|
Pertemuan Willem Iskander dengan
Munshi Abdullah dan Multatuli
Oleh Basyral Hamidy Harahap
Kepeloporan Willem Iskander dalam sejarah pendidikan di Indonesia
tidak dapat diragukan lagi. Hal ini bukan saja telah terbukti dalam
arsip-arsip abad yang lalu, tetapi juga telah diulas orang dalam
karangan ilmiah, dalam disertasi, bahkan telah dicanangkan oleh
berbagai mass media di Jawa dan Belanda satu abad yang lalu. Ia
terpendam begitu lama, dan sekarang penulis sedang sibuk mengadakan
penelitian tentang tokoh ini untuk membuka tabir masa silamnya yang
selama ini masih gelap.
Willem Iskander bukan saja menjadi guru di kelas,
tetapi ia juga benar-benar menjadi pelopor modernisator, yang berusaha
keras memerangi keterbelakangan bangsa melalui kontaknya yang akrab
dengan masyarakat di sekitarnya. Tano Bato di kaki gunung Sorik
Marapi tumbuh sebagai pusat modernisasi satu abad yang lalu, dari
tempat ini Willem Iskander mencetak banyak cendekiawan muda yang
kemudian tersebar ke pusat-pusat pemerintahan di Sumatra. Ia bukan
saja mencetak cendekiawan guru, tetapi sekaligus menghasilkan guru
pengarang, seperti dirinya.
Di Kweekschool Tanobato, Willem Iskander juga mengajar
kesusastraan Melayu. Dalam matapelajaran ini ia mewajibkan kepada
murid-muridnya untuk membaca dan memahami "Panja tandaran yaitu
hikayat Kalillah dan Daminah". Karya ini diterjemahkan oleh
Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dengan bantuan sahabatnya Tambi
Muttu Virabattar di Malaka, dan diterbitkan pada tahun 1838. Pengajaran
kesusastraan Melayu yang diberikan oleh Willem Iskander pada ketika
itu, mutunya sudah tinggi. Murid-muridnya sama sekali tidak mengalami
kesukaran untuk memahami karangan-karangan berbahasa Melayu, karena
bahasa dan kesusastraan Melayu merupakan salah satu matapelajaran
yang penting disamping bahasa Mandailing dan bahasa Belanda. Dari
kemampuan berbahasa ini, murid-muridnya memiliki cakrawala yang
luas. Mereka kemudian bukan saja menterjemahkan dan menyadur, tetapi
juga mengarang sendiri. Kemampuan mengarang dan menterjemahkan murid-muridnya,
dibinanya antara lain dengan memberikan tugas-tugas sekolah untuk
menterjemahkan karya-karya yang mereka senangi, yang kamudian dibicarakan
bersama sebelum siap untuk diterbitkan. Karya-karya mereka ini tidak
terbatas pada bahasa dan sastra, tetapi juga dihasilkan buku pelajaran
berhitung yang kemudian dipakai di sekolah rendah pada ketika itu.
Willem Iskander bukan secara kebetulan menjadi
pengarang, akan tetapi ia adalah hasil tempaan dari pendidikan formil
dan informil, serta pengalaman yang luas dan bacaan yang luas pula.
Intelektualitasnya yang tinggi, kepekaannya terhadap segala sesuatu
yang bergerak di alam ini, dan kehausannya terhadap ilmu menyebabkan
ia tumbuh dan berkembang. Ia hidup dalam dua dunai. Dunia sekitarnya
yang masih terbelakang dan dunia intelektuil yang amat maju di depan.
Ia sungguh terlempar ke masa depan yang amat jauh. Dalam situasi
seperti ini ia tidak frustrasi, tetapi justru ia merasa bersyukur
berada dalam lingkungan masyarakat yang terbelakang itu untuk kemudian
dibangkitkannya dengan tekun. Ia bekerja melalui sekolah dan karangan-karangannya.
Sebelum ia mengarang tentu saja ia telah terlebih dahulu membekali
dirinya dengan pengetahuan yang antara lain diperolehnya melalui
bacaan. Dalam ini karya-karya Abdullah merupakan bacaannya yang
utama, ini dapat difahami, karena sebagian besar karya-karya Abdullah
telah terbit sebelum Willem Iskander lahir dan beberapa ketika ia
kanak-kanak. Kepergiannya ke negeri Belanja untuk belajar, 1857-1861,
memberi peluang yang amat luas baginya untuk membaca sebanyak-banyaknya
karja-karja Abdullah yang tersedia disana. Telah diketahui bahwa
peranan Abdullah dalam sejarah kesusastraan Melayu/Indonesia amat
besar berupa kepeloporannya dalam melepaskan diri dari tradisi kesusastraan
lama yang masih hidup di sekitar istana. Sekalipun Abdullah belum
dapat lepas sama sekali dari tradisi itu, ia ternyata telah meninggalkan
kehidupan istana. Isi karya-karya Abdullah telah membicarakan hal-hal
yang hidup dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, ia menentang
setiap kezaliman dan sekaligus memperhatikan pendidikan pribumi.
Abdullah yang berdarah Arab-Keling ini, dibesarkan dalam lingkungan
keluarga yang terpelajar. Masa mudanya digunakan untuk belajar bahasa
Arab, Tamil, Inggeris dan Melayu serta agama Islam. Kemudian ia
bekerja di suatu percetakan di Malaka. Karier selanjutnya antara
lain sebagai juru bahasa di kantor Raffles. Pergaulannya yang luas
dengan orang-orang barat menempanya menjadi seorang yang berfikir
rasionil lepas dari ketahyulan. Kepribadian Abdullah seluruhnya
tergambar dalam karangan-karangannya yang amat mengesankan. Kehadiran
pengaruh Abdullah dalam karangan-karangan Willem Iskander dapat
dirasakan dalam karangan-karangan Willem Iskander yang bertema pendidikan,
ketuhanan dan kritik sosial, dan terasa adanya warna kepribumian
yang memperjuangkan bangsa sendiri.
Kisah perjalanan Willem Iskander dari Batavia,
ketika ia pulang tahun 1861, menuju Padang Natal, Muara Soma, dan
akhirnya di Pidoli Lombang, mengingatkan penulis pada gaya Abdullah
mengisahkan perjalanannya. Ia menyebut orang-orang yang ditemuinya
di Batavia, dan tempat-tempat yang dikunjunginya, ia juga bicara
tentang kapal perahu dan kuda yang ditumpang dan ditungganginya.
Suasana disekitarnya digambarkan dengan sederhana dan sentimentil.
Berbicara tentang warna karya Willem Iskander, tidak bisa lepas
dari pembicaraan tentang karya Multatuli yang terkenal Max Havelaar.
Kita juga dapat melihat kehadiran Multatuli di dalam karya-karya
Willem Iskander terutama dalam hal ketajaman kritik sosial dan kekocakannnya.
Kekocakan adalah tempatnya melindungi kritik yang satiris, ia dapat
bermakna macam-macam. Bait ke 12 sajak Mandailingnya yang berbunyi:
aslinya:
Adong alak ruar
Na mian di Panyabungan
Tibu ia aruar
Baon ia madung busungan
terjemahannya:
Ada orang luar
Yang berdiam di Panyabungan
Cepat ia ke luar
Sebab ia sudah buncit
dapat diintepretasikan sebagai berikut:
Interpretasi yang paling dominan diberikan oleh
masyarakat Tapanuli Selatan sebagai berikut: Penjajah Belanda yang
berdiam di Panyabungan, segera meninggalkan daerah ini setelah ia
berhasil mengeruk kekayaan pribumi.
Bait yang sama diinterpretasikan pula, bahwa kepergian
orang asing/luar yang berdiam di Panyabungan itu disebabkan oleh
penyakit malaria yang membuat perutnya buncit (aloton dalam bahasa
Mandailing). Interpretasi ini masuk akal pula, karena cuaca Panyabungan
yang lembab dan tidak sehat itu telah pula lama diketahui oleh orang
Belanda dan banyak muncul dalam laporan-laporan resmi atau laporan
perjalanan pada awal abad yang lalu. Ketidaksehatan udara Panyabungan
ini pula yang menyebabkan pejabat-pejabat Belanda berdiam di Tano
Bato di suatu pasanggarahan, sekalipun mereka berkantor di Panyabungan
sebagai pusat pemerintahan.
Adapun interpretasinya, sajak ini mengandung kritik
juga sekaligus menantang suatu usaha besar untuk meniadakan malaria
di kawasan itu, misalnya dengan jalan melebarkan muara Batanggadis
dan Batang Angkola yang bertemu pada suatu muara yang sempit di
timur Singkuang. Kita lihat betapa besarnya tantangan ini dan betapa
tidak usangnya tantangan ini, karena sampai kini kita belum berhasil
menjawabnya. Disinilah antara lain kebesaran Willem Iskander, yaitu
kemampuan dan kesediaannya untuk bertanya, dan sekaligus kekerdilan
kita yang belum mampu menjawabnya. Gaya ini juga dimiliki oleh Multatuli
yang sampai sekarang belum terjawab, sekalipun ia kemukakan satu
abad yang lalu.
Tokoh Multatuli pasti salah satu diantara sekian
orang yang paling dikagumi oleh Willem Iskander. Kita mulai melihat
hubungan itu dari kehadiran Multatuli di Natal sebagai kontroler
1842-1843.
Di daerah ini pada ketika itu hidup suasana kehidupan
yang penuh dengan intrik antar kepala-kepala bumiputra, dimana Douwes
Dekker, alias Multatuli, terpaksa terlibat didalamnya. Disini ia
amat menderita, yang ditambah lagi dengan pemanggilannya ke Padang
dimana ia diterlantarkan. Sang Yang di Pertuan Huta Siantar di Mandailing
merupakan tokoh yang tidak asing baginya. Tokoh yang terakhir ini
adalah keluarga dekat Willem Iskander sendiri, yang mau tidak mau
juga pernah bercerita kepada Willem Iskander tentang tokoh Douwes
Dekker. Douwes Dekker mulai bekerja di Natal untuk menggantikan
seorang kontroler yang masa dinasnya telah selesai. Ayah mertua
dari sang kontroler yang habis tugas itu adalah bekas Asisten Residen
Mandailing Angkota yang dipecat oleh Gubernur Pantai Barat Sumatra,
Jenderal Mitchiels. Pemecatan sang Asisten Residen adalah akibat
oleh Sang Yang Dipertuan Huta Siantar yang mendesak gubernur untuk
menyingkirkan orang-orang Belanda dan pengikut-pengikutnya di Natal.
Perihal ini dikisahkan oleh Multatuli dan Max Havelaar bab XIV.
Tokoh Douwes Dekker yang kita yakin sudah didengar
oleh Willem Iskander dari Sang Yang Dipertuan Huta Siantar, kembali
menjadi perhatiannya ketika Max Havelaar diterbitkan untuk pertama
kali pada tahun 1860 di negeri Belanda. Ketika itu Willem Iskander
sudah berada 3 tahun di negeri Belanda, dan secara kebetulan buku
yang amat menggemparkan kalangan pemerintah dan parlemen Belanda
itu, diperdebatkan dalam sidang yang sama di Tweede Kamer pada tahun
1860 dengan Willem Iskander. Pembicaraan tentang Max Havelaar dan
Willem Iskander adalah masalah pembiayaan atau tujuan pendidikannya.
Tetapi sukar untuk disangkal dari perhatian Willem Iskander, karena
selain karya ini banyak bicara tentang dua tokoh famili dekatnya
yaitu Sang Yang Dipertuan Huta Siantar dan Patuan Natal, buku ini
juga benar-benar menggemparkan seluruh negeri.
Masih dalam tahun 1860 terbit pula karya Multatuli
di Arnhem, dimana Willem Iskander juga pernah belajar, yang berisi
a.l. surat-surat dengan judu "Indrukken van den dag".
Disini Douwes Dekker alias Multatuli juga bicara tentang Sang Yang
Dipertuan Huta Siantar, seorang tokoh yang rupanya tak terlupakannya.
Kita yakin bukan dua buku ini saja karya-karya Multatuli yang dibaca
oelh tokoh kita Willem Iskander, tetapi juga yang lain yang terbit
sebelum 1872.
Apabila Abdullah mempengaruhi Willem Iskander untuk
melepaskan diri dari isi karangan yang berkisar kehidupan istana,
maka ia mendapat pengaruh isi, semangat dan bentuk dari Multatuli.
Ia tidak mengikut Abdullah dalam hal bentuk, karena dalam menulis
Abdullah masih menggunakan bentuk syair. Untuk memahami Willem Iskander
melalui karya-karyanya, diperlukan suatu studi yang mendalam tentang
sejarah, kebudayaan, politik pada abad ke 19, tetapi juga tidak
dapat diungkiri keharusan mempelajari karya-karya Abdullah dan Multatuli.
Pertemuan Willem Iskander dengan Abdullah dan Multatuli telah banyak
mewarnai karya-karya Willem Iskander. Dengan kemampuannya, menyebabkan
lahirnya Willem Iskander sebagai Willem Iskander, bukan Willem Iskander
ala Abdullah atau Multatuli. Bahkan tidak berkelebihan apabila tempat
Abdullah sebagai pelopor kesusastraan Melayu/Indonesia modern ditempati
oleh Willem Iskander. Willem Iskander adalah pribumi yang menulis
di baris depan yang menulis puisi-puisi modern dalam salah satu
bahasa Nusantara.
Jakarta, 8 Mei 1977.
dipetik dari Waspada, Rabu, 18 Mei 1977/Jumadil Awal 1397H
|