""

www.mandailing.org

malaysian / indonesian | english

Melawat Ke Melaka

 

isi

rencana

links

kontak

gambar

gambar lama

 

Melawat Ke Melaka
1920 dan 1921

Buku Melawat Ke Melaka 1920 dan 1921 oleh Ismaíil bin Hadji ëAbdoeíllah ëOemar Effendi adalah siri yang ke 652 terbitan Balai Poestaka, 1924, mengandungi sembilan gambar (foto) dan sebuah peta Semenanjung. (1)

Tetapi Melaka yang dimaksudkan oleh pengarang buku ini ialah Djazirah (tanah menandjoeng), dan bukannya negeri Melaka yang mashur itu. Pendek kata, Melaka pada Ismaíil ialah Semenanjung itu sendiri.

Pengarang mengisahkan perjalanannya dengan kapal layar dari Belawan, pelabuhan kota Medan ke Singapura dan dari kota pelabuhan British itu, Ismaíil merentasi Semenanjung melalui Johor, Melaka, Negeri Sembilan, Kuala Lumpur, Perak, Pulau Pinang, Kedah dan ke Padang Besar, Selatan Siam.

Ismaíil mencatatkan bahawa di Singapura, jamaah haji dari Nusantara yang hendak mengerjakan fardhu Islam yang kelima itu di Makkah dan Madinah, akan mencari Shaikh Haji masing-masing.

ìBiasanja, menoeroet bangsa, Rawa ke Rawa, Menangkabau kesoekoenja, Palembang ke sjech Palembang, Djawa ke sjech Djawa, Mandailing ke sjech Mandailing dan jang lain2 sedemikian poelaî, katanya.

Ini menunjukkan bahawa pada suku pertama abad ke 20 sudah ada Shaikh Haji Mandailing di Singapura yang menguruskan pemergian jamaah haji Mandailing ke tanah suci.

Di Kedah, pusat pengajian Islam ketika itu, pengarang menemui anak-anak Sumatra yang menuntut ilmu agama di sana.
ì...Biasanya orang Soematera datang kenegeri itoe akan menoetoet ëilmoe achirat. Maka masing2 sama hendak bertanjakan hal kampoeng. Sekalian lebai-lebai itoe girang kelihatan, seperti bersoea dengan kawan sekampoeng nampaknja. ìBerdjabat tangan akan bertjerai dengan mereka itoe, sebagai berdjabat tangan dengan sahabat lama rasanja.

ìKedengaranlah lagi logat Rawa, Mandailing, Baroes dan Melajoe Deli. ìHamba hampiri poela lebai-lebai itoe dan hamba berbahasa Mandailing, bahasa Melajoe Baroes. Soenggoeh djadi karib rasanja dengan mereka itoe, memakaikan bahasa-bahasa mereka masing2. Ada jang dari Mandailing, ada jang dari Baroes, tetapi sekaliannja anak-anak moeda belakaî.

Pengkaji masyarakat Mandailing Semenanjung, Donald Tugby mendapati bahawa di antara pengasas-pengasas awal penempatan Mandailing, ada yang datang menuntut ilmu agama di Kedah pada suku akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20, dan kemudiannya membuka kampung-kampung di pantai barat Semenanjung.

ìMasih terdapat sebilangan peribadi Mandailing atau penempatan kecil di Kedah yang moyang mereka datang ke Kedah untuk mengikuti pengajian pondokî, kata Tugby. (2) Tugby mendapati bahawa pintu masuk ke Semenanjung yang kerap digunakan oleh orang Mandailing ialah ìPulau Penangî. Keluar-masuk dari dan ke ìPulau Penangî menjadi bertambah mudah lagi dengan adanya rumah penginapan kepunyaan orang-orang Mandailing khususnya di Acheen Street (Lebuh Acheh sekarang). (3)

Mengenai kedatangan orang-orang Sumatra termasuk orang Mandailing ke Selangor, Ismaíil menulis: ìSebeloem tahoen 1873, jaitoe sebeloem perang Kelang, maka banjaklah orang datang ke Kelang dari Pahang dan Soematera akan mentjahari penghidoepan, memboeka lombong dan melampan mengambil bidjih timah...
ìPerang Kelang jang disoedahi dengan kedatangan orang Inggeris mengambil kekoeasaan dalam negeri, maka banjaklah orang itoe jang lari ke Perak dan kenegeri lain-lain dalam tanah Melaka dan ke Soemateraî.

Menjejaki langkah orang-orang Mandailing ke Perak, Ismaíil mendapati ìsemendjak tahoen 1874 moelailah orang-orang dagang negeri Perak mentjahri kehidoepannja. Apabila ada kesoesahan negeri, toeroetlah mereka itoe dengan ketetapan hati, membela Pemerintah. Apabila ada pendoerhakan dalam negeri, maka toeroetlah mereka mengamankanja. Maka pada tahoen 1892, masa orang kaja pahlawan dinegeri Pahang mendoerhaka pada orang Inggeris serta melawan pada radja disana, maka pemerintah Inggeris meminta pertolongan pada orang dagang jang ada dinegeri Perak, akan mengamankan pendoerhakaan itoe. Karena setia mereka pada pemerintah Perak, maka berangkatlah pasoekan anak dagang kesana, dikepalai oleh almarhoem Tengkoe Radja Bilah; tetapi apabila hampir sampai kesempadan negeri Perak dan Pahang, maka tibalah telegram Inggeris menjoeroeh pasoekan itoe kembali, sebab pendoerhakaan itoe soedah padam.

ìMaka pendoerhakaan itoe berhenti, kerana anak negeri Pahang jang melawan itoe mendapat chabar, bahasa anak dagang, jang soedah masjhoer keberaniannja itoe, akan datang memerangi merekaî.

Berbalik ke awal abad ke 20, Ismaíil melaporkan: ìDi Koeala Loempoer soedah berdiri serikat ëPeranakan Soemateraí, tetapi maksoednja hanya akan beriang-beriang sadja, main gamboes, main voetbal dan lain-lain oentoek orang-orang soerau jang soeka mengadji-ngadji tjara Arab.

ìDalam Perak akan timboel kabarnja serikat orang jang berasal dari Soematera, akan dinamai ëSoematera Unioní. Kepala-kepalanja ialah pemoeda-pemoeda jang mendapat pengadjaran Inggerisî.

Ismaíil berpendapat Sumatra Union itu, dicetuskan oleh ìPendoedoek negeri jang berasal negeri loeran, meskipoen soedah beratoes tahoen tinggal dalam negeri itoe, dibedakan djoega oleh keradjaan dengan jang diseboet anak negeri sedjati... ìPerbedaan itoe kelihatan dalam pekerdjaan dalam negeri; selaloe didahoeloekan anak negeri itoe, seolah-olah ditarik kemoeka, meskipoen kadang-kadang kepandaiannja djaoeh koerang dari pada seorang anak dagang jang meminta pekerdjaan itoe djoegaî.

Nota Kaki
1. Buku ini pernah menjadi sebahagian daripada koleksi perpustakaan H.M. (Raja) Yacob di Rumah Besar, Papan, Perak.
2. Donald Tugby, Cultural Change and Identity: Mandailing Immigrants in West Malaysia, University of Queensland Press, 1977.
3. Bekas Senator, Hajjah Salbiah Mohd Hakim (Lubis) dan Teh Puasa (Lubis), 86, cucu perempuan Raja Bilah, penghulu Papan yang terbilang itu memberitahu bahawa Haji Ahmad Nawas, ëorang kayaí Chemor itu mempunyai dua-tiga pintu rumah kedai di Acheen Street yang disewakan kepada seorang Shaikh Haji yang menguruskan pemergian jamaah haji Mandailing ke tanah suci. Bagaimanapun apabila Tugby melawat Acheen Street pada 1970an, tidak ada lagi orang Mandailing di situ.

>>> kembali ke 'rencana'

The contents of this site is the reponsability of the respective contributors

 

update september 2004