|
DR. RADJA DORIE LOEBIS (1807-1916)
Doktor Indonesia Pertama di Sumatera Utara Yang
Tidak Layak Dilupakan.
Oleh: H. Mohammed Said .
Bahwa
tokoh sejarah masa lampau harus acap dihidupkan dalam kenangan adalah
merupakan kepentingan, terutama lagi kita di Indonesia, mengingat
kepada jumlahnya yang masih sangat minim, baik karena kenyataannya
memang demikian, maupun karena tokoh-tokoh masyarakat yang tampil
sesudahnya kurang memperhatikan, kurang menghargai ataupun sebab-sebab
lain umpamanya akibat tidak acuh dan sebagainya.
Kenyataan ini dapat diperhatikan dari contohnya,
sebagaimana yang terjadi dengan tokoh pertama bangsa Indonesia untuk
Sumatera Utara dalam bidang kesehatan bernama Dr. Raja Dorie Loebis,
yang pernah bertugas dalam dua zaman, yaitu akhir abad ke XIX mencapai
awal abad ke XX.
Almarhum Raja Dorie seorang lulusan Sekolah Tinggi
Kedokteran di Jakarta pada zamannya, adalah putera suku Mandailing
yang lahir di desa Angin Barat (Kota Nopan) pada awal abad ke XIX,
jelasnya dalam tahun 1807 dan berpulang ke rahmatullah masa beberapa
tahun setelah memasuki abad ke XX, jelasnya dalam tahun 1916. Setelah
menyelesaikan sekolah rendah di desanya dalam tahun 1824, dilanjutkannya
ke Sekolah Menengah Keguruan (KweekSchool) di Bukitinggi yang dewasa
itu sudah tergolong sekolah tinggi, lalu dalam tahun 1830 iapun
melanjutkan studinya ke Jakarta memasuki Sekolah Dokter Djawa di
sana, yang juga dewasa itu di Indonesia sudah tergolong perguruan
tinggi. Dari hasil penyelesaian studinya di situ ia pun di butuhkan
oleh Belanda untuk bertugas menjadi dokter pada rumah sakit militer
di Bogor. Mencapai puluhan tahun di sana, hingga tiba di tahun 1877
ketika ia ditugaskan ke Sumatera Barat untuk bekerja pada rumah
sakit di Padang.
Salah satu jasanya yang tidak dapat di sampingkan
begitu saja, ialah ketika berjangkit penyakit kolera di Pasaman,
daerah Sumatera Barat juga. Kemudian dalam tahun 1882 Radja Dorie
membuka praktek di Air Bangis. Perhatian penguasa Belanda segera
tertuju kepada Radja Dorie, ia diminta supaya langsung terjun ke
daerah bahaya kolera di Pasaman itu. Hasilnya sukses :
Tahun 1889, setelah berusia lebih 80 tahun, ia
diminta oleh Belanda supaya bertugas di rumah sakit zending di Panyabungan,
di kawasan yang dewasa ini merebak kecuali pekung, juga kolera,
sekaligus diminta padanya supaya bersedia pindah untuk bertempat
tinggal di kawasan penyakit berbahaya dimaksud di atas. Lagi-lagi
ia berhasil :
Untuk kebersihan tersebut yang oleh Belanda rupanya
telah diperkirakan mencapai maksimal, Radja Dorie memperoleh anugerah
bintang, suatu pebgakuan atas jasa dan ketrampilanya sebagai seorang
yang aktif membasmi serangan berbagai penyakit, termasuk menular.
Ia bertugas tanpa mengenal jerih, membuat Belanda tergugah untuk
memberinya tanda jasa semacam medali kesetiaan bertugas (getrouwdheld).
Siapapun yang berkuasa dewasa itu tentu tidak mengabaikan tanggung
jawab memberi jasa, demi segi kemanusiaan.
Tiba waktu dalam usia amat tua, Radja Dorie barulah
berkesempatan untuk pensiun (1907). Namun atas dasar kemanusaan
yang tinggi ketika perusahaan tambang minyak milik Rusia yang beroperasi
di Simpang Gambir (Natal) ia menerima permintaan untuk bekerja di
rumah sakit perusahaan golongan bangsa tersebut selama lebih kurang
4 tahun, walaupun waktu itu usianya sudah mencapai 100 tahun (sekali
lagi : seratus tahun).
Rupanya Radja Dorie tidak tega untuk membiarkan
rakyat harus terengah-engah akibat derita penyakit, diandai oleh
fakta bahwa ketika ia sudah lanjut usia demikian, ia masih aktif
dalam sisa hidupnya sejak pulang ke desa kelahirannya (Angin Barat)
untuk melayani rakyat desa tersebut yang butuh perobatan.
Demikian hingga akhir hayatnya dalam usia 109 tahun
ketika ia berpulang ke rahmatullah. Maka tidak dilebih-lebihkan
untuk mencatat bahwa dewasa ini mustahillah seorang dokter yang
telah begitu lanjut usianya masih menyediakan waktu secukupnya-cukupnya
untuk menjalankan tugas kemanusiaan yang berat dan yang sangat dibutuhkan
oleh masyarakat, bahkan yang harus disertai oleh keahlian, di samping
ketelatenan dan kesabaran, yang semuanya mencapai keberhasilan.
Dari catatan-catatan otentik jelas bahwa Dr. Radja
Dorie Loebis adalah dokter bangsa Indonesia yang pertama di Mandailing
putera asli suku Mandailing sendir. Catatan-catatan tersebut itu
memberi kesaktian otentik juga bahwa dr. Radja Dorie Loebis pernah
dipercayakan (dipertanggungkan kewajiban) untuk mengatasi bahaya
kolera dengan berhasil.
Dengan mengikuti fakta-fakta terpercaya yang diungkapkan
di atas jelas bahwa dr. Dorie cukup berjasa kepada rakyat, untuk
jasa mana sangat layak sekali jangan hendaknya harus diabdikan namanya
demi kenangan sepanjang masa.
Tapi apakah yang demikian sudah menjadi perhatian
masyarakat. Jawabnya memang sudah, bahkan sebuah panitia khusus
kabarnya telah berhasil dibentuk di tahun lalu bernama "Panitia
Peringatan dr. Radja Dorie Loebis" yang sekertariatnya di Medan.
Dalam panitia itu duduk tokoh-tokoh terkemuka di Sumatera Utara,
yang untuk pengurus hariannya diketuai oleh Bapak Agus Salim Lubis.
Keinginan yang disampaikan oleh panitia kepada
pihak berwajib hanyalah sekedar memohonkan agar rumah sakit umum.
Penyabungan diberi nama Rumah Sakit Dr. Radja Dorie Loebis, suatu
permohonan yang sangat sederhana saja, yang sepanjang penilai-umum
sedikitpun tidak ada halangannya untuk disetujui. Permohonan bertanggal
3 Mei 1986 pernah dialamatkan kepada Bapak Bupati Kepala Daerah
Tingkat II Tapanuli Selatan di Padang Sidempuan. Tidak diketahui
di mana sangkutnya maka panitia belum memperoleh jawaban, mudah-mudahan
saja tidak masuk kategori "lupa karena sibuk".
Dan memang, kita yakin tidak akan mengalami demikian,
antara lain berhubung karena Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Dati
II Tapanuli Selatan, Bapak dr. P. Oloan Nasution DTM&H dengan
suratnya pada Bupati bertanggal 4 Agustus 1986 telah mendukung permohonan
tersebut ketika tembusan permohonan kepada Bupati disampaikan padanya.
Karya ilmiah dr. Radja Dorie dan kehidupan pribadi
Sebuah pelajaran ilmiah kedokteran yang dikarangnya
setebal tulistangan 59 halaman, dapat dicatat sebagai termasuk bahan
pelajaran yang pernah disusun oleh dr. Radja Dorie Loebis, tapi
sayangnya tidak disiarkan untuk dibukukan. Bagaimanapun, minimal
dari memperhatikan isinya (fotokopy di tangan penulis) jelas bahwa
dr. kita almarhum ini sungguh-sungguh seorang yang tidak ingin membuang
waktu demi bahan pelajaran bagi generasi penerus. Dari sini terbukti
pula bahwa dr. alharhum ini tidak pernah diam selama hayatnya dalam
keinginan agar rakyat hidup sehat disamping sesuatu harapan tentunya
agar generasi menerus akan terus mengikuti dengan seksama jejak
pendahulu mereka.
Pada sektor kehidupan pribadi, dikabarkan bahwa
dr. Dorie pertama kali pernah mempersunting seorang gadis Belanda
untuk istri, dengan siapa mereka berhasil beroleh putra. Takdir
tidak mengizinkan mereka lanjut, si istri bersama putranya harus
pulang ke negeri Belanda. Tidak dijelaskan latar belakangnya, namun
tidak mustahil telah terjadi tekanan penguasa Belanda. karena lumrah
kalau zaman itu Belanda merasa, turun gengsi bila laki-laki Indonesia
memperistri nona Belanda.
Untuk tidak dilewatkan dari catatan, bahwa selama
puluhan tahun berada di Jawa, dr. Radja Dorie Loebis juga menyambilkan
untuk pengembangan agama Islam bagi penduduk belum beragama.
Diperhatikan dari tahun bertugasnya dapat juga
dicatat bahwa dr. Dorie berada dalam zaman Tuanku Imam Bonjol di
Sumatera Barat dan Tunku Tambusai di Tapanuli Selatan, bahkan juga
zaman kakek Singa Mangaradja XII, sehingga tidak mustahil bahwa
dada dr. Dorie juga telah turut diisi oleh semangat nasionalisme
dan patriotisme. Semoga dapat diperoleh nanti bahan tambahan dalam
bidang ini.
|