MANDAILING DALAM LINTASAN SEJARAH
oleh Drs. Pengaduan Lubis
Sepanjang yang dapat diketahui sampai sekarang,
belum ada seseorang yang menulis dan menerbitkan sejarah Mandailing.
Oleh karena itu kita tidak dapat memperoleh refensi untuk membicarakan
sejarah Madailing. Suku bangsa atau kelompok etnis Mandailing. Suku
bangsa atau kelompok etnis Mandailing memang mempuyai aksara sendiri
yang dinamakan Surat Tulak-Tulak. Tetapi ternayata orang-orang Mandailing
pada zaman dahulu tidak menggunakan aksara tersebut untuk menuliskan
sejarah. Pada umumnya yang dituliskan adalah mengenai ilmu pengobatan
tradisional, astronomi tradisional, ilmu ghaib, andung-andung dan
tarombo atau silsilah keturunan keluarga-keluarga tertentu. Setalah
sekolah berkembang di Mandailing, Surat Tulak-Tulak mulai dipergunakan
oleh guru-guru untuk menuliskan cerita-cerita rakyat Mandailing
sebagai bacaan murid-murid sekolah.
Beberapa legenda yang mengandungi unsur sejarah
dan berkaitan dengan asal-usul marga orang Mandailing masih hidup
di tengah masyarakat Mandailing. Seperti legenda Namora Pande Bosi
dan legenda Si Baroar yang dtulis oleh Willem Iskandar pada abad
ke-18. Tetapi legenda yang demikian itu tidak memberi keterangan
yang cukup berarti mengenai sejarah Mandailing. Dalam bebrapa catatan
sejarah seperti sejarah Perang Paderi yang disusun oleh M. Radjab,
disebut-sebut mengenai Mandailing dan keterlibatan orang Mandailing
dalam Perang Paderi. Catatan sejarah ini hanya berhubungan dengan
masyarakat Mandailing pada abad ke-18 dan awal masuknya orang Belanda
ke Mandailing. Bagaimana sejarh atau keadaan masyarakat Mandailing
pada abad-abad sebelumnya tidak terdapat tulisan yang mencatatnya.
Kitab Negarakertagama
Mpu Prapanca, seorang pujangga Kerajaan Majapahit
menulis satu kitab yang berjudul Negarakertagama sekitar tahun 1365.
kitab tersebut ditulisnya dalam bentuk syair yang berisi keterangan
mengenai sejarah Kerajaan Majapahit. Menurut Prof. Slamet Mulyana
(1979:9). Kitab Negarakertagama adalah sebuah karya paduan sejarah
dan sastra yang bermutu tinggi dari zaman Majapahit. Berabad-abad
setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit, keberadaan dimana kitab ini
tidak diketahui. Baru pada tahun 1894, satu Kitab Negarakertagama
ditemukan di Puri Cakranegara di Pulau Lombok. Kemudian pada tanggal
& Juli 1979 ditemukan lagi satu Kitab Negarakertagama di Amlapura,
Kabupaten Lombok, Pulau Bali.
Dalam Pupuh XIII Kitab Negarakertagama, nama Mandailing
bersama nama banyak negeri di Sumatera dituliskan oleh Mpu Prapanca
sebagai negara bawahan Kerajaan Majapahit. Tidak ada keterangan
lain mengenai Mandailing kecuali sebagai salah satu negara bawahan
Kerajaan Majapahit. Namun demikian, dengan dituliskan nama Mandailing
terdapatlah bukti sejarah yang otentik bahwa pada abad ke-14 telah
diakui keberadaannya sebagai salah satu negara bawahan Kerajaan
Majapahit.. pengertian negara bawahan dalam hal ini tidak jelas
artinya karena tidak ada keterangan berikutnya.
Jadi dapatlah dikatakan bahwa Negri Mandailing
sudah ada sebelum abad ke-14. Karena sebelum keberadaannya dicatat
tentunya Mandailing sudah terlebih dahulu ada. Kapan Negeri Mandailing
mulai berdiri tidak diketahui secara persis. Tetapi karena nama
Mandailing dalam kitab ini disebut-sebut bersama nama banyak negeri
di Sumatera termasuk Pane dan Padang Lawas, kemungkinan sekali negeri
Mandailing sudah mulai ada pada abad ke-5 atau sebelumya. Karena
Kerajaan Pane sudah disebut-sebut dalam catatan Cina pada abad ke-6.
Dugaan yang demikian ini dapat dihubungkan dengan bukti sejarah
berupa reruntuhan candi yang terdapat di Simangambat dekat Siabu.
Candi tersebut adalah Candi Siwa yang dibangun sekitar abad ke-8.
Apakah pada abad ke-14 Mandailing merupakan satu
kerajaan tidak diketahui. Karena dalam Kitab Negarakertagama, Mandailing
tidak disebut-sebut sebagai kerajaan tetapi sebagai negara bawahan
Kerajaan Majapahit. Tetapi dengan disebutkan negeri Mandailing sebagai
negara, ada kemungkinan pada masa itu Mandailing merupakan satu
kerajaan. Keterangan mengenai keadaaan Mandailing sebelum abad ke-14
tidak ada sama sekali kecuali keberadaaan Candi Siwa di Simangambat.
Namun demikian, berdasarkan berbagai peninggalan dari zaman pra
sejarah dan peninggalan dari zaman Hindu/Buddha yang terdapat di
Mandailing kita dapat mengemukakan keterangan yang bersifat hipotesis.
Hipotesis Tentang Kerajaan Mandala Holing
Pada bagian terdahulu sudah dikemukakan bahwa di
Simangambat terdapat reruntuhan Candi Siwa (Hindu) dari abad ke-8.
Candi tersebut jauh lebih tua dari candi-candi di Portibi (Padang
Lawas) yang menurut perkiraan para pakar dibangun pada abad ke-11.
Dengan adanya candi ini bisa menimbulkan pertanyaan mengapa dan
kapan ummat Hindu yang selanjutnya saya sebut orang Hindu dari India
datang ke Mandailing yang terletak di Sumatera yang mereka namakan
Swarna Dwipa (Pulau Emas).
Besar kemungkinan orang Hindu datang ke Mandailing
yang terletak di Swarna Dwipa adlah untuk mencari emas. Dalam sejarah
Inida, terdapat keterangan yang menyebutkan bahwa sekitar abad pertama
Masehi pasokan emas ke India yang didatangi dar Asia Tengan terhenti.
Karena di Asia Tengan terjadi berbagai peperangan.Oleh karena itu
kerajaan-kerajaan yang terdapat di India berusaha mendapatkan emas
dari tempat lain yaitu dari Sumatera/Swarna Dwipa. Dalam hubungan
ini kita mengerti bahwa di wilayah Mandailing yang pada masa lalu
hingga kini di dalamnya termasuk kawasan Pasaman terdapat banyak
emas. Bukti-bukti mengenai hal ini banyak sekali. Jadi besar sekali
kemungkinan bahwa tempat yang dituju oleh orang Hindu dari India
untuk mencari emas di Swarna Dwipa adalah daerah Mandailing. Pada
masa daerah ini belum bernama Mandailing. Entah apa namanya kita
tidak mengetahui.
Orang Hindu yang datang ke wilayah Mandailing adalah
yang berasal dari negeri atau Kerajaan Kalingga di India. Oleh karena
itu mereka disebut orang Holing atau orang Koling. Ada kemungkinan
mereka masuk darri daerah Singkuang. Karena Singkuang yang merupakan
tempat bermuaranya Sungai Batang Gadis cukup terkenal sebagai pelabuhan.
Itulah sebabnya tempat tersebut dinamakan Singkuan oleh pedagang
Cina yang berarti harapan bar. Karena melalui pelabuhan ini mereka
biasa memperoleh berbagai barang dagangan yang penting yang berasal
dari Sumatera seperti damar, gitan, gading dsb.
Menurut dugaan setelah orang Holing/Koling tiba
di Singkuang, selanjutnya mereka menyusuri Sungai Batang Gadis ke
arah hulunya. Dengan demikian maka akhirnya mereka sampai di satu
dataran rendah yang subur yaitu di kawasan Mandailing Godang yang
sekarang. Sejak zaman pra sejarah di kawasan tersebut dan di berbagai
tempat di Mandailing sudah terdapat penduduk pribumi. Hal ini dibuktikan
oleh adanya peninggalan dari zaman pra sejarah berupa lumpang-lumpang
batu besar di tengah hutan di sekitar Desa Runding di seberang Sungai
Batang Gadis dan bukti-bukti lainnya di berbagai tempat.
Pada waktu orang Holing/Koling sampai di kawasan
Mandailing Godang (waktu itu kita tidak tahu nama kawasan ini) maka
mereka bertemu dengan penduduk pribumi setempat. Penamaan orang
Holing/Koling digunakan untuk menyebutkan orang Hindu yang berasal
dari Negeri Kalingga tersebut dibuat oleh penduduk pribumi. Setibanya
di wilayah Mandailing, orang-orang Holing/Koling tersebut menemukan
apa yang mereka cari yaitu emas. Kita mengetahui melalui sejarah
bahwa emas tercatat sebagai salah satu modal utama dalam berdirinya
kerajaan-kerajaan besar dan emas juga merupakan sumber kemakmuran.
Setelah orang-orang Hindu menemukan banyak emas di kawasan Mandailing
yang sekarang ini, mereka kemudian menetap di kawasan tersebut.
Karena orang-orang Holing/Koling menetap di kawasan itu maka dinamakan
Mandala Holing/Koling. Mandala artinya lingkungan atau kawasan.
Mandala Holing/Koling berarti lingkungan atau kawasan tempat tinggal
orang-orang Holing/Koling. Sampai sekarang kita sering mendengar
disebut-sebut adanya Banua Holing/Koling. Tetapi orang-orang tidak
mengetahui dimana tempat yang dinamakan Banua Holing/Koling itu.
Berdasarkan hipotesis ini kita dapat mengatakan
bahwa yang disebut Banua Holing/Koling itu adalah wilayah Mandailing
yang dahulu ditempati oleh orang-orang Holing/Koling. Dengan kata
lain Banua Holing/Koling adalah Mandala Holing/Koling. Berabad-abad
kemudian Mandalan Holing/Koling dikenal sebagai Kerajaan Holing.
Dalam hubungan ini Slamet Mulyana (1979:59) mengemukakan bahwa hubungan
dagang dan diplomat antara Cina dan Jawa berlangsung mulai dari
berdirinya Kerajaan Holing pada permulaan abad ke-7 sampai runtuhnya
Kerajaan Majapahit pada permulaan abad ke-16. Sejalan dengan keterangan
Slamer Mulyana ini kita dapat melihat hubungan antara Kerajaan Holing
dengan adanya Candi Siwa Di Simangambat yang dibangunkan pada abad
ke-8. Dalam hubungan ini dapat pula dikemukan bahwa dari berbagai
catatan sejarah disebut-sebut adanya Kerajaan Kalingga dan Kerajaan
Holing. Tetapi sampai sekarang para sejarah belum menentukan dimana
sebenarnya lokasinya yang pasti. Ada pakar sejarah yang menduga
bahwa Kerajaan Kalingga terletak di Jawa Timur tetapi Kerajaan Holing
yang disebut-sebut dalam catatan Cina tidak diketahui lokasinya
yang pasti. Dan dapat pula dipertanyakan apakah Kerajaan Kalingga
adalah yang disebut juga sebagai Kerajaan Holing.
Dengan argumentasi yang telah dikemukan di atas, kita mengajukan
dugaan (hipotesis) bahwa yang disebut Kerajaan Holing itu dahulu
terletak di wilayah Mandailing yang juga disebut sebagai Kerajaan
Mandala Holing/Koling. Kiranya cukup beralasan untuk menduga bahwa
nama Mandahiling (Mandailing) yang disebut oleh Mpu Prapanca dalam
Kitan Negarakertagama pada abad ke-14 berasal dari nama Mandalaholing
yang kemudian mengalami perubahan penyebutan menjadi Mandahiling
dan akhirnya kini menjadi Mandailing. Untuk membuktikan kebenaran
dugaan atau hipotesis ini tentu masih perlu dilakukan penelitian.
Dan ini merupakan tantangan bagi orang Mandailing yang berkedudukan
sebagai pakar sejarah.
Diperkiranya orang-orang Hindu menetap di Kerajaan
Mandalaholing (Kerajaan Holing/ Banua Holing) yang kaya dengan emas
berabad-abad lamanya. Yaitu sejak mereka datang pertama kali pada
abad-abad pertama Masehi. Sampai abad ke-13 orang-orang Hindu masih
ada yang menetap di Mandailing yang sekarang ini. Hal ini dibuktikan
dengan ditemukannya cukup banyak peninggalan Hindu/Buddha di wilayah
Mandailing. Salah satu diantaranya adalah tiang batu di Gunung Sorik
Merapi yang bertarikh abad ke-13 di kawasan Mandailing Godang (Pidoli)
terdapat lokasi persawahan yang bernama Saba Biara. Yang disebut
biara atau vihara adalah tempat orang-orang Hindu-Buddha melakukan
kegiatan keagamaan. Pada waktu saya berkunjung ke tempat yang bernama
Saba Biara itu beberapa tahun yang lalu, pada jalan masuk ke lokasi
tersebut saya melihat di 5 (Lima) tempat adanya batu bata yang tersusun
dalam lubang tanah yang dalamnya kurang lebih 2 (Dua) meter. Kemungkinan
sekali batu bata yang tersusun itu adalah reruntuhan candi dari
zaman dahulu. Susunan batu bata tersebut ada yang terletak pada
gundukan tanah. Ketika orang-orang yang pulang dari sawah saya tanyakan
apakan susunan batu bata seperti yang berada pada gundukan tanah
itu ada terdapat di tengah persawahan, mereka mengatakan bahwa semua
pulau-pulau (gundukan tanah) yang banyak terdapat di tengah persawahan
adalah tumpukan atau susunan batu bata di bawahnya. Oleh karena
itu besar sekali kemungkinan bahwa di lokasi yang bernama Saba Biara
di Pidoli adalah reruntuhan puluhan candi peninggalan kerajaan Hindu/Buddha
(Kerajaan Mandalaholing). Untuk membuktikannya perlu dilakukan eskavasi
(penggalian)
Menurut dugaan Kerajaan Mandalaholing yang dahulu
pernah terdapat di Mandailing yang sekarang meluas sampai ke kawasan
Pasaman (yang dahulu merupakan bagian dari Mandailing). Menurut
keterangan yang pernah saya peroleh di Pasaman, batas antara wilayah
Mandailing dan wilayah Minangkabau terletak di Si Pisang lewat Palupuh.
Sekarang batas antara Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Lima Puluh
Kota. Di kawasan Pasaman, yaitu di tempat yang bernama Tanjung Medan
dekat Rao terdapat juga candi yang mirip keadaannya dengan candi
di Portibi. Dan kita tahu bahwa di kawasan Pasaman juga terdapat
emas yang dibutuhkan oleh orang-orang Hindu. Kalau tidak salah di
kawasan yang bernama Manggani. Dan di kawasan itu juga terdapat
tambang emas Belanda pada masa penjajahan.
Pengaruh Hindu Terhadap Pribumi Mandailing
Pada uraian yang di atas sudah dikemukan mengenai
peninggalan-peninggalan dari zaman pra sejarah yang ditemukan di
beberapa tempat di Mandailing. Peninggalan-peninggalan ini membuktikan
bahwa sudah ada manusia yang mendiami wilayah Mandailing pada masa
tersebut. Sebagai pribumi Mandailing, mereka terus berkembang smapai
orang-orang Hindu datang dan menetap di Mandailing.
Besar kemungkinan antara penduduk pribumi hidp
berdampingan secara damai dengan orang-orang Hindu yang menetap
dan kemudian membangun kerajaan di wilayah Mandailing. Dugaan ini
didasarkan pada kenyataan bahwa meskipun banyak ditemukan peninggalan
dari zaman Hindu di wilayah Mandailing, tapi ditemukan juga peninggalan
kebudayaan pribumi Mandailing yang berkembang sendiri tanpa didominasi
oleh pengaruh Hindu. Misalnya, patung-patung batu seperti yang terdapat
di halaman Bagas Godang Panyabungan Tonga-Tonga dan patung-patung
kayu yang terdapat di Hua Godang. Demikian juga ornamen-ornamen
tradisional yang terdapat pada Bagas Godang dan Sopo Godang yang
hanya sedikit sekali memperlihatkan pengaruh Hindu. Yakni pada ornamen
berbentuk segitiga yang disebut bindu (pusuk robung) yang merupakan
lambang dari Dalian Na Tolu. Dalam kebudayaan Hindu, Bindu (bentuk
segitiga) merupakan lambang mistik hubungan manusia dengan dewa
trimurti. Bagian-bagian lain dari ornamen tradisional tidak memperlihatkan
adanya pengaruh Hindu. Dari bentuknya, ornamen-ornamen yang ada
sampai sekarang ini hanya menggunakan garis-garis geometris (garis
lurus), kecuali ornamen benda alam, buatan dan hewan seperti matahari,
bulan, bintang, pedang, ular dll. Bentuk ornamen yang hanya menggunakan
garis-garis geometris ini membuktikan ornamen tersebut berasal dari
zaman yang sudah lama sekali (primitif).
Pengaruh Hindu juga terdapat pada budaya tradisional Mandailing,
antara lain pada penamaan desa na ualu (mata angin)dan pada gelar
kebangsawanan seperti Mangaraja, Soripada, Batara Guru serta nama
gunung seperti Dolok Malea. Keaneragaman bahasa Mandailing yang
terdiri dari hata somal, hata sibaso, hata parkapur, hata teas dohot
jampolak dan hata andung yang kosa katanya masing-masing berlainan
menunjukkan budaya pribumi Mandailing sudah lama berkembang yang
tentunya dihasilkan dari peradaban yang sudah tinggi yang tidak
banyak dipengaruhi oleh budaya Hindu. Jadi dapat disimpulkan bahwa
meskipun orang Hindu lama menetap dan mengembangkan budayanya tetapi
pribumi Mandailing tidak didominasi oleh orang-orang Hindu danbebas
mengembangkan budayanya sendiri.
Adanya dua masyarakat, yaitu pribumi Mandailing
dan orang Hindu yang masing-masing mengembangkan budayanya pada
masa yang lalu di lingkuangan alam yang subur dan kaua dengan emas
diduga kemungkinan besar Mandailing merupakan pusat peradaban di
Sumatera pada masa awal abad-abad Masehi. Salah satu bukti mengenai
hal ini adalah adanya ragam bahasa yang sudah disebutkan di atas
dan adanya aksara yang dinamakan Surat Tulak-Tulak yang kemudian
berkembang ke arah utara mulai dari Toba, Simalungun sampai Karo
dan Pakpak. Penelitian para pakar sudah membuktikan bahwa aksara
Mandailing (Surat Tulak-Tulak). Bahasa yang halus dan aksara yang
dimiliki oleh sesuatu bangsa menunjukkan bahwa bangsa tersebut sudah
mempunyai peradaban yang tinggi.
Ada permasalahan yang sampai sekarang belum terpecahkan,
yaitu kapan orang Hindu lenyap dari wilayah Mandailing dan apa yang
menyebabkan mereka hilang dari Mandailing. Setelah orang Hindu lenyap
dari Mandailing, pribumi Mandailing terus mengembangkan kebudayaannya.
Budaya Mandailing berkembang tanpa memperlihatkan pengaruh budaya
Hindu yang esensial. Dalam kebudayaan Hindu salah satu esensial
adalah konsep bahwa raja adalah wakil dewa di bumi yang mendasari
feodalisme dalam pelaksanaan pemerintahan kerajaan. Masyarakat Mandailing
tidak menganut konsep yang demikian itu dan pemerintahan yang demokratis
yang dijalankan bersama-sama oleh Namora Natoras dan Raja. Hal ini
dilambangkan oleh bangunan Sopo Godang sebagai balai sidang adat
(pemerintahan) yang sengaja dibuat tidak berdinding agar rakyat
dapat secara langsung melihat dan mendengar segala hal yang dibicarakan
oleh para pemimpin mereka. Semuanya berlangsung secara transparan
yang langsung disaksikan sendiri oleh rakyat. Setelah Belanda menjajah
Mandailing, keadaan yang demikian itu mengalami banyak perubahan
sehingga akhirnya muncul hal-hal yang feodalistis. Karena untuk
memperkuat kedudukannya di Mandailing, Belanda berusaha mengembangkan
hal-hal yang feodalistis untuk dapat menguasai rakyat Mandailing
yang demokratis. Sifat rakyat Mandailing yang demokratis itu pada
akhirnya mendorong munculnya pergerakan nasional di Mandailing sebagai
pelopor pergerakan di Sumatera Utara.
Mandailing dan Perang Paderi
Pada tanggal 13 agustus 1814, Inggris dan Belanda
melakukan perjanjian yang isinya menyatakan bahwa jajahan Belanda
di Kepulauan Nusantara yang telah diambil Inggris harus dikembalikan
kepada Belanda. Dengan dijalankan perjanjian itu pada tahun 1816,
maka Belanda kembali berkuasa di Padang. Pada masa itu peperangan
amtara kaum Paderi dan kaum adat di Minangkabau sudah berlangsung
beberapa tahun lamanya. Untuk menghadapai kekuatan kaum Paderi,
pimpinan kaum adat meminta bantuan kepada Belanda. Dengan demikian
maka terlibatlah Belanda dalam perang Paderi.
Gerakan kaum Paderi sudah mulai meluas ke wilayah
Mandailing. Salah satu alasan kamu Paderi memasuki Mandailing adalah
untuk melakukan pengislaman terhadap penduduknya yang masih menganut
animisme yang dinamakan sipele begu (memuja roh). Beberapa catatan
mengatakan bahwa pada waktu kaum Paderi memasuki Mandailing. Beberapa
orang raja di Mandailing dan sejumlah penduduk sudah mulai menganut
agama Islam. Kapan orang-orang Mandailing mulai menganut agama Islam
untuk pertama kalinya belum diperoleh keterangan yang didukung oleh
bukti-bukti sejarah yang otentik. Tetapi setelah kaum Paderi menguasai
Mandailing, mereka melakukan pengislaman terhadap semua penduduk
dan penduduk yang sudah menganut agama Islam dengan sendirinya memihak
kepada kaum Paderi. Ada catatan yang mengatakan menjelang masuknya
kaum Paderi ke Mandailing sudah ada orang-orang Mandailing yang
pergi dan belajar agama Islam di Bonjol yang merupakan salah satu
pusat kedudukan kaum Paderi di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol.
Pada waktu kaum Paderi sudah menguasai Mandailing,
mereka menempatkan tokoh-tokoh pemuka agama Islam untuk mendampingi
raja-raja Mandailing dalam menjalankan pemerintahan. Tokoh-tokoh
pemuka agama Islam tersebut dinamakan kadi. Pada waktu kesatuan
wilayah kerajaan-kerajaan kecil di Mandailing yang dinamakan janjian
dijadikan oleh kaum Paderi sebagai kesatuan wilayah keagamaan yang
disebut kariah. Dan di setiap kariah didudukkan oleh kaum Paderi
seorang kadi untuk mendampingi raja dalam menyelenggara pemerintahan
dan urusan agama Islam.
Setelah Belanda menbantu kaum adat menghadapi kaum
Paderi, maka lama kelamaan boleh dikatakan perang Paderi berubah
keadaannya dari perang antara kaum adat dan kaum Paderi menjadi
perang antara Belanda dan kaum Paderi. Dalam keadaan yang demikian
itu pihak Belanda bukan lagi hanya membantu kaum adat dan memerangi
kaum Paderi, tetapi Belanda mulai menggunakan kekuataannya untuk
meluaskan lagi penjajahannya dari wilayah Minangkabau ke wilayah
lain di sebelah utara termasuk ke Mandailing. Pada waktu perang
Paderi makin meluas ke arah utara (ke arah Rao) yang berbatasan
dengan wilayah Mandailing, niat Belanda untuk menaklukkan berbagai
wilayah di bagian utara itu makin nyata. Dan ketika serdadu Belanda
sampai di Sundatar yang terletak di sebelah selatan Rao, mereka
sengaja menyiarkan kabar ke arah utara yaitu di kawasan Rao dan
wilayah Mandailing jika rakyat di tempat tersebut tidak mau takluk
kepada Belanda yang kuat persenjataannya mereka akan digempur dengan
kekerasan (Radjab, 1964:163)
Sekitar tahun 1832, pada waktu pimpinan tentara
Belanda Kolonel Elout dan Letnan Engelbert berad di Rao, Raja Gadombang
dari Huta Godang di Mandailing datang menghadap mereka dengan maksud
akan menawarkan bantuannya kepada tentara Belanda dalam perang membasmi
kaum Paderi. Raja Gadombang sebenarnya dengan membantu tentara Belanda
itu hendak membalaskan dendamnya dan dendam rakyat Mandailing yang
telah bertahun-tahun diperintah, dianiaya dan dipelakukan sewenang-wenangnya
oleh kaum Paderi (Radjab 1964: 166). Pada tahun 1833, sewaktu tentara
Belanda dikepung pasukan kaum Paderi dalam Benteng Amorengen di
Rao, Raja Gadombang yang sudah diangkat oleh Belanda sebagai Regen
Mandailing dengan ratusan pasukannya datang membantu Belanda. Ketika
Benteng Amorengen hampir jatuh ke tangan kaum Paderi datang pula
bantuan pasukan Belanda dari Natal dibantu oleh 500 orang Batak
yang kemudian bergabung dengan pasukan Raja Gadombang dan mereka
bersama-sama menggempur pasukan kaum Paderi. Senadainya tidak datang
bantuan tersebut pada tanggal 21 Januari 1833, keesokan harinya
pasti semua tentara Belanda di Rao akan musnah sama sekali. Sebab
mereka sudah lemah karena lama tak makan dan pelurunya hampir habis
(Radjab, 1964: 187).
Setelah kaum Paderi tidak ada lagi di sekitar Rao
pada tanggal 22 Januari 1833, 3 (tiga) orang opsir Belanda mengadakan
rapat yang dihadiri oleh Tuanku Natal yang pro Belanda, Regen Mandailing
Raja Gadombang dan beberapa orang hulubalang Batak (Radjab, 1964:
188). Selain dari Raja Gadombang, Sutan Malayu raja dari Pakantan
dan Patuan Gogar Tengah Hari raja dari Muarasipongi ikut juga membantu
Belanda. Pada bulan September 1833 ketika pasukan Belanda dari Rao
melakukan serangan terhadap kaum Paderi di Bonjol di bawah pimpinan
Mayor Eilers, pasukan Raja Gadombang dan Sutan Malayu ikut membantu.
Dalam satu pertempuran di Lundar dekat Lubuk Sikaping ketika pasukan
Raja Gadombang dan pasukan Sutan Malayu dalam perjalanan ke Bonjol,
Raja Gadombang mengalami luka dan Sutan Malayu tewas dalam pertempuran
tersebut (Radjab, 1964:261). Akhirnya serangan pasukan Belanda ke
Bonjol yang dibantu oleh pasukan Raja Gadombang dan Sutan Malayu
terpaksa mundur kembali ke Rao karena tak sanggup menghadapi kaum
Paderi.
Pada bulan Oktober 1833, pasukan Belanda yang berada
di Benteng Amorengen dikabarkan akan diserang oleh kaum Paderi dan
rakyat Rao termasuk diantaranya yang dipimpin Tuanku Tambusai yang
berada di sekitar tempat tesebut. Pada tanggal 20 Oktober 1833,
rakyat dari Desa Padang Matinggi dekat Rao datang beramai-ramai
menuju Benteng Amorengen dan mereka menembaki benteng tersebut.
Kemudian datang pulak rakyat dari Desa Tarung-Tarung untuk membantu
penyerangan ke Benteng Amorengen. Tangsi-tangsi pasukan Mandailing
yang berada di sekitar Amorengen terus ditembaki oleh penduduk Rao.
Keesokan harinya Raja Gadombang dan Datuk Gagah Tengah Hari datang
bersama 800 orang pasukan Mandailing. Mereka memasuki tangsi-tangsi
yang berada di sekitar Benteng Amorengen. Dalam keadaan yang demikian
itu, rakyat Rao terus berusaha untuk mengepung Benteng Amorengen
dan membuat kubu-kubu pertahanan di sekitar benteng tersebut. Melihat
keadaan yang demikian itu, pasukan Belanda sebahagian keluar dari
benteng dengan dibantu oleh pasukan Raja Gadombang dan Datuk Gagah
Tengah Hari menyerang pasukan Paderi yang berada di luar Benteng
Amorengen. Pada waktu itu, pasukan Paderi sedang melakukan sembahyang
zhuhur. Dan pada saat itulah pasukan Belanda menyerang mereka dari
belakang sehingga banyak pasukan Paderi yang tewas.
Sepanjang bulan Oktober sampai bulan November 1833,
pasukan Paderi terus memperkuatkan kepungan mereka terhadap pasukan
Belanda yang berada di Benteng Amorengen. Oleh karena itu pasukan
Belanda mulai kekurangan bahan makanan. Pada tanggal 18 November,
serdadu Belanda keluar dari benteng untuk menyerang pasukan Paderi
yang menghalangi jalan yang dapat menghubungkan pasukan Belanda
di Benteng Amorengen Rao dengan Huta Godang di Mandailing. Pasukan
Paderi mereka sergap ketika sedang tidur. Namun demikian lama kelamaan
pengepungan pasukan terhadap Benteng Amorengen semakin diperkuatkan
sehingga keadaan pasukan Belanda yang berada di dalam benteng tersebut
semakin sulit. Dalam keadaan yang demikian itu pemimpin pasukan
Belanda mencoba berunding dengan kaum Paderi. Tetapi kaum Paderi
menolaknya karena mereka dan rakyat Rao sudah mengambil keputusan
untuk mengusir Belanda dari Rao dengan menghancurkan Benteng Amorengen.
Kaum Paderi hanya mau berunding kalau pasukan Belanda bersedia meninggalkan
Rao dan pergi ke pinggir pantai. Pasukan Belanda mencari jalan untuk
meninggalkan Benteng Amorengen karena tahu tidak akan sanggup lagi
menghadapi serangan kaum Paderi yang semakin banyak jumlahnya mengepung
terus Benteng Amorengen. Berulang kali pasukan Belanda keluar benteng
untuk menyerang pertahanan pasukan Paderi yang menghalangi jalan
ke Mandailing. Dan sejak tanggal 24 November 1843, terjadi serang
menyerang antara pasukan Belanda dan kaum Paderi yang silih berganti.
Karena tidak sanggup lagi menghadapi kekuatan kaum Paderi akhirnya
pimpinan pasukan Belanda memutuskan untuk meninggalkan perbentengan
mereka di Rao dan memasuki daerah Mandailing untuk mencari tempat
yang aman. Untuk itu pimpinan pasukan Belanda Mayor Eilers mengutus
seorang tawanan menemui pimpinan pasukan Paderi untuk berunding
agar pasukan Belanda diperbolehkan meninggalkan Rao. Akhirnya pimpinan
pasukan Paderi memperkenankan permintaan pihak Belanda tersebut.
Pasukan Belanda dan pasukan Raja Gadombang meninggalkan Rao menuju
Mandailing pada tanggal 28 November 1883. setelah pasukan Belanda
meninggalkan Benteng Amorengen kaum Paderi menghancurkan benteng
tersebut. Pada hari itu juga pasukan Belanda tiba di Limau Manis
sebuah desa di kawasan Muarasipongi.
Pasukan Belanda Memasuki Mandailing
Pada tanggal 29 November 1833, pasukan Belanda
yang melarikan diri dari Rao meninggalkan Limau Manis menuju Desa
Tamiang. Pasukan Belanda tiba di Desa Tamiang pada tanggal 02 Desember
1833 dan mereka bertangsi di sebuah mesjid (Radjab, 1964: 297).
Selanjutnya pasukan Belanda membangun perbentengan di Singengu untuk
menangkis serangan pasukan Paderi kalau mereka datang menyerang
dari Rao. Kemudian pasukan Belanda membuat pula benteng pertahanan
di Kotanopan yang tidak jauh letaknya dari Singengu. Demikianlah
Belanda pertama kali menjejakkan kakinya di Mandailing setelah melarikan
diri dari pengepungan pasukan Paderi di Rao. Lima bulan kemudian
tepatnya bulan Mei 1834, Tuanku Tambusai dan pasukannya dengan dibantu
oleh penduduk Rao datang menyerang dan mengepung pasukan Belanda
di perbentengan mereka di Singengu dan Kotanopan. Tapi karena pasukan
Belanda mendapat bantuan 200 orang serdadu dari Padang akhirnya
pasukan Paderi itu meninggalkan Kotanopan.
Pada tahun 1835, seorang kontelir Belanda yang
pertama mulai ditempatkan di Mandailing, yaitu Kontelir Bonnet.
Pada tanggal 19 April 1835, Kontelir Bonnet mendapat perintah rahasia
dari residen Belanda di Padang untuk mengirimkan bantuan kepada
pasukan Letnan Beethoven yang ditugaskan untuk menyerang Rao. Kontelir
Bonnet menyiapkan 1100 orang Mandailing yang dipersenjatai dan diberangkatkan
menuju Rao pada tanggal 26 April 1835. Beberapa waktu kemudian pasukan
Belanda mulai berada kembali di Rao dan berulang-ulang kali terjadi
pertempuran antara mereka dengan kaum Paderi. Dan Raja Gadombang
dengan pasukannya masih terus bekerja sama dengan pasukan Belanda
untuk memerangi pasukan Paderi.
Pada bulan Oktober 1835 pada waktu Raja Gadombang
sedang dalam perjalanan dari Lundar ke Sundatar bersama anak buahnya,
mereka dihadang oleh pasukan Paderi. Seorang pasukan Paderi berhasil
menembak perut Raja Gadombang dan beliau meninggal dunia keesokan
harinya. Empat tahun kemudian (1839) setelah Raja Gadombang meninggal
dunia dan dimakamkan di Huta Godang, adik beliau yang bernama Sutan
Mangkutur memimpin perlawanan terhadap Belanda yang mulai menguasai
Mandailing. Kurang lebih satu tahun setelah Sutan Mangkutur dan
pasukannya memerangi Belanda di Mandailing, dengan tipu muslihat
yang dibantu oleh orang yang menghianatinua maka Sutan Mangkutur
berhasil ditangkap oleh Belanda di Huta Godang. Beberapa orang raja
di Mandailing Julu yang bersimpati kepada Sutan Mangkutur dipaksa
Belanda untuk membayar denda berupa emas setelah Sutan Mangkutur
berhasil mereka tawan. Kemudian Sutan Mangkutur bersama tiga orang
kahangginya dibuang oleh Belanda ke Pulau Jawa. Sampai sekarang
tidak diketahui dimana letak makam Sutan Mangkutur dengan dua orang
saudaranya tersbut. Satu orang diantaranya Raja Mangatas sempat
kembali ke Huta Godang dari Jawa Barat. Tetapi beliau tidak mengetahui
dimana makam Sutan Mangkutur dan dua orang saudaranya yang lain.
Willem Iskandar Mencerdaskan Bangsanya
Dalam perjalanan sejarah etnis Mandailing sepanjang
abad ke-18 tokoh Willem Iskandar wajib dicatat. Karena jasanya sangat
besar bagi etnis Mandailing dalam usaha untuk mencerdaskan bangsanya.
Dan juga Willem Iskandar berjasa besar untuk mempelopori perkembangan
pendidikan modern di Sumatera bagian Utara. Willem Iskandar adalah
putera Mangaraja Tinating marga Nasution dan si Anggur boru Lubis.
Ia lahir pada tahun 1840 di Pidoli Lombang. Pada masa kecilnya ia
bernama si Sati dan kemudian bergelar Sutan Sikondar.
Pada tahun 1857 dalam usia 17 tahun, si Sati dibawa
oleh Asisten Reiden Godon ke Negeri Belanda untuk belajar di sekolah
guru. Setelah mendapat ijazah guru di Negeri Belanda, si Sati yang
diberi gelar Willem Iskandar ketika berada di Negeri Belanda kembali
ke Indonesia dan tiba di Batavia pada bulan Desember 1861. Kemudian
ia kembali ke Mandailing dan dalam usia 22 tahun, yaitu pada tahun
1862 Willem Iskandar mendirikan sekolah guru (kweekschool) di Desa
Tano Bato yang tidak jauh letaknya dari desa tempat kelahirannya.
Selama kurang dari 12 tahun (1862-1874), Willem Iskandar memimpin
sekolah tersebut dan sekaligus menjadi gurunya. Pada tahun 1874
Willem Iskandar pergi untuk kedua kalinya ke Negeri Belanda untuk
melanjutkan pendidikan guru. Selam dipimpin oleh Willem Iskandar,
Sekolah Tano Bato pernah dijadikan pemerintah Belanda sebagai contoh
untuk sekolah-sekolah guru di Indonesia. Murid-murid yang telah
menyelesaikan pendidikan di Sekolah Tano Bato kemudian diangkat
menjadi guru di berbagai sekolah yang dibangun Belanda di Mandailing
dan Angkola. Dan murid-murid mereka banyak yang menjadi guru di
kemudian hari di berbagai tempat di Sumatera Utara. Itulah sebabnya
maka dapat dikatakan bahwa Willem Iskandar adalah pelopor pendidikan
di Sumatera bagian utara. Ada diantara murid dari murid-murid Willem
Iskandar yang menjadi guru sampai ke Aceh.
Pada waktu berada di Negeri Belanda untuk kedua
kalinya pada tanggal 27 Januari 1876, Willem Iskandar menikah dengan
seorang gadis Belanda bernama Maria Jacoba Christina Winter. Tetapi
baru beberapa bula mereka berumah tangga pada bulan Mei tahun 1876
Willem Iskandar meninggal dunia di Amsterdam dalam usia 36 tahun.
Seandainya ia tidak meninggal dunia Willem Iskandar sudah direncanakan
akan memimpin sekolah guru (kweekschool) yang dibangun oleh Belanda
di Padang Sidempuan.
Semasa hidupnya selain dikenal sebagai seorang
pelopor pendidikan guru, Willem Iskandar populer pula sebagai penyair
Mandailing terkemuka pada abad ke-18. ia menulis puisi-puisi yang
sangat indah dan sangat penting isinya dalam bahasa Mandailing yang
puitis dan juga menulis cerita pendek serta menerjemahkan beberapa
buku berbahasa Belanda ke dalam Bahasa Melayu dan Bahasa Mandailing.
Puisi-puisi dan cerita pendek seta drama pendek karya Willem Iskandar
dikumpulkan dalam buku berjudul Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk
yang diterbitkan oleh Batavia pertama kali pada tahun 1872. Buku
tersebut pada masa dahulu sangat populer di kalangan masyarakat
Mandailing dan Angkola dan dicetak ulang beberapa kali. Puisi-puisi
Willem Iskandar yang berisi semnagat kebangsaan (nasionalisme) mengilhami
para pemuda pergerakan di Mandailing pada tahun 1930-an. Dan mereka
menggunakannya untuk menumbuhkan rasa kebangsaan dan semangat anti
penjajahan di tengah masyarakat Mandailing. Oleh karena itu buku
Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk pernah dilarang oleh pemerintah
Belanda sebagai bacaan.
Perlawanan terhadap Belanda dan Akhir Penjajahannya
di Mandailing
Seperti yang telah dikemukakan pada bagian terdahulu
meskipun orang Mandailing yang pernah bekerja sama dengan Belanda
pada masa Perang Paderi, tetapi ada pula rakyat Mandailing yang
bangkit melawan Belanda mendahului penduduk lain di Sumatera Utara.
Yaitu dalam perang Mandailing yang dipimpin oleh Sutan Mangkutur
dan rekan-rekannya pada tahun 1839.
Pada masa munculnya pergerakan nasional, para pemuda
Mandailing tercatat pula sebagai pelopor di Sumatera Utara. Rasa
kebangkitan orang Mandailing yang tidak menyukai penjajahan sejak
abad ke-18 dapat ditemukan di dalam puisi-puisi Willem Iskandar.
Meskipun ia mendapat pendidikan di Negeri Belanda tetapi ia mengutamakan
rasa kebangsaaan dan cinta tanah air yang didukung dengan cita-cita
kemajuan untuk bangsanya melalui pendidikan. Hal ini sangat nyata
dia ekspresikan melalui isi puisi-puisinya. Dan ternyata puisi-puisinya
itu memberi semangat dan ilham bagi para pemuda pergerakan di Mandailing
untuk ikut bangkit melawan penjajahan Belanda pada tahun 1930-an.
Mereka bangkit mendahului pemuda-pemuda pergerakan di berbagai daerah
lain di Sumetera Utara. Akibatnya ada beberapa orang diantara pemuda
Mandailing itu yang dibuang ke Digul karena ikut dalam pergerakan
melawan Belanda.
Perlawanan yang dilakukan oleh pemuda Mandailing
di tahun 1930-an itu merupakan bagian dari perjuangan rakyat Mandailing
untuk melepaskan negerinya dan tanah airnya dari penjajahan Belanda
yang berakhir dengan datangnya masa pendudukan Jepang pada tahun
1942. Dengan demikian sejarah membuktikan bahwa Mandailing tidak
termasuk di antara negeri-negeri di Nusantara yang dijajah oleh
Belanda selama 350 tahun. Mandailing hanya dijajah oleh Belanda
kurang lebih satu abad saja (1835-1942). Masa penjajahan Jepang
meskipun hanya berlangsung kurang lebih 3 (tiga) tahun saja menimbulkan
banyak pengalaman pahit bagi rakyat Mandailing.
Selama masa perang kemerdekaan setelah Proklamasi
17 Agustus 1945, Mandailing tidak setapak pun pernah lagi diinjak
oleh Belanda seperti daerah-daerah lain di Nusantara. Dan dalam
perang kemerdekaan itu ada diantara putera Mandailing yang tampil
sebagai tokoh sangat penting dalam memimpin perajurit-perajurit
Indonesia berperang melawan Belanda. Sehingga akhirnya putera Mandailing
tersebut tercatat sebagai salah satu dari 3 (tiga) Jenderal Besar
yang dimiliki bangsa Indonesia.
Meskipun terpaksa dicatat sebagai pengalaman pahit,
sebahagian rakyat Mandailing pernah pula terlibat dalam pemberontakan
melawan perbuatan pemerintah pusat yang dirasakan tidak adil terhadap
daerah. Hal ini kenyataan sejarah yang dapat diingkari dan tidak
pula harus membuat rakyat Mandailing merasa malu.
Penutup
Barangkali tidak terlalu berlebihan kalau dikatakan
dengan terbentuknya Kabupaten Mandailing Natal,
Mandailing telah kembali ke tangan orang Mandailing. Dan hal ini
harus kita sadari sebagai tantangan besar bagi rakyat Mandailing
sendiri dalam perjalanan sejarah selanjutnya. Tantangan itu harus
diatasi oleh rakyat Mandailing sendiri terutama dengan cara yang
dilandaskan kesadaran kultural (budaya Mandailing) yang berpangkal
pada ajaran nenek moyang orang Mandailing yang mengatakan olong
do mula ni adat dohot ugari, olong maroban domu, domu maroban parsaulian.
Tampakna do rantosna rim ni tahi do na gogo. Marsitiop togu di adat
dalian na tolu, marsitiap gogo di poda na lima.
Sai sayur matua bulung ma nian Kabupaten Mandailing
Natal na togu jong-jong di tano rura Mandailing on, i ma tano sere
tano omas si gumorsing na sun tarbonggal tu jae tu julu, tu desa
na ualu.
NB: Dilarang mengutip dan memperbanyak isi makalah
tanpa seijin dari penulis.
Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang.
|