Desa Bintuas Kecamatan Natal, rumah rusak berat 50 unit, rusak ringan 49 unit dan hanyut total sebanyak 13 unit. Kapal rusak di desa nelayan ini tercatat 10 buah, kapal nelayan hanyut enam buah. Sedangkan tanaman padi yang tenggelam diperkirakan 30 ton, dan ternak mati sebanyak 500 ekor ayam dan 37 ekor kambing. Sedangkan di Desa Tabuyung, Kecamatan Muara Batang Gadis, tercatat 30 unit rumah rusak berat, 49 unit rusak ringan dan dua kapal nelayan kapal rusak.

Sedikitnya korban jiwa di kedua desa yang berada di pinggir pantai ini tidak lain karena kesigapan aparat kecamatan dan warga untuk mengantisipasinya. Teknologi yang maju, terutama siaran televisi yang memberitakan tentang tsunami dan korbannya di Aceh membuat aparat kecamatan segera menyampaikan pesan-pesan kepada warga.

"Begitu staf saya melihat di televisi, mereka langsung ke pesisir pantai untuk memberikan peringatan. Itulah kehebatan teknologi. Andaikan tidak ada siaran televisi, mungkin korbannya akan lebih banyak lagi," kata Camat Natal Drs. Sahnan Pasaribu ketika mengantarkan "PR" meninjau Desa Bintuas. Yang jelas, kecamatan natal belum tesentuh jaringan telepon. Kalaupun ada wartel, itu adalah telefon satelit yang hubungannya belum begitu bagus.

Peristiwa susutnya air laut di pesisir Natal berbeda jauh waktunya dengan yang terjadi di Aceh. Warga Bintuas mengaku, air laut tiba-tiba susut terjadi sekira pukul 11.30. Padahal, di Aceh kejadiannya di pagi hari, Minggu 26 Desember 2004. Air yang susut secara tiba-tiba itu juga membuat bertanya-tanya. Kemudian, seorang ulama yang sangat dihormati di Desa Bintuas pun menjadi tumpuan harapan untuk bertanya.

Khalifah H. Zainal Abidin yang juga berada di desa itu kemudian justru mengajak warga desanya untuk melakukan istigasah atau doa keselamatan bersama. Namun, setengah jam setelah air laut susut tiba-tiba naik dan masuk ke permukiman penduduk. Warga bersama Zainal yang biasa dipangging Angku (yang dituakan, red) pun terus melakukan doa bersama. Namun, kenyataannya air laut semakin kencang mulai pukul 13.00, kemudian naik lagi pada pukul 15.00 dan semakin tidak bersahabat pada pukul 16.30-18.30 WIB. Padahal, warga masih melakukan doa bersama di masjid yang ada di kampung itu. Hanya, ketika kejadian pertama kebetulan menjelang zuhur doa bersama dilakukan di masjid yang berjarak hanya sekira 50 meter dari pantai, maka kemudian dipindahkan ke masjid yang lebih kecil yang jaraknya cukup jauh dari pantai.

Air semakin kencang bahkan menjelang magrib, sekira pukul 18.30 WIB, air laut datang dengan gelombang yang kencang sehingga merubuhkan dua unit rumah. Khawatir akan terjadi hal yang lebih parah lagi, maka petugas kecamatan pun terpaksa mengangkut Angku ke tempat pengungsian, ke Desa Sikara-kara, yang letaknya lebih tinggi.

Kekhawatiran akan hantaman ombak ternyata tidak meleset. Ternyata, deburan ombak paling kencang justru terjadi pada tengah malam atau Senin (27/12) dini hari. Angku sendiri yang sejak siang memimpin istigasah mengaku semua kejadian yang menyelamatkan warga di desa itu atas pertolongan Allah SWT. "Saya hanya bersyukur kepada Allah. Awak (saya, - red) tidak memiliki kepandaian apa-apa. Saya hanya memimpin doa bersama warga, mohon diberikan keselamatan. Dan Insya Allah doa kami terkabul," kata Angku (84).

Menurut ayah dari tujuh anak, kakek dari 23 cucu dan empat cicit ini, apa yang dilakukannya semata-mata memohon pertolongan dari Allah.
Menurut pengamatan "PR", pantai di Desa Bintuas itu sangat rapat dengan rumah penduduk. Malah, menurut Pasaribu, rumah-rumah yang ada di pantai itu sudah harus direlokasi atau dipindahkan ke daerah yang lebih aman. "Pantainya terus mengalami abrasi (tererus oleh air laut). Sudah tidak layak jadi permukiman. Bukti abrasi itu bisa dilihat dari bekas pohon kelapa yang timbul-tenggelam di laut itu," kata Pasaribu sambil menunjuk ke dua pungkul pohon kelapa yang timbul-tenggelam karena deburan ombak. Dan rumah yang porak-poranda akibat tsunami itu pula mempercepat relokasi rumah penduduk. (H.Mangarahon Dongoran/"PR"/Bersambung).***

>>> kembali ke 'lingkungan / Alam Sekitar'

The contents of this site is the reponsability of the respective contributors

 

update september 2006