""

www.mandailing.org

malaysian / indonesian | english

Tradisi Gordang Sambilan di Klang

 

isi

rencana

links

kontak

gambar

gambar lama

 



Perantauan Orang Mandailing ke Malaysia

Rencana

Tradisi Gordang Sambilan di Klang


Golongan bangsawan juga memiliki ciri-ciri misalnya bendera-bendera adat yang mereka kibarkan pada waktu menyelenggarakan upacara adat untuk perkawinan maupun pada waktu terjadi kematian. Dalam upacara yang demikian mereka biasanya membunyikan alat-alat musik tradisional yang dinamakan Gordang Sambilan.

"Adapun pada masa bapak mati itu akan lagi budak tiada tahu apa2 tetapi apa2 yang telah orang buat di atas kematian bapakku itu semuanya akan ingat dan barangkali umurku lebih kurang di dalam 17 atau 19 tahun.”

Bermula apakala sudah tentu putus napasnya habis semuanya orang Kuala Lumpur datang menengok bapakku itu laki2 dan perempuan dan serta pula pergilah tiga empat orang disuruhkan memberi tahu kepada kaum2 bapakku dan lain2 orang diberitahu kepada Engku Raja Asal di Hulu Klang, orang Mandailing Kampung Maga dan Kari (Kadi) Sutan di Kubu Paya Hulu Klang orang Mandailing. Dan lain2nya dan seorang pergi di Lampung Jabanding (Ja Banding) dan Kuala Lumpur, bapak saudaraku Raja Duri dan lain2nya, dan seorang pergi di Hulu Langat Engku To' Peduli (Pidoli) dan Labib Wahid dan lain2nya, dan seorang pergi di Kajang pada Engku Berayun dan lain2nya dan semuanya sudahlah habis datang baharulah musyawarat orang tualah itu semuanya.

Maka hal yang demikian putus musyuwarat mufakat itu dikepalai oleh Engku Raja Asal dan Sutan Puasa dan Sutan Usman dan lain2 semuanya mengikut maka diperbuatlah satu usungan seperti caranya Raja2 di negeri Sumatra Mandailing dibuat satu keranda dan dua batang tiang buat tempat orang memikulnya dan lengkap segala pekakasnya ditaruh bunga2wan dan berpulut dengan kain kuning dan tutup dengan kain sutra tenunan dari Aceh namanya ujung... dan semuanya sudah siap tampillah orang Haji dan lain2 serta Imam, Khatib, Bilal memandikan bapakku itu dan setelah mandi siap fardu kifayah itu lalu disampaikan dan lepas sembahyang dan bergiliranlah hendak dimasukkan ke dalam keranda dan usungan itu.

Bermula adapun peraturannya hendak mengangkat jenazah itu dua orang di atas usungan itu ia berdiri dan di sebelah depan berdiri memegang To' ... Bandarang namanya berbulu2 di pangkal tombak bulu kuda dan seorang berdiri di sebelah belakang memegang pedang tercabut dan disiapkan gendang sembilan (Gordang Sambilan) namanya. Adapun sebab dinamakan gendang sembilan kerana 9 benar2 ada rupa2 seperti sebuah mesjid Jum'at masa ini juga dan bila dipukul jadi bersatu...tenggah-bertenggah. Tetapi orang yang memukul itu tak berdiri yang pertama pada seorang tinggi gendang padanya dinamakan itu Manjapati dan yang kedua dua gendang kepadanya dinakan gudung2 dan kecil hinang2 namanya dua gendang padanya itulah yang kecil sekali dan dua gendang lagi dua itu seorang memukulnya. Jade semuanya sembilan gendang besar dan panjangnya nanti disebutkan serta kamu2 dibuat di belakang ini. Maka adalah pula disiapkan beberapa meriam besar di situ atas kubu (kota) di bukit itu sudah diisi dengan ubatnyat (mesiu) dan apabila siap sekaliannya tampillah orang mengangkat.

Arakian bila diangkat jenazah usungan itu mengeramlah ibuku menangis dan kakakku dan lain2 mata2 saudara kaum bapakku habislah menangis semuanya bertapa ibuku tiada sedar lagi akan dirinya rebah bangkitku ibuku lenang oleh sebab yang ditangiskan ibuku itu bukannya satu perkara dari suaminya yang mati itu hanya yang sangat... ibuku bercintakan hal aku adek beradik dua orang siapalah akan hendak mencari makannya dan siapa akan menjaga kebajikan kain bajunya dan siapa pula mengajarkan dia anak2nya itu tambahan lagi ibuku itu tiada pula kaum puaknya di situ demikianlah ditangiskan yang diratapkan itu.

Dan seketika itu berbunyilah senapang berpuluh2 dipasang oranglah meriam kubu (kota) telah meriam di kubu bukit tiada berhenti dan selagi belum sampai ke kubur bapakku itu meriam senapang tiadalah berhenti bunyinya seperti bunyi guruh di langit gegap gempita bunyinya apalah riuh tangan orang2 dan apalagi bunyi gendang sembilan itu haraplah kau kepada Tuhan Allah subhana wa ta'alla akan mengampuni seksa bapakku itu di dalam kubur, kerana semuanya itu perbuatan jahiliah jua yang tiada masuk di dalam bicara ugama Muhammad.

Allahu Akbar. Dan bila sudah siapkan masuk kubur baharulah datang duduk Qadi dan Imam Khatib, Bilal membaca talqin dan serta tahlil dan bila sudah membaca talqin baharulah pula membaca du'a bagi mait (mayat) itu dan telah selesai berdirilah balik orang semuanya". Riwayat Hidup Tuan Abu Bakar, 1930an.

 

>>> kembali ke 'isi'

The contents of this site is the reponsability of the respective contributors

 

update september 2004