Perantauan Orang Mandailing ke Malaysia
Rencana
- Abdur-Razzaq Lubis,
Selamatkan Masjid Papan (Surat Berita Mandailing Jilid 1, No.
1)
- Abdur-Razzaq Lubis,
Sutan Puasa dan Kuala Lumpur (Surat Berita Mandailing Jilid 1,
No. 1)
- Abdur-Razzaq Lubis,
Adam Malik, anak Chemor (Surat Berita Mandailing Jilid 1, No.
2)
- Abdur-Razzaq Lubis,
Kampung Batu Sembilan, Chemor, (Surat Berita Mandailing Jilid
1, No. 2)
Tradisi Gordang Sambilan di Klang
Golongan bangsawan juga memiliki ciri-ciri misalnya bendera-bendera
adat yang mereka kibarkan pada waktu menyelenggarakan upacara adat
untuk perkawinan maupun pada waktu terjadi kematian. Dalam upacara
yang demikian mereka biasanya membunyikan alat-alat musik tradisional
yang dinamakan Gordang Sambilan.
"Adapun pada masa bapak mati itu akan lagi budak tiada tahu
apa2 tetapi apa2 yang telah orang buat di atas kematian bapakku
itu semuanya akan ingat dan barangkali umurku lebih kurang di dalam
17 atau 19 tahun.”
Bermula apakala sudah tentu putus napasnya habis semuanya orang
Kuala Lumpur datang menengok bapakku itu laki2 dan perempuan dan
serta pula pergilah tiga empat orang disuruhkan memberi tahu kepada
kaum2 bapakku dan lain2 orang diberitahu kepada Engku Raja Asal
di Hulu Klang, orang Mandailing Kampung Maga dan Kari (Kadi) Sutan
di Kubu Paya Hulu Klang orang Mandailing. Dan lain2nya dan seorang
pergi di Lampung Jabanding (Ja Banding) dan Kuala Lumpur, bapak
saudaraku Raja Duri dan lain2nya, dan seorang pergi di Hulu Langat
Engku To' Peduli (Pidoli) dan Labib Wahid dan lain2nya, dan seorang
pergi di Kajang pada Engku Berayun dan lain2nya dan semuanya sudahlah
habis datang baharulah musyawarat orang tualah itu semuanya.
Maka hal yang demikian putus musyuwarat mufakat itu dikepalai oleh
Engku Raja Asal dan Sutan Puasa dan Sutan Usman dan lain2 semuanya
mengikut maka diperbuatlah satu usungan seperti caranya Raja2 di
negeri Sumatra Mandailing dibuat satu keranda dan dua batang tiang
buat tempat orang memikulnya dan lengkap segala pekakasnya ditaruh
bunga2wan dan berpulut dengan kain kuning dan tutup dengan kain
sutra tenunan dari Aceh namanya ujung... dan semuanya sudah siap
tampillah orang Haji dan lain2 serta Imam, Khatib, Bilal memandikan
bapakku itu dan setelah mandi siap fardu kifayah itu lalu disampaikan
dan lepas sembahyang dan bergiliranlah hendak dimasukkan ke dalam
keranda dan usungan itu.
Bermula adapun peraturannya hendak mengangkat jenazah itu dua orang
di atas usungan itu ia berdiri dan di sebelah depan berdiri memegang
To' ... Bandarang namanya berbulu2 di pangkal tombak bulu kuda dan
seorang berdiri di sebelah belakang memegang pedang tercabut dan
disiapkan gendang sembilan (Gordang Sambilan) namanya. Adapun sebab
dinamakan gendang sembilan kerana 9 benar2 ada rupa2 seperti sebuah
mesjid Jum'at masa ini juga dan bila dipukul jadi bersatu...tenggah-bertenggah.
Tetapi orang yang memukul itu tak berdiri yang pertama pada seorang
tinggi gendang padanya dinamakan itu Manjapati dan yang kedua dua
gendang kepadanya dinakan gudung2 dan kecil hinang2 namanya dua
gendang padanya itulah yang kecil sekali dan dua gendang lagi dua
itu seorang memukulnya. Jade semuanya sembilan gendang besar dan
panjangnya nanti disebutkan serta kamu2 dibuat di belakang ini.
Maka adalah pula disiapkan beberapa meriam besar di situ atas kubu
(kota) di bukit itu sudah diisi dengan ubatnyat (mesiu) dan apabila
siap sekaliannya tampillah orang mengangkat.
Arakian bila diangkat jenazah usungan itu mengeramlah ibuku menangis
dan kakakku dan lain2 mata2 saudara kaum bapakku habislah menangis
semuanya bertapa ibuku tiada sedar lagi akan dirinya rebah bangkitku
ibuku lenang oleh sebab yang ditangiskan ibuku itu bukannya satu
perkara dari suaminya yang mati itu hanya yang sangat... ibuku bercintakan
hal aku adek beradik dua orang siapalah akan hendak mencari makannya
dan siapa akan menjaga kebajikan kain bajunya dan siapa pula mengajarkan
dia anak2nya itu tambahan lagi ibuku itu tiada pula kaum puaknya
di situ demikianlah ditangiskan yang diratapkan itu.
Dan seketika itu berbunyilah senapang berpuluh2 dipasang oranglah
meriam kubu (kota) telah meriam di kubu bukit tiada berhenti dan
selagi belum sampai ke kubur bapakku itu meriam senapang tiadalah
berhenti bunyinya seperti bunyi guruh di langit gegap gempita bunyinya
apalah riuh tangan orang2 dan apalagi bunyi gendang sembilan itu
haraplah kau kepada Tuhan Allah subhana wa ta'alla akan mengampuni
seksa bapakku itu di dalam kubur, kerana semuanya itu perbuatan
jahiliah jua yang tiada masuk di dalam bicara ugama Muhammad.
Allahu Akbar. Dan bila sudah siapkan masuk kubur baharulah datang
duduk Qadi dan Imam Khatib, Bilal membaca talqin dan serta tahlil
dan bila sudah membaca talqin baharulah pula membaca du'a bagi mait
(mayat) itu dan telah selesai berdirilah balik orang semuanya".
Riwayat Hidup Tuan Abu Bakar, 1930an.
|