Kupasan Mengenai Dalihan Na Tolu
oleh Drs. Pengaduan Lubis
Dalam berbagai tulisan yang membicarakan masyarakat
Toba - kini sudah lebih sering disebut Batak Toba - istilah Dalihan
Na Tolu selalu diartikan atau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia
menjadi Tiga Tungku Sejerangan. Terjadinya terjemahan yang demikian
itu kemungkinan karena perkataan dalihan dalam bahasa Toba hanya
mempunyai satu arti denotatif saja, yakni tungku, dan tidak makna
konotatif.
Tentu sudah diketahui bahasa Toba, lazimnya berupa tiga buah batu
yang dipergunakan untuk tempat menjerangkan alat memasak seperti
periuk, kuali, dll.
Berdasarkan keadaan yang demikian itu, kiranya dapat diambil kesimpulan
bahwa menurut pandangan masyarakat tersebut dapat dilambangkan secara
ideal dengan tungku tiga sejerangan. Karena di dalam sistem sosial
tersebut terdapat tiga kelompok kekerabatan yang menjadi unit-unit
fungsionalnya.
Seperti diketahui, dalam masyarakat Mandailing terdapat juga suatu
sistem sosial yang disebut Dalihan Na Tolu yang sangat mendasar
kedudukannya dalam kehidupan dan kebudayaan masyarkat tersebut.
Dalam membicarakan sistem sosial Dalihan Na Tolu dalam konteks Mandailing,
istilah Dalihan Na Tolu sengaja diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia
menjadi Tumpuan Yang Tiga. Terjemahan menjadi Tiga Tungku Sejerangan
yang sudah lumrah dianggap sebagai terjemahan yang ideal dan tepat
untuk istilah Dalihan Na Tolu (sebagai suatu sistem social) sengaja
dihindari.
Diterjemahkan istilah Dalihan Na Tolu menjadi Tumpuan Yang Tiga,
dan bukan Tungku Tiga Sejerangan ialah karena dengan terjemahan
yang demikian itu diharapkan dapat diungkapkan dengan tepat dan
ideal makna dan nilai filosofis yang diberikan oleh masyarakat Mandailing
kepada Dalihan Na Tolu sebagai sistem sosialnya yang mendasar secara
konseptual.
Dalam hubungan ini dapat dijelaskan bahwa arti yang terkandung
pada perkataan dalian dalam bahasa Mandailing bukan hanya satu saja
dan khusus menunjukkan terjemahan maupun perlambang bagi istilah
maupun sistem Dalihan Na Tolu dalam konteks Toba. Dalam bahasa Mandailing
perkataan tersebut mengandung konsep dan konotasi filosofis yang
menunjukkan arti tumpuan. Dan konotasinya yang menunjuk pada tumpuan
inilah pada hakekatnya yang didukung oleh perkataan dalian dalam
kelompok kata Dalian Na Tolu yang dipakai untuk menyebut sesuatu
sistem sosial yang terdapat dalam masyarakat Mandailing, dan perkataan
tersebut bukan mendukung arti denotatif tungku.
Penggunaan kata dalian dengan arti tumpuan mendasar dan membudaya
dalam hidup orang Mandailing. Hal ini dapat dilihat melalui kenyataan
yang ada sampai sekarang, bahwa orang Mandailing mempunyai tradisi
untuk menamai anaknya yang laki-laki dengan nama Si Dalian, yang
kemudian biasanya dipersingkatkan menjadi Si Lian. Dalam hal ini
nama tersebut (dalian) secara konseptual mengandung makna tumpuan,
dan bukan tungku. Dan menurut tradisi budaya Mandailing nama tersebut
diberikan kepada anak laki-laki sebagai gorar lomo-lomo, artinya
gelar yang mengandung sanjungan dan harapan. Melalui pemberian nama
atau gelar yang demikian itu, orang Mandailing mengungkapkan pandangan
filosofisnya terhadap status dan peranan yang diharapkan untuk didukung
oleh anak laki-lakinya. Hal ini konsisten dengan sikap hidup orang
Mandailing sebagai penganut garis keturunan patrilineal yang menempatkan
anaknya yang laki-laki sebagai tumpuan (=dalian) harapan untjk meneruskan
keturunannya dikemudian hari. Dengan perkataan lain, secara filosofis
orang Mandailing memandang atau memberi nilai budaya terhadap anaknya
yang laki-laki (Si Dalian) sebagai tumpuan bagi kelestarian eksistensinya.
Paralel dengan ini, Dalian Na Tolu adalah sistem sosialnya yang
merupakan Tumpuan Yang Tiga bagi kelangsungan hidup masyarakat Mandailing
dalam bereksistensi.
|