Makalah
Revitalisasi
Kebudayaan Mandailing
Oleh Drs. Pengaduan Lubis
Pendahuluan
Sebagai pendahuluan saya kira ada dua hal yang perlu dijelaskan.
Pertama ialah pengertian revitalisasi dalam hubungannya dengan kebudayaan
Mandailing. Dan kedua ialah konsep tentang ujud kebudayaan yang
ada hubungannya dengan usaha untuk melakukan revitalisasi tersebut.
Kedua hal tersebut perlu lebih dahulu dibicarakan
karena keduanya merupakan titik tolak dari berbagai hal lainnya
yang akan dicoba dibicarakan nanti.
Seperti yang sudah diketahui revitalisasi berarti
menghidupkan kembali. Apakah kebudayaan Mandailing sudah mati maka
perlu direvitalisasi? Kebudayaan Mandailing memang belum mati sama
sekali. Tetapi karena masyarakat Mandailing dilanda oleh berbagai
perubahan belakangan ini, yaitu sejak masa pendudukan Jepang sampai
sekarang, maka kebudayaan Mandailing sudah banyak sekali mengalami
erosi karena diabaikan oleh warga masyarakat pendukungnya. Pada
masa ini sebagian besar orang Mandailing yang lahir pada tahun 1940-an
tidak banyak yang mengenal sepenuhnya kebudayaan Mandailing. Dan
generasi keturunan mereka sekarang ini lebih tidak mengenal lagi
kebudayaan Mandailing. Dan dari kedua generasi tersebut ternyata
pula tidak banyak yang sungguh-sungguh memperdulikan kebudayaan
Mandailing dan kondisinya yang terus menerusi mengalami erosi.
Dalam keadaan yang demikian itu, banyak di antara
bagian-bagian yang penting dari kebudayaan Mandailing yang sudah
hampir punah sama sekali. Misalnya beberapa ragam bahasa Mandailing
yang dinamakan hata andung, hata sibaso, hata parkapur dan hata
teas dohot jampolak. Yang masih hidup dan terus dipergunakan oleh
orang Mandailing sampai saat ini ialah hata somal, yaitu ragam bahasa
Mandailing yang dipergunakan sehari-hari. Banyak bagian dari kesenian
Mandailing yang juga sudah punah seperti misalnya repertoir musik
tradisional Mandailing seperti Gordang Sambilan dan Gondang Dua
(tunggu-tunggu dua). Demikian juga sastra lisan dan seni kerajinan
Mandailing.
Kalau kehilangan yang demikian terus kita biarkan
saja terjadi, maka dalam jangka waktu yang relatif tidak lama maka
kekayaan kebudayaan Mandailing akan punah sama sekali. Oleh karena
itu, disaat kita akan memasuki abad baru sekarang ini kita sudah
perlu sekali merevitalisasi kebudayaan Mandailing.
Tentu saja revitalisasi yang perlu kita lakukan
bukan dalam pengertian sempit dan kaku, yaitu menghidupkan kembali
kebudayaan Mandailing dalam keadaannya seperti pada masa dahulu
kala. Pada bagian-bagian tertentu revitalisasi itu harus kita lakukan
dengan modifikasi sehingga pada yang kita revitalisasi itu relevan
dengan kemajuan zaman yang sudah banyak mengalami perubahan. Malahan
melalui revitalisasi itu diusahakan agar hasilnya memberi nilai
tambah secara ekonomis bagi warga masyarakat Mandailing. Misalnya
revitalisasi yang dilakukan terhadap seni kerajinan Mandailing harus
dilakukan sedemikian rupa sehingga hasilnya berupa barang-barang
kerajinan diminati oleh pasar tempatan maupun pasar internasional.
Dalam membicarakan revitalisasi kebudayaan Mandailing
kiranya perlu kita ketahui keadaan perujudan kebudayaan agar jelas
bagi kita ujud yang mana dari kebudayaan itu yang perlu kita revitalisasi.
Menurut teori antropologi perujudan kebudayaan
ada tiga macam. Satu perujudan kebudayaan yang abstrak yang disebut
sebagai system nilai budaya atau yang kita kenal sebagai adat istiadat.
Dalam ujud kebudayaan yang demikian itulah berada kaidah-kaidah,
norma-norma dan segala macam aturan yang dijadikan sebagai pancuan
oleh warga masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dalam
menjalani kehidupan mereka dalam bermasyarakat dan dalam menciptakan
segala yang mereka perlukan untuk hidup mereka.
Kedua, perujudan kebudayaan yang berupa perilaku
warga masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dalam bergaul
atau berinteraksi.
Ketiga, perujudan kebudayaan yang bersifat kebendaan
(fisik/material) yang diciptakan oleh warga masyarakat pendukung
kebudayaan yang bersangkutan untuk memenuhi keperluan hidup mereka.
Ujud kebudayaan yang demikian ini disebut kebudayaan fisik atau
kebudayaan material.
Ujud Kebudayaan Mandailing Yang Mana Perlu Direvitalisasi
Setelah kita mengetahui tiga macam ujud kebudayaan seperti yang
dikemukakan di atas, maka kita dapat memilih ujud kebudayaan Mandailing
yang mana yang diprioritaskan untuk direvitalisasi.
Kalau kita hendak menghidupkan kembali nilai-nilai
budaya Mandailing, tentu yang kita prioritaskan untuk direvitalisasi
ialah ujud kebudayaan Mandailing yang berupa sistem nilai budaya
atau adat istiadat Mandailing. Dan kalau kita hendak menghidupkan
kembali hasil kebudayaan Mandailing yang bersifat material, maka
yang kita prioritaskan untuk direvitalisasi ialah kebudayaan material
atau kebudayaan fisik Mandailing. Di dalamnya termasuk seni kerajinan
yang punya kemungkinan untuk memberi penghasilan secara ekonomis
bagi warga masyarakat Mandailing kalau direvitalisasi dengan cara
yang telah dikemukakan terdahulu. Artinya hasil seni kerajinan Mandailing
berupa barang anyaman tradisional, barang tenunan tradisional, ukir-ukiran
tradisional, alat musik tradisional, miniatur bangun-bangunan tradisional
dan sebagainya diciptakan kembali untuk dijual di pasar lokal maupun
di pasar internasional sebagai barang kesenian tradisional Mandailing
atau pun sebagai barang souvenir yang benilai seni tradisional Mandailing.
Kalau kita memprioritaskan untuk merevitalisasi
kedua macam ujud kebudayaan tersebut sekaligus, yaitu sistem nilai
budaya dan kebudayaan material Mandailing, saya kira dalam jangka
waktu yang tidak terlalu lama kita akan dapat melihat kembali ujud
kebudayaan Mandailing yang hidup secara nyata di tengah masyarakat
dan juga keuntungan secara ekonomis dapat kita raih sekaligus.
Pemanfaatan Teknologi Modern
Kalau kita merevitalisasi kebudayaan material Mandailing macam barang-barang
seni kerajinan Mandailing yang dapat diciptakan kembali. Dan barang-barang
seni kerajinan Mandailing cukup exotik sehingga punya prospek yang
sangat baik untuk laku di pasaran domestik, apa lagi di pasar internasional.
Untuk pemasarannya ke dunia internasional kita
dapat memanfaatkan teknologi komputer untuk menawarkannya. Dalam
hubungan ini fasilitas web site yang berbasis di Amerika Serikat
sudah tersedia. Yaitu sebuah laman web site tentang kebudayaan Mandailing
yang telah disediakan oleh Abdur Razzaq Lubis di Penang. Beliau
adalah wakil rasmi Badan Warisan Sumatra di Malaysia dan bekerja
sama dengan Yayasan Pengkajian Budaya Mandailing (YAPEBUMA) yang
sudah berdiri sejak 14 tahun yang lalu. Fasilitas web site tersebut
dapat kami sediakan untuk mempromosikan benda-benda kesenian dan
barang-barang kerajinan Mandailing ke dunia internasional. Artinya
fasilitas yang ada dapat kita gunakan untuk mendukung revitalisasi
kebudayaan Mandailing.
Pusat Revitalisasi Kebudayaan Mandailing
Sebenarnya gagasan untuk mendirikan Pusat Revitalisasi Kebudayaan
Mandailing sudah muncul 14 tahun yang lalu ketika kami mendirikan
Yayasan Pengkajian Budaya Mandailing (YAPEBUMA) dengan mengumpulkan
kurang lebih 90 orang mahasiswa Mandailing dan didukung oleh beberapa
orang donator yang benar-benar mencintai kebudayaan Mandailing dan
ingin mengangkatnya kembali ke permukaan dengan berbagai cara.
Untuk mendukung berdirinya Pusat Revitalisasi Kebudayaan
Mandailing, YAPEBUMA sudah membeli dua hektar tanah yang terletak
di perbatasan antara kawasan Mandailing Julu dan kawasan Mandailing
Godang. Lokasi tersebut sengaja kami pilih, agar kalau sudah berdiri
Pusat Revitalisasi Kebudayaan Mandailing yang dicita-citakan itu
tidak akan menimbulkan persoalan di antara masyarakat Mandailing
di kedua kawasan tersebut. Karena kami ingin agar Pusat Revitalisasi
Kebudayaan Mandailing tersebut dirasakan sebagai kepunyaan bersama
oleh orang-orang Mandailing Julu dan Mandailing Godang mau pun orang-orang
Mandailing di kawasan Batang Natal.
Tapi sayang sekali, selama 14 tahun ini ternyata
masih belum terbuka jalan untuk mengujudkan cita-cita kami mendirikan
Pusat Revitalisasi Kebudayaan Mandailing di lokasi yang sudah lama
kami sediakan itu. Kendala utama yang menjadi penghalang ialah ketiadaan
dana yang diperlukan. Selama ini kelihatannya warga masyarakat Mandailing
boleh dikatakan masih belum menyadari urgensinya merevitalisasi
kebudayaan Mandailing yang sudah cukup lama dan cukup banyak mengalami
erosi. Oleh karena itu, warga masyarakat Mandailing masih enggan
menyumbangkan dana untuk keperluan membangun satu Pusat Revitalisasi
Kebudayaan Mandailing.
Sebenarnya sudah urgen sekali keadaannya untuk
segera mendirikan Pusat Revitalisasi Mandailing, terutama karena
gelombang globalisasi yang makin kuat melanda kita akan mempercepat
terjadinya erosi terhadap kebudayaan Mandailing. Dan kalau kebudayaan
Mandailing terkikis habis oleh gelombang globalisasi itu nanti,
berarti terkikis habislah identitas kita semua sebagai orang Mandailing.
Dalam hal ini, para pakar pengkaji masa depan,
banyak yang sependapat bahwa hanya masyarakat yang berusaha keras
mempertahankan kebudayaannya yang berakar pada tradisi yang akan
dapat bertahan di masa depan dalam menghadapi gelombang pengaruh
globalisasi yang kini sudah mulai datang melanda segala-galanya
di seluruh dunia. Gelombang globalisasi itu mengancam keselamatan
masyarakat yang tidak bisa lagi bertahan karena tidak mempunyai
kekuataan cultural atau kekuatan budaya yang berakar pada tradisi.
Barangkali, insya-Allah sekaranglah waktunya, pada
akhir abad ke 20 ini akan dapat diujudkan cita-cita untuk mendirikan
pusat revitalisasi kebudayaan Mandailing itu, jika warga masyarakat
Mandailing secara bergendengan tangan dengan Pemda (pemerintah daerah)
Madina (Mandailing-Natal) bersedia memberikan segala bantuan yang
diperlukan untuk itu. Yaitu setelah dikemukakan berbagai hal mengenai
cita-cita untuk mendirikan Pusat Revitalisasi Kebudayaan Mandailing
tersebut dalam forum seminar yang terhormat ini untuk diketahui
secara luas oleh warga masyarakat Mandailing, terutama para cendekiawan
dan hartawan Mandailing.
Jika Pusat Revitalisasi Kebudayaan Mandailing itu
sudah berhasil kita bangun, dia akan menjadi milik bersama semua
warga masyarakat Mandailing. Dan akan kita gunakan untuk kepentingan
seluruh warga masyarakat Mandailing, baik yang berada di Tano Rura
Mandailing negeri asal kita, maupun yang berada di wilayah Pasaman,
atau di negeri perantauan dalam negeri dan juga yang berada di Malaysia
dan tempat-tempat lain di seluruh dunia.
Pusat Revitalisasi Kebudayaan Mandailing tersebut
akan kita pergunakan dengan baik untuk menghidupkan kembali kebudayaan
Mandailing dengan pengertian seperti yang telah diuraikan terdahulu.
Terutama dengan melakukan berbagai pelatihan, lokakarya maupun cara-cara
dan metode yang lainnya. Mereka yang sudah memperoleh keahlian dan
ketrampilan di pusat revitalisasi tersebut akan disebar ke seluruh
wilayah Mandailing dan ke tempat-tempat lain di mana mereka bisa
mengembangkan kegiatan untuk menghidupkan kembali kebudayaan Mandailing.
Pusat Revitalisasi Kebudayaan Mandailing tersebut
akan kita jadikan sebagai Community Base Resource Management yang
berfungsi sebagai tempat untuk mengelola berbagai sumber daya yang
dapat memberi manfaat yang kongrit bagi warga masyarakat Mandailing.
Untuk pengembangan Pusat Revitalisasi Kebudayaan
Mandailing tersebut kita akan memcari jalan untuk mendapat dukungan
dan kerja sama dengan berbagai fihak, termasuk fihak luar negeri
yang tertarik dengan usaha-usaha untuk pembinaan kebudayaan tradisional.
Dalam hal ini kita akan tetap mempertahankan sikap dan prinsip yang
idependen dan non-politis.
Sebagai langkah pertama yang konkrit untuk memulia
pembangunan Pusat Revitalisasi Kebudayaan Mandailing, kami dari
pengurus Yayasan Pengkajian Budaya Mandailing (YAPEBUMA) menyatakan
dengan ikhlas bahwa tanah seluas dua hektar milik YAPEBUMA, yang
terletak di pinggir jalan raya lintas Sumatera antara desa Maga
dan Laru di tengah lingkungan alam yang indah pemandangannnya dan
segar udaranya dapat kami serahkan sebagai hibah untuk tempat pembangunan
Pusat Revitalisasi Kebudayaan Mandailing. Dan kami para pengurus
YAPEBUMA menyediakan diri untuk mengelola segala kegiatan yang dilakukan
di Pusat Revitalisasi Kebudayaan tersebut apabila sudah selesai
dibangun. Berbagai hal atau sarat-sarat yang diperlukan untuk menghindarkan
terjadinya keadaan yang tidak diinginkan terhadap proyek tersebut,
kami dari pihak pengurus YAPEBUMA senantiasa bersedia merundingkan
atau membicarakannya dengan pihak-pihak yang akan ikut serta mendukung
pembangunan Pusat Revitalisasi Kebudayaan Mandailing tersebut.
Melalui kesempatan ini kami menyampaikan harapan
dan himbauan agar seluruh warga masyarakat Mandailing yang mampu
dan Pemda Kabupaten Madina bersedia dengan suka rela menyumbangkan
dana yang kita perlukan untuk membangun Pusat Revitalisasi Kebudayaan
Mandailing di lokasi yang sudah kami sebutkan tadi.
Untuk menjamin kelancaran kegiatan Pusat Revitalisasi
Kebudayaan Mandailing tersebut secara berkesinambungan tentu diperlukan
sumber dana yang tetap. Dalam hal ini kami menyarankan agar para
pengusaha warga Mandailing secara bergotong-royong menyediakan satu
sumber dana berupa sebidang kebun karet atau sesuatu yang lain yang
hasilnya secara berkesinambungan dapat di pergunakan untuk biaya
yang diperlukan oleh Pusat Revitalisasi Kebudayaan Mandailing tersebut.
Kalau kegiatan dalam proyek tersebut sudah dapat menghasilkan produksi
yang dapat dijual ke pasaran, hasilnya akan digunakan sepenuhnya
untuk membiayai proyek tersebut.
Kami yakin, kalau Pusat Revitalisasi Kebudayaan
Mandailing tersebut dapat kita dirikan, maka proyek tersebut akan
merupakan suatu karya masyarakat Mandailing yang monumental yang
tercatat dalam sejarah Mandailing sejak awal abad ke-21 yang tak
lama lagi akan kita masuki. Dan insya-Allah dengan adanya Pusat
Revitalisasi Kebudayaan Mandailing yang dapat kita banggakan sebagai
identitas kita akan muncul kembali ke tengah masyarakat pada abad
ke-21 dan seterusnya. Dan tidak mustahil Pusat Revitalisasi Kebudayaan
Mandailing tersebut nanti akan dijadikan model (contoh) oleh kelompok-kelompok
etnis lainnya di Sumatera Utara yang ingin mendirikan pusat revitalisasi
kebudayaan masing-masing.
Sebagai tambahan dapat kami kemukakan bahwa dalam
suatu kesempatan berdialog dengan Bapak Bupati Madina pada bulan
Juli yang lalu, kami sudah memberanikan diri memohon kepada beliau
agar Kotanopan yang tidak terpilih sebagai ibukota Kabupaten Madina
diberi kesempatan untuk jadi pusat pendidikan dan kebudayaan masyarakat
Mandailing. Permohonan tersebut kami dasarkan kepada kenyataan bahwa
pada masa yang lalu Kotanopan memang sudah dikenal sebagai pusat
pendidikan di wilayah Mandailing. Pada masa penjajahan pemerintah
Belanda sendiri sudah memilih Kotanopan sebagai tempat mendirikan
HIS. Dan kenyataan menunjukkan bahwa di berbagai tempat di sekitar
Kotanopan sampai saat ini masih cukup banyak terdapat peninggalan
kebudayaan tradisional Mandailing terutama yang berupa bangunan-bangunan
tradisional yang asli.
Ketika permohonan tersebut kami sampai kepada Bapak
Bupati, Insya-Allah dengan spontan beliau pada prinsipnya menyetujuinya.
Dalam hubungan ini, kalau kita mendirikan Pusat Revitalisasi Kebudayaan
Mandailing di lokasi yang sudah kami sebutkan tadi, maka proyek
tersebut secara kongkrit akan menjadi awal dari terbentuknya pusat
pendidikan dan kebudayaan yang telah kami sebutkan tadi. Dan ini
semua adalah milik bersama dan untuk kepentingan bersama seluruh
warga masyarakat Mandailing. Dengan demikian maka dapat diibaratkan
bahwa Panyabungan adalah Jakartanya Madina dan Kotanopan akan menjadi
Yogjakartanya.
|